Showing posts with label ~ Pendidikan ~. Show all posts
Showing posts with label ~ Pendidikan ~. Show all posts

Mengapa Anak Berperilaku Buruk?

TRIBUNNEWS.COM - Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh ibunya.
Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda.
Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik dibanding rata-rata anak usia 4 tahun.
Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun.
"Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar," kata Lorber.
Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak.
Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan tumbuh menjadi anak berperilaku buruk.
Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik.
Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang baik pada anaknya. "Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting," katanya.

Cara Mengatasi Anak yang Lelet

Disarikan Oleh : Rosidin dari Facebook Anak Sholeh
Dalam Tulisan ini saya mencoba mensarikan bagaimana caranya mengatasi anak yang Lelet terutama dalam melaksanakan aktivitas dia dalam Belajar diantaranya :
1. Ketahuilah yang membuat anak tidak mandiri terbesar adalah pola asuh kita sendiri yakni ketidaktegaan dan ketidaktegasan orang tua untuk anak merasa rugi jika dia tidak melaksanakan agenda-agendanya sendiri secara teratur.
2. Buat kesepakatan dengan anak agar keperluan sekolah sejak kelas 4 SD misalnya sudah harus dia sendiri yang menyiapkan. Ibu tidak akan membantu menyiapkan, bukan karena ibu tak sayang. justru ibu sayang kamu agar kamu dapat menjadi tidak tergantung sama ibu setelah dewasa.
Jika karena perbuatannya berdampak merugikan bagi dirinya sendiri, misalnay sesekali terlambat, bukunya ketinggalan di rumah, pinsilnya ketinggalan. Biarkan anak ibu merasa ‘kerugian’ dan akibat dari perbuatannya itu sendiri. Self consequense ini sangat penting untuk anak terus berubah sikapnya menjadi lebih baik.
persis ketika kamarnya acak2an misalnya. anak2 kelas 4 SD paling telah sudah harus merapikan kamarnya sendiri dan tak boleh dirapikan sama pembantu atau orangtuanya. Saat anak tak mau merapikannya, sesekali biarkan ia merasa tak nyaman dengan kusutnya kamarnya. satu saat ia akan merasakan dampak dari perbuatannya itu misalnya cari barang di kamarnya jadi susah, dst… (lihat tuisan kami sebelumnya berjudul “FOKUSLAH PADA SOLUSI YANG DIKERJAKAN, BUKAN MASALAHNYA”)
3. Jangan banyak nasihat dan ngomong setelah anak merasa kerugian dari akibat perbuatannya: cukup dengan mendengarkannya. biarkan ia mengungkap kesal, marah atau sedihnya setelah itu dukung ia dengan kalimat2 positif dan biarkan ia yang membuat kesimpulan sendiri sehingga akhirnya mendorong ia bertekad sendiri seperti ” abang kesal ya.. jadi gimana bagusnya menurut abang agar abang tak ketinggalan buku lagi ya? abang ada ide?”
kecuali ia meminta pendapat ibu. baru ibu jawab “bagaimana agar tak susah lagi abang siapkan dari sore?”
intinya, jka Anda mau anak Anda berkembang ke arah kemandirian BERIKAN IA KESEMPATAN. Jauhkan dari intervensi. TEgas, tegas dan tegas. Banyak berindak dalam mendidik anak lebih baik daripada banyak ngomongin anak.
Demikianlah kiat kiat bagaimana cara cara mendidik anak kita yang kadang banyak memusingkan kita 700 ( tujuh ratus ) keliling, semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan solusi dalam mengatasi problem kita dalam mendidik anak ke arah kemandirian, sehingga anak kita bisa memahami apa yang diinginkan oleh orang tua-nya, tentunya ke arah perubahan yang lebih baik. Smoga. Amin

Bicara Kepada Hati


By Imas Masitoh; Guru SD SSN Islamic Village
Pernahkah kau merenung saat melihat matahari di siang hari begitu terik menerangi bumi? Pernahkah kau berpikir saat berdiri di pinggir pantai menatapi gulungan ombak di laut yang deburannya terasa menggetarkan hati? Pernahkah terbersit dalam pikiranmu, mengapa itu semua terjadi? Apakah tujuan Allah dalam setiap fenomena alam yang ada?
Allah Maha Kuasa atas matahari yang diciptakanNya untuk membantu aktivitas manusia di bumi agar manusia dapat memanfaatkan segala potensi alam ciptaanNya. Allah Maha Mengetahui atas angin yang dibiarkanNya menggulung ombak dan membuat manusia dapat memanfaatkan segala potensi laut ciptaanNya
Pernahkah kau merenung saat mendapati dirimu masih bisa bernafas hari ini dan merasakan kembali indahnya hidup?
