Orangtua Harus Belajar (bag 1)

Tidak biasanya sore itu, salah satu tetangga jauh saya datang bertandang, tergopoh, menghampiri istri saya. Dia adalah seorang ibu pengusaha, setiap harinya mengelola sebuah toko grosir yang tidak bisa dianggap kecil, dan hampir selalu, dari pagi hingga malam hari, sang ibu ini berada di tokonya, memimpin semua pegawainya melayani pembeli. Sehingga bisa dimengerti, bila sang ibu tidak begitu memiliki banyak waktu untuk sekedar bersosialisasi dengan tetangga di sekitar rumahnya. Apalagi sampai datang ke rumah saya yang terpisah beberapa blok dari tempat tinggalnya. Kami hanya saling tahu, tapi tak pernah secara khusus saling bicara.
Mungkin karena beliau tahu, bahwa istri saya mengelola on-line store, sore itu, tanpa basa-basi langsung bertanya perihal internet, dan kira-kira apa yang dikerjakan seorang anak sehingga bisa asyik berlama-lama di sebuah warnet. Dia bercerita bahwa anak perempuannya yang menginjak remaja, hampir setiap hari selalu pamit pergi ke warnet beralasan tugas dari sekolah, dan bisa berlama-lama di sana.
Tidak mudah bagi istri saya untuk menjelaskan menjadi bahasa sederhana kepada sang ibu itu, yang memang sepertinya beliau sangat awam terhadap apa itu komputer, apalagi internet. Istri saya coba jelaskan apa itu internet, manfaatnya, dan yang paling penting adalah potensi bahayanya bila kita sebagai orangtua tidak peduli terhadap interaksi yang dilakukan anak-anak kita dengan dunia maya. Karena bisa jadi masalah-masalah yang bisa timbul adalah nyata!
Kejadian sore itu mengingatkan saya pada sebuah artikel headline harian KOMPAS beberapa minggu lalu, yang mewacanakan adanya sebuah predator baru yang setiap saat bisa memangsa anak-anak kita bila kita lengah terhadap apa yang dilakukan mereka. Predator itu adalah dunia maya! Dan baru-baru ini memang banyak contoh soal bagaimana seorang anak dan remaja melakukan hal-hal nekad karena pengaruh interaksi mereka dengan dunia maya.
Ada sebuah istilah dalam artikel itu yang sempat membuat saya merenung panjang. Bukan apa-apa, saya hanya merasakan bahwa istilah itu begitu pas menggambarkan apa yang sedang terjadi. Digital Native, demikian istilah untuk menggambarkan generasi anak-anak kita terhadap keberadaan internet. Kalau kita mau jujur, istilah itu begitu tepat menggambarkan perihal salah satu dunia yang dihadapi anak-anak kita saat ini. Native bisa diartikan sebagai sesuatu hal yang begitu mendarah daging. Sejak lahir sudah seolah hidup di antaranya. Digital adalah sebuah kata ganti akan salah satu wahana komunikasi digital dari selular-phone, komputer, sa mpai dunia internet.
Anak-anak kita lahir dan hidup di mana dunia digital sudah berada di sekelilingnya. Mereka seakan hidup di antaranya, bernafas bersama piranti digital itu, dan merasa tergantung akan hal itu. Kita lihat hampir semua remaja, paling tidak mulai SMP, sudah menjadikan telepon selular sebagai bagian dari dirinya. Internet sudah menjadi tempat bersosialisasi. Sehingga istilah Native bagi mereka terasa begitu tepat menggambarkan.
Beda dengan kita orangtua, yang disitu diistilahkan sebagai generasi Digital Imigrant. Kita orangtua, tergopoh-gopoh belajar menggunakan semua fasilitas dalam telepon genggam kita. Kita orangtua mampu membeli komputer dan biaya koneksi internet, tapi dibutuhkan kemauan belajar yang besar untuk bisa asyik dan hidup di antaranya.
Jangankan di desa atau perkampungan, di kota-kota besar pun, masih banyak generasi orangtua yang gamang untuk mencoba berakrab-akrab dengan komputer dan internet. Terutama pada mereka, yang dalam keseharian, kehidupan atau pun pekerjaan mereka tidak menuntut banyak komunikasi dunia maya digunakan. Sementara anak-anak mereka melalui sekolah, pergaulan antar teman, membuat mereka seolah terlahir dengan istilah-istilah semacam chatting, facebook, yahoo!messenger, twitter, browsing, download, yang begitu akrab dengan telinga mereka.
Pada situasi ini, saya pun setuju dengan istri saya, yang sore itu memberi pendapat kepada tetangga saya, bahwa tiada pilihan yang tersisa buat kita orangtua selain mau belajar untuk berakrab-akrab dengan dunia maya. Sehingga paling tidak nyambung dengan omongan generasi anak-anak kita.
Jangan sampai seorang anak lebih mudah tersenyum dan tertawa di depan layar, daripada ketika bersama dengan orangtua-orangtua mereka…
 
Pitoyo Amrih (www.pitoyo.com) - Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga

No comments:

Post a Comment