Si Tikus yang Beruntung

Di sebuah daerah peternakan, hiduplah seorang petani bersama dengan istrinya. Mereka berdua sudah tua dan tinggal di sebuah rumah sederhana. Setiap hari, petani dan istrinya bekerja di ladang yang letaknya tidak jauh dari rumah. Selain memiliki ladang, mereka juga mempunyai seekor lembu, seekor kambing, dan seekor ayam.

Suatu hari, hasil panen yang disimpan di rumah sering rusak dan bahkan berkurang. Setelah diselidiki, ternyata ada seekor tikus yang sering memakan hasil panen mereka.

Si tikus tentu saja senang karena ada banyak makanan yang bisa dimakan. Namun tidak demikian halnya bagi petani. Dengan munculnya tikus, tentu akan membuatnya rugi.

Petani tersebut tidak tinggal diam. Ia mulai memasang perangkap yang di dalamnya berisi makanan untuk menangkap tikus itu. Bukan hanya satu, melainkan ada banyak sekali perangkap yang dipasang di setiap sudut rumah. Hal ini membuat tikus menjadi sedih dan gelisah. Hal ini berarti ia akan kesulitan mencari makanan. Sekali masuk perangkap, maka ia akan mati.

Kemudian tikus pergi mencari ayam. Ia bertanya, "Ayam, aku sekarang tidak bisa mendapatkan makanan lagi karena makanan itu ada perangkapnya. Aku iri padamu karena setiap hari diberi makan. Sedangkan aku harus bersusah payah mencari makan di tempat lain. Aku tidak bisa lagi mendapat makanan di rumah petani itu."

Mendengar keluhan tikus, ayam pun mengejek, "Sungguh malang nasibmu. Siapa suruh kamu jadi tikus! Terima saja nasibmu. Maaf, aku tidak bisa membantumu."

Si tikus pun berlalu meninggalkan ayam. Kemudian ia pergi mencari kambing.

Setelah bertemu dengan kambing, si tikus mencurahkan keluhannya pada kambing.

Si kambing juga memberikan ejekan pada si tikus, "Kasihan sekali dirimu, harus bersusah payah mencari makan. Kamu memang malang. Tidak seperti diriku yang selalu dirawat dan diberi makan. Hidupku sekarang tenang-tenang saja. Apa boleh buat, terima saja nasibmu itu."

Kecewa dengan perkataan kambing, si tikus pun pergi. Selanjutnya ia pergi mencari lembu untuk meminta tolong. Namun, jawaban yang didapat juga mengecewakan.

Si lembu berkata, "Aku benar-benar tidak bisa menolong kamu. Terima saja keadaan ini."

Si tikus bersedih karena merasa tidak seberuntung ayam, kambing, dan lembu. Hidup mereka sungguh enak, bisa makan dan hidup tenang. Sedangkan dirinya setiap saat dalam bahaya karena perangkap telah menunggunya. Jika tidak berhati-hati, maka tamatlah riwayatnya.

Keadaan sulit ini terus berlangsung selama setahun, sampai suatu hari, istri si petani terserang penyakit berat. Hal ini bisa dimaklumi mengingat istrinya sudah tua. Tentu saja tubuhnya menjadi lemah dan sering sakit-sakitan.

Karena istrinya sakit, petani itu hendak membuatkan sup ayam untuknya. Maka, ia mengambil ayam yang ada di rumahnya dan memotong ayam itu untuk dijadikan sup. Tamatlah riwayat ayam tersebut.

Semakin hari, kondisi istrinya semakin memprihatinkan. Kesehatannya terus memburuk. Petani itu pun sadar bahwa istrinya sudah tidak tertolong lagi. Sebagai permintaan terakhir, istrinya ingin sekali makan daging kambing. Ia sudah lama tidak mencicipinya.

Petani itu mengabulkan permintaan istrinya. Kebetulan di rumahnya ada seeokor kambing peliharaan. Maka, dipotonglah kambing itu untuk dimasak. Tamatlah riwayat kambing itu mengikuti jejak ayam.

Selang beberapa hari, istri si petani menghembuskan nafasnya yang terakhir. Penyakit yang dideritanya sudah sedemikian parah dan tidak bisa disembuhkan lagi. Kepergian istrinya membuat si petani menjadi amat sedih. Para tetangganya juga ikut bersedih. Mereka datang ke rumah petani itu untuk menyampaikan rasa turut berduka cita.

Untuk melayani para tamu yang melayat, petani itu menghidangkan makanan pada mereka. Kali ini, yang menjadi korban adalah lembu peliharaannya. Petani itu memotong lembu untuk dijadikan hidangan bagi para tamu yang datang. Lembu yang malang itu terpaksa harus kehilangan nyawa.

 
Setelah mengetahui kabar mengenai ayam, kambing dan lembu, si tikus menjadi sangat sedih. Namun di sisi lain, ia juga bersyukur karena ia masih bisa hidup meski harus bersusah payah mencari makan.

Ia merasa beruntung karena tidak akan dipotong seperti yang terjadi pada ayam, kambing dan lembu. Ia bersyukur masih bisa hidup sampai saat ini. Melalui kejadian itu, si tikus lebih menghargai hidupnya. Ia sadar meskipun merasa malang, ternyata ada yang lebih malang dari dirinya.
 

Pesan kepada pembaca:

Banyak orang yang pada saat tertimpa kemalangan merasa dirinya orang paling menderita di muka bumi. Berbagai kesulitan dalam hidup dimaknai sebagai ketidakadilan yang menimpa dirinya.

Namun ingat, segala sesuatu yang terjadi tidak berarti baik atau buruk. Itu semua tergantung dari cara Anda melihat dan memberi makna pada sesuatu. Jika Anda merasa diri Anda paling menderita, ingatlah banyak orang yang mungkin jauh lebih menderita.

Anda mungkin sering mengeluh, merasa diri tidak seberuntung orang lain. Ingatlah bahwa banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan Anda. Mereka yang tidak beruntung memiliki masalah yang jauh lebih besar. Mereka mungkin sedang berjuang melawan kondisi kehidupan yang jauh lebih parah daripada Anda. Bahkan banyak diantara mereka yang tetap tegar dan tenang dalam menjalani kehidupan mereka. Meskipun badai besar sedang menerpa, mereka berani menghadapi hidup ini dengan ketabahan tanpa keluhan. Jika memang begitu, apakah Anda masih menganggap diri paling menderita?

Bukankah di balik setiap kesulitan, tetap ada hal-hal positif yang bisa Anda syukuri dalam hidup ini? Siapa tahu, suatu saat nanti, setiap kesulitan yang Anda hadapi ternyata membawa Anda menuju hidup yang lebih baik. Saat itulah, Anda akan mensyukurinya.

________________

Email : csd_suhardi@yahoo.com
Facebook page : http://www.facebook.com/pages/Suhardi/146990438691076

No comments:

Post a Comment