Pernahkah kau berpikir saat berjalan menuju sekolah untuk mengajar dan menyadari bahwa kita adalah seorang guru yang dinanti – nantikan muridnya ?
Pernahkah terbersit dalam pikiranmu, mengapa itu semua terjadi? Apakah tujuan Allah dalam setiap misteri kehidupan yang kau miliki?
Allah Maha Kuasa atas berkahNya yang diberikan pada kita untuk kembali menghirup segarnya kehidupan di hari ini agar kita dapat kembali memperbaiki diri dan sedikit mencoba memperbaiki pembelajan selama ini kepada anak didik kita.
Allah Maha Mengetahui atas karuniaNya yang dianugerahkan pada kita untuk mengajar dan mendidik anak didik kita demi sebuah tugas mulia.
Pernahkah kau bertanya, untuk apa aku menjadi seorang guru ?
Namun, sebelum kita menanyakannya pada Sang Maha Pencipta..
Dia telah menjawabnya dalam Al-Qur’an
“Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaKu”
( Adz_Dzariyat : 56)
Saat kita mampu untuk merenung..
Apa yang Allah inginkan dari kita sebagai seorang Guru?
Apakah untuk sebagai pelarian karena tidak ada pekerjaan lain? Apakah hanya memakmurkan diri sendiri?
Apakah untuk mengambil keuntungan setinggi-tingginya dari murid?
Apakah untuk hal duniawi?
Ingatlah.
Allah memberikan kita amanah untuk menjadi guru dengan tujuan agar kita beribadah padaNya, bukan yang lain…
Karena sejatinya, apapun pekerjaan kita, kita tetaplah hambaNya, khalifah di muka bumi, penerus perjuangan Rasulullah tercinta..
Maka …. yakinlah dengan profesi kita sebagai guru . Dengan keyakinan akan menghantarkan kita pada tujuan hidup hakiki. Yakinlah, bahwa jika kita tidak menjadi guru, segalanya tidak akan berjalan dengan baik, bahkan dunia pendidikan akan pincang?
Kalau kita masih penuh dengan keraguan.
Yuk…. kita bersama – sama mengucapkan “ Alhamdulillah “
Karena kita masih mendapatkan kesempatan untuk berfikir ulang terhadap diri kita
dan profesi kita.
Ibarat kita membangun kembali rumah yang pondasinya sudah ada tapi karena kita akan membangun dengan lebih besar, lebih banyak beban maka semestinya fondasinya kita cek kembali. Mampukah ia menahan beban yang berat ? jika tidak, saatnyalah kita memperkuat fondasinya kembali.
Fondasi bagi perkembangan diri kita adalah cara pandang
dan keyakinan kita terhadap profesi kita.
jika cara pandang kita sudah baik, maka apapun rencana perubahan pengajaran
dan perkembangan profesi yang akan dijalani tidak akan bermasalah.
Merenunglah dan ciptakan rasa syukur
karena kita dilahirkan dua kali. Pertama, melalui rahim ibu kita
kedua, melalui keyakinan hidup kita. Kelahiran kedua inilah yang akan membuat kita menjadi manusia utuh.
Rasa syukur akan memberi kita peluang lebih untuk terus menegakkan keyakinan hidup kita,
sampai kita memperoleh output terbaik. Rasa syukur memberikan kesempatan untuk secara pro– aktif memperbaiki diri kita secara terus menerus karenanyalah kemampuan dan kekayaan akan menjadi teman untuk kebaikan pengajaran kita.
Manusia – manusia yang mengalami krisis iman dan keyakinan selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, dan kehinaan. Tak ada sesuatu yang dapat membuat kebahagiaan jiwa kita, membersihkannya, menyucikannya selain keyakinan pada hidup dan keimanan kepada Allah.
“ Barangsiapa mengerjakan amal sholeh, baik laki – laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “.
( Q.S. An – Nahl : 97 )
Kita menjadi guru untuk menciptakan generasi penerus, menjadikan anak didik kita mujahid – mujahidah yang tangguh dengan azzam kuat demi ibadah kepadaNya..
Kita menjadi Guru karena Allah Maha Kuasa atasnya.

Teacher is …



Berikut ini ada 6 definisi Guru menurut Tony Buzan, Inventor Mind Map dan  seorang ahli manajemen otak, yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru berperan dalam ‘pendidikan’.
1. Teacher is primarily responsible for the future.
Guru paling bertanggung jawab akan masa depan. Bagaimana memanfaatkan ‘kuasa’ ini menjadi signifikan, karena ini adalah kutukan dan berkat menjadi seorang guru.
