Kegagalan yang Sukses

Ada kegagalan yangsukses dan ada kegagalan yang gagal. Kegagalan jenis pertama adalah syarat mutlak sebuah sukses, sementara kegagalan kedua adalah kekonyolan hidup. Jika yang pertama serupa humus bagi tanaman, yang kedua adalah karat bagi besi. Baik humus maupun karat berpusat pada satu sumber: perilaku. Ada perilaku yang menyuburkan, ada perilaku yang mematikan. Amat berbahaya jika kematian itu berlangsung pelan karena akan membuat korban tenteram di tengah bahaya. Ketika ia tersadar, semuanya sudah percuma. Itulah watak karat yang mengikis besi demikian intens dan pasti.

Maka, marilah melihat jenis perilaku hidup apa saja yang membuat hidup berkarat itu. Saya akan melihat diri sendiri saja biar lebih mudah mencari contoh kasus. Misalnya, malu sekali saya jika mengingat segenap karat baik yang sudah saya lalui maupun yang masih saya lakukan hingga kini. Saat SMP saya pernah gagal menjadi bendahara arisan kelas, karena duit arisan itu ternyata cuma saya habiskan untuk jajan pelan tapi pasti.

Saya memarahi habis-habisan diri sendiri atas perilaku ini. Tidak mudah karena bahkan untuk marah kepada diri sendiri, butuh usaha demikian keras. Jika cuma mengandalkan sanksi pihak lain rasanya tak banyak berarti. Semua jenis sanksi rasanya kecil saja di hadapan hati yang sedang gelap. Sanksi paling efektif ternyata harus bersumber dari kesadaran saya sendiri. Dan kesadaran pertama itu ternyata bukan rasa takut, tetapi rasa malu. Dan malu yang paling menggugah bukanlah malu pada pihak lain tetapi malu kepada diri sendiri.

Saya ingat bagaimana mekanisme malu ini dimulai. Pertama saya disadarkan pada keterbatasan tampang saya sendiri. Walau tidak jelek-jelek amat, tampang saya lebih dekat ke jelek ketimbang ganteng. Di waktu kecil kejelekan itu malah terasa sekali. Bahkan tanpa harus berbuat aib dan salah pun saya sudah biasa grogi tampil dengan tampang pas-pasan ini. Lalu apa jadinya jika sudah tampang rusak, kelakuan ikut pula rusak? Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tapi efeknya fundamental sekali. Pelan-pelan ada dorongan bahwa saya tidak ingin jelek dua kali. Jelek tampang, jelek laku. Saya tidak mungkin mengubah tampang, tapi saya pasti bisa mengubah perilaku.

Membayangkan bahwa saya yang jelek adalah saya yang juga seorang penipu, sungguh menumbuhkan rasa malu yang pekat. Lalu apalagi yang tersisa dalam hidup saya ini jika seluruh nilai itu semuanya rusak. Rasa malu itu saya naikkan intensitasnya dari waktu ke waktu hingga di hari ini. Hasilnya, walau saya tidak bisa menarik kesalahan saya di masa lalu, setidaknya, rasa malu itu membuat saya sanggup meminta maaf di hari ini. Tapi yang terpenting, saya bisa mencegah agar kesalahan yang sama tidak lagi terjadi di hari ini.

Manajemen malu semacam itu sungguh mengubah hidup dan perubahan ini rasanya tidak akan lahir kalau saya tidak pernah membuat aib itu. Jadi ada jenis kegagalan dan bahkan aib sekali pun yang dilahirkan sebetulnya cuma untuk membelokkan manusiake arah yang lebih baik. Jika Anda berhadapan jalan buntu, itulah kesempatan bagi Anda untuk berpikir tentang jalan baru. Itulah kegagalan yang sukses. Jadi kegagalan itu bukan cuma penting, tapi harus. Karena sifatnya yang "harus" inilah, sebuah kegagalan harus disambut dengan tenang dan kalau perlu layak disyukuri. Karena sekali lagi, jika seseorang menemukan jalan buntu, justru itulah saatnya ia harus menemukan jalan baru.

Tapi pernahkah Anda melihat kegagalan yang cuma membuahkan kegagalan baru? Banyak sekali. Di tengah gempuran mal dan minimarket misalnya, jelas bahaya sedang mengepung aneka warung kelontong dari segenap penjuru. Untuk bertahan hidup saja, jelas mereka sudah membutuhkan usaha amat keras. Apalagi jika ia hendak bersaing dan maju. Ia pasti butuh memacu diri habis-habsian. Tetapi jangankan memacu diri, yang terjadi malah banyak sekali gerakan yang mempercepat kematiannya sendiri.

Karena alasan tertentu, sebenarnya saya masih suka belanja di warung kelontong tak peduli betapa sederhana keadaan mereka. Tempatnya yang kusam dan lampu-lampunya yang muram. Tapi saya tegaskan, kepada mereka saya tak meminta banyak (karena itu tak mungkin), cukup asalmereka ramah kepada pembeli, itu saja. Tetapi betapa ada saja penjual yang bahkan keramahan saja tak punya, padahal itulah dagangan terakhir mereka. Jika bahkan peluru terakhir tak lagi dimilki, saya tak melihat ada kemungkinan lagi kecuali terpaksa membiarkannya mati. Itulah kegagalan yang gagal. Kegagalan yang tidak membelokkan arah tetapi sekadar mempertajam arahnya yang telah salah. Contoh yang lebih jelas ialah dengan cara membayangkan orang yang sedang ingin melunasi utang tetapi tidak dengan cara membayarnya melainkan cukup dengan mengeroyok penagihnya. Percayalah, utang orang ini pasti akan beranak-pinak begitu banyaknya, bahkan bersiap memasuki wilayah yang tak terduga.

No comments:

Post a Comment