Rule Of Engagement

Beberapa hari ini, yang memenuhi berita di media, selain gegap gempita seputar Pilpres, kemudian riuh rendah kasus Manohara, juga diisi dengan kisah klasik tentang beberapa kali kapal tempur Malaysia melanggar batas wilayah di perairan Ambalat. Banyak opini disampaikan, terutama yang banyak saya lihat di blog, jejaring sosial dan sebagainya, dari yang berusaha bersabar, dan mengedepankan dialog dan akal sehat untuk menghindari perseteruan, sampai komentar-komentar yang memerahkan telinga, baik dari pihak Indonesia sendiri maupun pihak Malaysia.
Banyak diantara para pengomentar kita yang cenderung menghakimi angkatan laut penjaga perbatasan Indonesia yang lamban, kurang tegas. Sepertinya para pengomentar itu lupa, bahwa segala hal terutama mengenai sengketa perbatasan, terkait tindakan di lapangan, apalagi pada situasi hubungan dua negara yang sangat kondusif, pastilah ada aturannya, dan semua harus tunduk pada aturan itu. Beberapa hari lalu, di siaran Televisi, dari wawancara salah satu Komandan perbatasan di sana, mengatakan bahwa respon terhadap insiden pelintas batas seperti itu tetap ada aturannya, mereka sebut dengan istilah ‘the rule of engagement’, sifatnya hanya memberi peringatan sambil melakukan pengawalan agar sang pelintas batas berbalik arah. Tembakan hanya dalam rangka untuk membela diri, atau memang sudah mendapat persetujuan dari presiden dan DPR. Dan respon utama yang diberikan adalah melalui diplomasi yang dimotori oleh Departemen Luar Negri.
Kejadian ini bisa kita tarik maknanya pada keseharian kita. Kita manusia, dibekali hati nurani untuk bisa melihat mana yang baik dan tidak baik. Termasuk juga dalah menjalin hubungan dengan orang lain. Bolehlah wilayah ini juga bisa kita beri definisi sama yaitu ‘rule of engagement’, tapi sifatnya mungkin tidak secara hitam putih tertuang dalam sebuah aturan. Karena hal ini sangat tergantung dari etika secara umum, budaya yang ada di masayarakat tersebut, sampai kepada nurani masing-masing orang dalam melihat yang sebaiknya bagaimana.
Cerita pelintas batas Malaysia, sebenarnya bisa menjadi contoh soal bagaimana kita secara umum merespon terhadap sesuatu atau seseorang yang melanggar wilayah hak-hak kita. Pemerintah kita secara institusi representasi rakyat Indonesia, sudah berusaha bersikap elegan untuk memberi contoh kepada kita bagaimana sebaiknya kita bersikap, baik secara kolektif sebagai bangsa dan –yang lebih penting lagi- bagaimana kita secara individu merespon hal-hal seperti ini.
Saya yakin, banyak di keseharian kita, dimana orang lain –entah sengaja atau tidak- melanggar hak-hak kita. Jalur laju kendaraan kita tiba-tiba diserobot, kita yang taat antrian tiba-tiba ada orang nyelonong memotong antrian, melihat ada orang yang memarkir kendaraannya sehingga menutup jalan pintu pagar depan rumah, teman kerja meminjam barang tanpa permisi. Anda boleh membuat daftar, selama satu hari, kejadian apa saja yang anda nilai sebagai sebuah pelanggaran terhadap hak anda oleh orang lain. Dari situ anda juga bisa menuliskan bagaimana respon anda terhadap kejadian itu, mungkin bisa untuk menjadi analisa dan bahan belajar anda sendiri.
Respon atas contoh kejadian diatas, bisa jadi biasanya adalah sebuah respon yang sangat tergantung oleh sesuatu diluar diri anda. Kalau anda lagi enak hati, anda respon baik, kalau anda lagi stress, anda marah-marah. Bila cuaca cerah sejuk, akan berbeda responnya ketika ditengah kemacetan panas terik. Bila orang lain segera meminta maaf, kita pun ikut menjadi baik, tapi bila mereka diam saja atau malah cenderung tinggi hati, anda marah-marah.
Kalau kejadian pelintas batas negara, mungkin memang ada begitu rinci ‘rule of engagement’ yang memandu setiap detail kasus kejadian, beserta prosedur respon. Tapi dalam keseharian kita, tak ada ‘rule of engagement’ tertulis. Yang ada hanya etika, budaya, dan paradigma bagaimana kita melihat itu semua. Dan inilah yang sekaligus bisa menjadi tantangan kita setiap individu, adakah respon kita selalu tergantung pada sesuatu yang ada diluar diri kita, atau kita memiliki nilai-nilai ‘rule of engagement’ sendiri, yang dibangun atas nurani kita. Dan selalu berusaha merespon sesuai nilai-nilai itu, apa pun kejadiannya.

2 Juni 2009
Pitoyo Amrih
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga

No comments:

Post a Comment