2. Teacher is the rescuer of human creativity.
Guru adalah penyelamat kreativitas umat manusia. Tony Buzan berbicara mengenai sebuah riset tentang kreatifitas. Riset ini menghitung kreatifitas manusia dalam usia tertentu. Hasil yang diperoleh ternyata cukup menarik. Skor kreativitas anak TK ternyata 95 plus! Anak SD 75, anak SMP-SMA 50, anak kuliahan 25, dan orang dewasa 10 (bahkan ada yang minus!). Beliau mengacu kepada sistem pendidikan selama ini. Katanya, ini bukan karena kegagalan pendidikan, ini akibat ‘pendidikan yang buruk, karena menurutnya ‘pendidikan yang baik’ tidak akan gagal. Menurut Tony, jika pendidikan dan proses belajar dilakukan dengan benar, maka seharusnya otak manusia itu akan menjadi semakin baik-semakin kreatif seiring bertambahnya usia.
Hal tersebut dapat ditunjukkan oleh ‘genius-genius’ dalam sejarah. Verdi seorang komponis terkenal masa lalu membuat komposisi terbaiknya dalam usia 90an tahun, begitu pula dengan Mozart dan Beethoven. Leonardo da Vinci atau Thomas Edison juga semakin banyak menemukan ‘temuan-temuan’ di usia ‘senja’. Salah satu contoh mutakhir ada di Italia, Rita Levi Montalcini, ilmuwan peraih nobel bidang kedokteran yang telah berusia seabad (tepat pada 20 April 2009). Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa dirinya merasa ingatannya menjadi semakin tajam dibandingkan kala ia berusia 20 tahun, Rita dianugrahi kehormatan sebagai ‘senator seumur hidup’ oleh pemerintah Italia (Koran Tempo, 20 April 2009, halm.B8 kolom 1). Jadi, mereka semua itu cocok dengan peribahasa: ‘tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi!’
3. Teacher has the privilege of helping the students mine the gold mind.
Guru adalah orang yang memiliki kesempatan untuk membantu siswa memiliki otak yang luar biasa. Tony Buzan menceritakan perkembangan umat manusia dari era ke era, mulai dari 10ribu tahun lalu era agrarian, 200 tahun lalu era industri, era informasi (50 tahun lalu), era pengetahuan (17 tahun lalu), era manajer pengetahuan (otak atau kecerdasan). Kita merasakan informasi menjadi terlalu banyak (information overload) dan semakin banyak sejak era informasi, dalam era pengetahuan kita mencari cara bagaimana kita dapat me-manage pengetahuan itu, tetapi hal itu belum dapat menjadi solusi yang efektif selama kita belum dapat me-manage si manager pengetahuan itu sendiri yaitu otak (kecerdasan)! Dalam ESN ini ada seorang anak yang berkesempatan memberitahukan manfaat ‘mind map’ dalam meningkatkan nilainya di sekolah. Si anak berkata dulu ia hanya mendapatkan nilai 4 di sekolah dan setelah menggunakan metode ‘mind map’ untuk belajar ia mendapatkan nilai 9! Orangtua si anak sempat dipanggil oleh kepala sekolah karena ‘lompatan’ prestasi anaknya ini…
4. Teacher is the person who helps the students nurtures the gardens of multiple intelligences.
Guru adalah orang yang membantu siswa membesarkan kecerdasan majemuk mereka. Tony Buzan menyatakan bahwa saat ini manusia berada dalam era kecerdasan majemuk. Guru sebaiknya mengerti bagaimana mengintegrasikan proses belajar sedemikian rupa sehingga siswa berkesempatan menumbuhkembangkan seluruh potensi kecerdasan majemuk dalam diri mereka masing-masing. Tidak melulu kecerdasan verbal dan numerical, tetapi juga bagaimana mengembangkan potensi kecerdasan fisik (how to stay fit) dan sensory (visual-auditory-kinesthetic), kecerdasan sosial (how to make friends), kecerdasan personal (how to be a good friend, be confident), kecerdasan spiritual (termasuk peduli lingkungan, sadar akan nilai moral dan etika). Seorang rekan Tony Buzan juga menyatakan bahwa di masa depan, sekolah-sekolah akan menghadapi persoalan tentang bagaimana mereka mengakomodasi filosofi kecerdasan majemuk ini dalam sistem mereka.
5. Teacher is shepherd of daydreams who works with students to help make it come true.
Guru adalah penuntun impian siswa dengan membantu mereka menentukan apa yang berharga untuk mereka impikan dan mewujudkan apa yang mereka impikan. Menurut Tony Buzan, ‘bermimpi/melamun’ adalah sebuah skill dalam otak manusia yang terletak di otak bagian kanan (seperti ditemukan Prof.Roger Sparry seorang peraih nobel). Jadi guru didorong untuk ‘memandu’ lamunan/impian siswa dan memanfaatkannya dalam proses belajar.
