Orangtua Harus Belajar (bag 2)

Saya mungkin termasuk orangtua yang bisa jadi dianggap ‘jadul’ oleh anak saya untuk urusan satu ini:.. main game! Ketika saya kecil dulu, video-game memang barang yang terlalu mewah bagi saya. Beranjak remaja, beberapa kali saya juga lewatkan dengan teman saya bermain game di tempat-tempat umum yang ketika itu banyak menjamur. Tentunya tidak seperti game masa kini yang begitu canggih dan seolah bisa memberikan imagi tiga dimensi yang begitu nyata, game zaman saya dulu hanya terlihat dua dimensi.
Hingga kini, ketertarikan saya terhadap permainan video-game juga biasa-biasa saja. Saya bahkan punya seorang teman sebaya, juga seorang profesional, punya anak dua, yang tidak pernah ketinggalan untuk menjajal game-game komputer atau PlayStation baru. Terhadap urusan permainan video-game ini, saya menganggap dia aneh. Nah, dia juga menganggap saya juga aneh. Hmm..
Anak saya kini menjalani sebuah dunia yang tentunya berbeda dengan dunia ketika saya kecil dulu. Termasuk urusan game ini. Melalui pergaulannya dengan teman di sekolah maupun di lingkungan rumah, saya perhatikan dia termasuk anak yang tidak pernah ketinggalan untuk ingin mencoba permainan ini. Baik itu yang portabel, melalui layar PC, PlayStation melalui televisi, atau pun pemainan game keluarga yang banyak terdapat di pusat-pusat perbelanjaan.
Sampai sekarang, saya belum juga mengabulkan permintaannya untuk punya permainan PlayStation sendiri di rumah. Saya memilih untuk sewa atau pun mengajaknya ke pusat game di pusat perbelanjaan, sekaligus sebagai hadiah setiap kali dia selesai tes atau semacamnya. Karena menurut saya, bagi anak seusianya yang masih belum bisa mengelola waktunya dengan baik. Maka, permainan ini masih lebih banyak memberikan dampak buruk bagi seorang anak daripada dampak baiknya.
Tapi begitulah, saya merasa anak saya melihat saya sebagai sosok yang ’kurang asyik’ bila diajak main game. Selain karena tidak bisa, tidak biasa, juga dari dulu sebuah ‘joy-stick’ rasanya kurang begitu mengasyikkan bagi saya dibanding sebuah keyboard dan memandangi layar berisi bahasa pemrograman website, misalnya. Sehingga untuk urusan game, anak saya lebih suka mengajak temannya ke rumah, atau mengajak main anak lain di pusat permainan game, dari pada mengajak saya main bersama. Entah karena saya dia anggap sebagai lawan main game yang kurang seimbang, atau memang dia bisa mengerti saya.
Tapi ada rasa yang menurut saya kurang benar, ketika suatu kali saya melihat anak saya dengan teman-temannya bermain game PlayStation di rumah. Mereka begitu girang dan antusias bersama, bahkan pada permainan-permainan game yang menyajikan banyak kekerasan dan hal-hal yang menurut saya kurang pantas dilihat oleh anak seusia anak saya. Melarang mereka bermain justru akan menciptakan jarak dengannya untuk urusan satu ini, karena saat ini permainan itulah yang dianggapnya sangat mengasyikan.
Pilihan bagi saya adalah mencoba untuk selalu mendampinginya bermain, sambil memberi pengertian-pengertian kepadanya agar pengaruh buruk adegan dalam permainan game itu tidak terpatri dalam benaknya. Sambil kalau memungkinkan, saya selalu mencoba menarik perhatiannya dengan hal-hal lain, agar permainan game tidak menjadi satu-satunya pilihan yang mengasyikkan baginya untuk melewatkan waktu bermainnya.
Dan itu tidak mudah, agar saya bisa menjadi bagian dari mereka ketika bermain game itu, saya harus banyak mencoba dan belajar sendiri, sehingga menjadi kawan bermain yang sepadan bagi mereka. Dan ketika saya bisa menjadi bagian dari mereka, barulah mereka mau mendengar kata-kata saya, komentar-komentar saya tentang permainan game itu.
Apa yang saya lakukan mungkin bukan satu-satunya pilihan, tapi kita orang tua harus mau untuk selalu belajar agar bisa menjadi bagian dari dunia mereka. Karena anak-anak kita hanya merasa aman dengan kita orangtua, ketika mereka menganggap bahwa kita orangtua bisa dan mau menjadi bagian dari dunia mereka.
 
April 2010,
Pitoyo Amrih [www.pitoyo.com]
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
____________
Untuk membaca bagian pertama, klik ini: Orangtua Harus Belajar (bag 1)

No comments:

Post a Comment