6. Teacher is the person who launches the child on the exploration of its own infinite universe.
Guru adalah seorang yang mampu melepaslandaskan siswanya dalam mengeksplorasi dunia dan masa depan mereka yang tanpa batas. Otak tidak bekerja secara sebelah-sebelah. Otak kiri dan kanan bekerja secara sinergis. Jika saja guru tahu bagaimana membuat kedua belahan otak seorang siswa saling bersinergi maka si guru akan berhasil membebaskan ‘kreatifitas tidak terbatas’ siswa tersebut.
Silahkan dishare pendapat Tony Buzan tersebut. Atau mungkin Anda akan menambahkan definisi lain, monggo !

Guru yang Kreatif


Lima langkah berikut bisa membantu Anda menjadi Guru yang Kreatif.
1. Guru menciptakan susasana kelas yang aman dan nyaman secara emosional dan intelektual
Terkadang siswa punya banyak pertanyaan dibenaknya, tetapi ada semacam perasaan malu dan takut, dikira bodoh jika melontarkan pertanyaan. Sebagai guru, kerja keras kita salah satunya adalah menciptakan kelas yang memberikan keamanan secara emosional bagi siswa. Memang agar menjadi siswa yang percaya diri mereka perlu mengambil resiko, tetapi di lingkungan yang tidak mendukung kenyamanan secara emosional, siswa akan berpikir 1000 kali untuk mau bertanya dan berpendapat.
Anda juga bisa membuat peraturan kelas yang isinya antara lain ‘Tidak boleh merendahkan atau meremehkan pendapat orang lain’ Jangan lupa anda juga memberi contoh dahulu kepada siswa untuk mengucapkan terima kasih dan menghargai untuk setiap pertanyaan, atau pendapat dari siswa anda. Jika ini terjadi dikelas anda, dijamin kelas akan berubah menjadi kelas yang setiap individu didalamnya saling mendukung dan mudah untuk berkolaborasi dalam berpengetahuan.
Tidak hanya sampai disitu saja, kelas yang membuat guru menjadi guru kreatif semestinya juga aman secara intelektual. Siswa bisa mandiri dan mengerti dimana letak alat tulis, dikarenakan semua hal dikelas sudah disiapkan dengan rapih dan terorganisir. Siswa tahu apa yang harus dikerjakan dikarenakan instruksi penugasan yang jelas oleh guru. Tidak hanya jelas tetapi juga menantang dengan demikian siswa bisa mengekpresikan kemampuannya dalam mengerjakan tugas yang guru berikan.
2. Guru mengukur dengan hati, seberapa besar keterlibatan (engagement) siswa dalam tugas yang ia berikan.
Saya jadi ingat sebuah pertanyaan yang bersifat reflektif mengenai cara kita mengajar dan membelajarkan siswa. Pertanyaan nya begini “Jika saya adalah murid saya sekarang, seberapa senang saya diajar oleh guru seperti saya?”
Seorang guru yang ahli mampu menciptakan suasana kelas yang aktif dalam pembelajaran di kelas yang diajarnya dalam presentasi keterlibatan yang penuh alias 100 persen. Artinya, misalkan seorang guru mengajar selama 40 menit, maka selama 40 menit itu pulalah, siswa belajar dengan aktif dan terlibat penuh dalam pembelajaran.
Tentu tidak dalam semalam semua guru bisa 100 persen menciptakan kelas yang aktif. Namun membutuhkan latihan dan latihan. Tetapi jalan kesana akan lebih cepat apabila kita mau jujur bertanya pada diri sendiri “Seberapa besar siswa aktif atau terlibat penuh dalam pembelajaran yang saya lakukan?”.
3. 5 menit terakhir yang menentukan
Jadikan 5 menit terakhir pembelajaran anda untuk merangkum, berbagi atau berefleksi mengenai hal yang siswa sudah lakukan selama pembelajaran. Bagilah menjadi dua pertanyaan besar, misalnya bagian mana yang paling berat dilakukan dan susah dimengerti. Pertanyaan selanjutnya, pengetahuan baru apa yang kamu dapatkan hari ini? Dengan demikian membuat siswa berdialog dengan dirinya sendiri mengenai proses belajar yang telah dilakukannya.
4. Guru menciptakan budaya menjelaskan, bukan budaya asal menjawab dengan betul.
Ciri-ciri sebuah pertanyaan yang baik adalah pertanyaannya hanya satu tetapi mempunyai jawaban yang banyak. Bandingkan dengan jenis pertanyaan yang hanya mempunyai satu jawaban. Hal yang terjadi siswa akan berlomba menjawab dengan benar dengan segala cara. Termasuk mencontek misalnya.
Sebagai guru budayakan pola perdebatan atau percakapan akademis di kelas kita. Saat mendengarkan rekan mereka berbicara dan berargumen, mereka akan belajar memilih dan membandingkan pendekatan atau cara yang orang lain lakukan untuk menjawab sebuah masalah yang guru berikan.
Sebagai guru saat memberikan soal berikanlah siswa beberapa peluang kemungkinan dalam menjawab sebuah soal. Misalnya soal yang bapak berikan ini punya tiga alternatif, bisa kah kamu menemukan ketiga-tiganya?
5. Guru mengajarkan kesadaran siswa dalam memandang sebuah pengetahuan.
Saat mengajarkan siswa, dikarenakan keterbatasan kita, terkadang kita sudah membuat mereka menebak atau mengarang-ngarang sebuah jawaban demi mendapatkan hasil yang benar. Hal ini siswa lakukan secara sadar atau tidak sadar. Untuk itu mari kita letakkan gambar dibawah ini disamping soal yang kita berikan kepada siswa di kertas soal.

(Sumber : http://jisc.eramuslim.com/gentong_ilmu)

Pendidikan Adalah Proses Memuliakan Manusia

Penulis:  Drs. Rosidin,  Guru Ciri Khas SMA Islamic Village Tangerang Banten
” Pendidikan adalah Proses Memanusiakan Manusia ” Pada dasarnya manusia memiliki Fitrah kemanusiaan yang cenderung kepada hal-hal yang baik dan serba ingin tahu, namun di sisi lain manusia terkadang menjadi beringas, tamak dan rakus melebihi nafsu hewani yang justru bisa merusak unsur unsur kemanusiaan yang ada dalam dirinya sendiri.
Lalu untuk memanusiakan manusia diperlukan usaha yang sungguh sungguh, sistematis dan terprograma, untuk mencapai usaha tersebut yaitu melalui proses pendidikan sebab pendidikan itu pada hakikatnya adalah pembentukan prilaku hidup yang menumbuhkan, memupuk dan membangun fitrah manusia sehingga ia sanggup menjadi manusia yang sebenarnya manusia yaitu minimal bisa hidup mandiri, wajar dan bermanfaat bagi manusia lain ” ANFA’UHUM LIN NAS”
Dalam diri manusia itu terdapat arketipe yang disebut wanderer atau pengelana baik secara fisik maupun intelektual, rasa ingin tahu selalu menggerakan seseorang tidak tinggal diam. Dengan demikian sepanjang sejarah manusia selalu terlibat dalam petualangan intelektual, melakukan trial and eror, walau bersifat coba coba dan salah. Hal tersebut merupkan gambaran jiwa manusia yang selalu mencoba dan menggali hal hal baru dan harus siap menerima kegagalan. Setiap generasai yang lahir meneruskan petualangan intelektual generasi berikutnya, sehingga horizon pengetahuan dan pengalaman manusia selalu melebar dari zaman ke zaman . Proses pelebaran batas pengetahuan inilah yang disebur “research” yaitu menggali dan menggali pengetahuan yang tersembunyi sehingga frontier ( garis perbatasan ) dari khazanah penngetahuan yang terus diraihnya terus melebar. Dalam ilmu, dibedakan antara “frontier” dan “limit” (garis akhir) sehingga dibalik perbatasan ilmu ( frontier ) masih terbentang wilayah riset yang menyimpan ilmu pengetahuan yang belun tergali.
Kesadaran akan perbedaan antara garis perbatasan dan garis batas ini adalah analogi dengan kesadaran bahwa akal manusia terbatas, tetapi tidak tahu persis sampai di mana batas akhir kemampuan akal untuk berpikir dan memproduksi pengetahuan baru. Disisi lain rasa keingin tahuan seseorang bisa dimanfaatkan oleh para pemberi suplay nilai (guru) sehingga bisa memberi dampak dan berpengaruh pada pendidikan anak, dalam hal ini pendidikan agama harus menjadi prioritas utama dalam menentukan alur kehidupan anak didik, namun perlu penulis garis bawahi bahwa penanaman nilai keagamaan kepada anak bukan sekedar memberi pemahaman tentang ibadah ritual saja sementara aplikasi dalam kehidupan sehari hari tidak dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan oleh system nilai itu sendiri, sebab agama langit ini benar-benar harus menancap di bumi, yakni hadir dalam hati manusia, sehingga apa yang menjadi tindakan dan prilakunya akan mewarnai kehidupan dirinya dan mewarnai etika serta norma yang berlaku di masyarakat, jika hal ini bisa kita lakukan maka pengaruh pendidikan agama terhadap pendidikan anak benar benar akan terwujud.
Kenapa pendidikan agama dalam hal ini menjadi penting dalam mempola pendidikan anak , jawabannya adalah, hal ini akan menjadi penting, apabila dalam menanamkan pendidikan agama tidak sekedar penanaman nilai ibadah dalam penegertian yang sempit ( hanya ibadah ritual saja ), Bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an yang menerangkan kehidupan social ketimbang tentang ibadah mahdhoh, bahkan dalam referensi apapun termasuk di dalam petunjuk Ilahi bahwa dalam menjalani kehidupan ini diperlukan kecerdasan spritual dan kecerdasan sosial , mari kita lihat kontek ayat di bawah ini , tercantum dalam Al Qur’an Surat Ass Shaff ( 61 ) : 10 – 11
10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Dari pernyataan ayat di atas memberikan gambaran dan pelajaran bagi kita bahwa ternyata Islam adalah agama kehidupan yang sangat membumi, artinya kehidupan ini akan baik tertib dan teratur apabila kita mau diatur oleh ajaran Ilahi yang sangat Universal dan General ” Rahmatan Lil ‘alamin”. Selain itu Islam tidak sekedar mengatur pola peribadatan ritual saja seperti Sholat, Zakat, Puasa dan Hajji saja, akan tetapi Implementasi dari Ibadah ritual tadi sungguh sangat berperan serta dalam mengatur kehidupan bermasyarakat baik yang bersifat pribadi ( Personality ) sampai yang bersentuhan lansung dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. ( Kolektifitas )
Persoalannya sekarang adalah maukah kita memahami dan mengamalkannya. Sementara selama ini sebagaian besar pemahaman terhadap agama presefsinya hanyalah mengatur Ibadah ritual saja, sedangkan esensi dari pelaksanaan dari ibadah ritual harus diimplementasikan terhadap kehidupan sehari hari.
Pemahaman kita selama ini tentang pengertian orang yang sholeh adalah orang yang rajin dalam melaksanakan ibadah ritual saja, seperti sholat zakat puasa dan sebagainya sehingga kita larut dalam ibadah mahdhoh, namun disisi lain ada ibadah social yang yang terabaikan seperti kelaparan, kemiskinan, pengangguran hingga persoalan dunia Internasional.
Oleh karena itu, untuk meluruskan pemahaman tersebut mari kita tanamkan kepada anak didik kita bahwa pendidikan merupakan pembentukan prilaku hidup, maka peranan Pendidikan agama akan sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak apabila paradigma berpikir yang sudah menjadi keyakinan itu sedikit demi sedikit kita perbaiki, disisi lain para praktisi pendidikan dan penyelenggara pendidikan seiring sejalan bersama sama menjadi Qudwah ( Contoh prilaku yang menjadi panutan anak didik ) Selain dari itu karena pendidikan menumbuhkan, memupuk dan membangun Fitrah manusia ( anak didik ) maka peranan Guru harus menjadi motivator dan innovator terhadap anak didiknya, dengan kata lain dramatisasi guru di hadapan anak didik peranannya jangan sampai kalah perannya dengan acara enterteiment di Televisi seperti; INBOX di SCTV, DAHSYAT di RCTI, MANTAP di ANTV dan bahkan yang sedang merajalela di dunia maya adalah FACEBOOK, kesemuanya itu cukup melingkari kehidupan anak didik kita. Hal tersebut di atas sudah barang tentu tidak bisa kita pungkiri dan kita hindari karena memang itu sudah merupakan bagian dari perjalanan dunia dan putaran kehidupan yang terus berjalan dan berputar.
Dengan demikian segera kita sadari bersama bahwa Pendidikan adalah usaha mulia dalam membangun Fitrah kemanusiaan, maka sekali lagi Guru sebagai Pendidik sudah semestinya mengambil perananan yang oftimal dalam memupuk ruh, jiwa akhlak mulia, kesadaran dan kedisiplinan, sehingga Proses Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia akan berpengaruh terhadap pendikan anak.
Lalu kenapa ruh yang menjadi bidikan kita dalam mendidik, karena selain ruh berasal dari Allah juga di dalam ruh ada fitrah kemanusiaan yang cenderung suci dan baik, disisi lain ruh memerlukan konsumsi yang sangat sacral yakni pendidikan agama, dengan kata lain seberapa gemerlapnya kehidupan dunia material, betapa majunya dunia teknologi informasi ( IT ), ruh tetap memerlukan makanan dunia kebenaran dan dunia kejujuran, sikap kamuflase,munafik dan oportunis adalah limbah kehidupan imaterial yang tidak diperlukan oleh ruhani kita. Oleh sebab itu di sini ada lorong yang kosong untuk memerankan pendidikan agama dalam proses pendidikan anak baik usia dini maupun usia remaja dan dewasa, pendidikan agama akan menjadi penting apabila kita mampu menangkap dengan cerdas kebutuhan ruhani tadi selama konsumsi keruhanian itu diperlukan dan pasti diperlukan karena energi ruhani bisa digerakan apabila diberi makanan ruh ilahiyah yang teramu dalam pendidikan agama itu sendiri.
Dalam hal ini penulis bukan berarti mengesampingkan arti penting pendidikan di luar pendidikan agama, bahkan sekiranya masih ada dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum mungkin bisa dikatakan paradigma pemikiran yang keliru, karena semua ilmu berasal dari Allah, sekalipun kiranya masih ada pemikiran yang begitu, mungkin yang dimaksud pendidikan umum adalah pelajaran umum yang terangkum dalam pelajaran exact, ilmu ilmu sosial dan sebagainya. Sebenarnya pemikiran kita tidak akan terdikotomi apabila semua pelajaran yang dianggap umum tadi diwarnai dengan nilai nilai Ilahiyah.
PENDIDIKAN ADALAH PROSES MEMANUSIAKAN MANUSIA
Created By : Rosidin, Drs.
Guru Ciri Khas SMA ISLAMIC VILLAGE
TANGERANG – BANTEN
” Pendidikan adalah Proses Memanusiakan Manusia ” Pada dasarnya manusia memiliki Fitrah kemanusiaan yang cenderung kepada hal-hal yang baik dan serba ingin tahu, namun di sisi lain manusia terkadang menjadi beringas, tamak dan rakus melebihi nafsu hewani yang justru bisa merusak unsur unsur kemanusiaan yang ada dalam dirinya sendiri.
Lalu untuk memanusiakan manusia diperlukan usaha yang sungguh sungguh, sistematis dan terprograma, untuk mencapai usaha tersebut yaitu melalui proses pendidikan sebab pendidikan itu pada hakikatnya adalah pembentukan prilaku hidup yang menumbuhkan, memupuk dan membangun fitrah manusia sehingga ia sanggup menjadi manusia yang sebenarnya manusia yaitu minimal bisa hidup mandiri, wajar dan bermanfaat bagi manusia lain ” ANFA’UHUM LIN NAS”
Dalam diri manusia itu terdapat arketipe yang disebut wanderer atau pengelana baik secara fisik maupun intelektual, rasa ingin tahu selalu menggerakan seseorang tidak tinggal diam. Dengan demikian sepanjang sejarah manusia selalu terlibat dalam petualangan intelektual, melakukan trial and eror, walau bersifat coba coba dan salah. Hal tersebut merupkan gambaran jiwa manusia yang selalu mencoba dan menggali hal hal baru dan harus siap menerima kegagalan. Setiap generasai yang lahir meneruskan petualangan intelektual generasi berikutnya, sehingga horizon pengetahuan dan pengalaman manusia selalu melebar dari zaman ke zaman . Proses pelebaran batas pengetahuan inilah yang disebur “research” yaitu menggali dan menggali pengetahuan yang tersembunyi sehingga frontier ( garis perbatasan ) dari khazanah penngetahuan yang terus diraihnya terus melebar. Dalam ilmu, dibedakan antara “frontier” dan “limit” (garis akhir) sehingga dibalik perbatasan ilmu ( frontier ) masih terbentang wilayah riset yang menyimpan ilmu pengetahuan yang belun tergali.
Kesadaran akan perbedaan antara garis perbatasan dan garis batas ini adalah analogi dengan kesadaran bahwa akal manusia terbatas, tetapi tidak tahu persis sampai di mana batas akhir kemampuan akal untuk berpikir dan memproduksi pengetahuan baru. Disisi lain rasa keingin tahuan seseorang bisa dimanfaatkan oleh para pemberi suplay nilai (guru) sehingga bisa memberi dampak dan berpengaruh pada pendidikan anak, dalam hal ini pendidikan agama harus menjadi prioritas utama dalam menentukan alur kehidupan anak didik, namun perlu penulis garis bawahi bahwa penanaman nilai keagamaan kepada anak bukan sekedar memberi pemahaman tentang ibadah ritual saja sementara aplikasi dalam kehidupan sehari hari tidak dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan oleh system nilai itu sendiri, sebab agama langit ini benar-benar harus menancap di bumi, yakni hadir dalam hati manusia, sehingga apa yang menjadi tindakan dan prilakunya akan mewarnai kehidupan dirinya dan mewarnai etika serta norma yang berlaku di masyarakat, jika hal ini bisa kita lakukan maka pengaruh pendidikan agama terhadap pendidikan anak benar benar akan terwujud.
Kenapa pendidikan agama dalam hal ini menjadi penting dalam mempola pendidikan anak , jawabannya adalah, hal ini akan menjadi penting, apabila dalam menanamkan pendidikan agama tidak sekedar penanaman nilai ibadah dalam penegertian yang sempit ( hanya ibadah ritual saja ), Bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an yang menerangkan kehidupan social ketimbang tentang ibadah mahdhoh, bahkan dalam referensi apapun termasuk di dalam petunjuk Ilahi bahwa dalam menjalani kehidupan ini diperlukan kecerdasan spritual dan kecerdasan sosial , mari kita lihat kontek ayat di bawah ini , tercantum dalam Al Qur’an Surat Ass Shaff ( 61 ) : 10 – 11
10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Dari pernyataan ayat di atas memberikan gambaran dan pelajaran bagi kita bahwa ternyata Islam adalah agama kehidupan yang sangat membumi, artinya kehidupan ini akan baik tertib dan teratur apabila kita mau diatur oleh ajaran Ilahi yang sangat Universal dan General ” Rahmatan Lil ‘alamin”. Selain itu Islam tidak sekedar mengatur pola peribadatan ritual saja seperti Sholat, Zakat, Puasa dan Hajji saja, akan tetapi Implementasi dari Ibadah ritual tadi sungguh sangat berperan serta dalam mengatur kehidupan bermasyarakat baik yang bersifat pribadi ( Personality ) sampai yang bersentuhan lansung dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. ( Kolektifitas )
Persoalannya sekarang adalah maukah kita memahami dan mengamalkannya. Sementara selama ini sebagaian besar pemahaman terhadap agama presefsinya hanyalah mengatur Ibadah ritual saja, sedangkan esensi dari pelaksanaan dari ibadah ritual harus diimplementasikan terhadap kehidupan sehari hari.
Pemahaman kita selama ini tentang pengertian orang yang sholeh adalah orang yang rajin dalam melaksanakan ibadah ritual saja, seperti sholat zakat puasa dan sebagainya sehingga kita larut dalam ibadah mahdhoh, namun disisi lain ada ibadah social yang yang terabaikan seperti kelaparan, kemiskinan, pengangguran hingga persoalan dunia Internasional.
Oleh karena itu, untuk meluruskan pemahaman tersebut mari kita tanamkan kepada anak didik kita bahwa pendidikan merupakan pembentukan prilaku hidup, maka peranan Pendidikan agama akan sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak apabila paradigma berpikir yang sudah menjadi keyakinan itu sedikit demi sedikit kita perbaiki, disisi lain para praktisi pendidikan dan penyelenggara pendidikan seiring sejalan bersama sama menjadi Qudwah ( Contoh prilaku yang menjadi panutan anak didik ) Selain dari itu karena pendidikan menumbuhkan, memupuk dan membangun Fitrah manusia ( anak didik ) maka peranan Guru harus menjadi motivator dan innovator terhadap anak didiknya, dengan kata lain dramatisasi guru di hadapan anak didik peranannya jangan sampai kalah perannya dengan acara enterteiment di Televisi seperti; INBOX di SCTV, DAHSYAT di RCTI, MANTAP di ANTV dan bahkan yang sedang merajalela di dunia maya adalah FACEBOOK, kesemuanya itu cukup melingkari kehidupan anak didik kita. Hal tersebut di atas sudah barang tentu tidak bisa kita pungkiri dan kita hindari karena memang itu sudah merupakan bagian dari perjalanan dunia dan putaran kehidupan yang terus berjalan dan berputar.
Dengan demikian segera kita sadari bersama bahwa Pendidikan adalah usaha mulia dalam membangun Fitrah kemanusiaan, maka sekali lagi Guru sebagai Pendidik sudah semestinya mengambil perananan yang oftimal dalam memupuk ruh, jiwa akhlak mulia, kesadaran dan kedisiplinan, sehingga Proses Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia akan berpengaruh terhadap pendikan anak.
Lalu kenapa ruh yang menjadi bidikan kita dalam mendidik, karena selain ruh berasal dari Allah juga di dalam ruh ada fitrah kemanusiaan yang cenderung suci dan baik, disisi lain ruh memerlukan konsumsi yang sangat sacral yakni pendidikan agama, dengan kata lain seberapa gemerlapnya kehidupan dunia material, betapa majunya dunia teknologi informasi ( IT ), ruh tetap memerlukan makanan dunia kebenaran dan dunia kejujuran, sikap kamuflase,munafik dan oportunis adalah limbah kehidupan imaterial yang tidak diperlukan oleh ruhani kita. Oleh sebab itu di sini ada lorong yang kosong untuk memerankan pendidikan agama dalam proses pendidikan anak baik usia dini maupun usia remaja dan dewasa, pendidikan agama akan menjadi penting apabila kita mampu menangkap dengan cerdas kebutuhan ruhani tadi selama konsumsi keruhanian itu diperlukan dan pasti diperlukan karena energi ruhani bisa digerakan apabila diberi makanan ruh ilahiyah yang teramu dalam pendidikan agama itu sendiri.
Dalam hal ini penulis bukan berarti mengesampingkan arti penting pendidikan di luar pendidikan agama, bahkan sekiranya masih ada dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum mungkin bisa dikatakan paradigma pemikiran yang keliru, karena semua ilmu berasal dari Allah, sekalipun kiranya masih ada pemikiran yang begitu, mungkin yang dimaksud pendidikan umum adalah pelajaran umum yang terangkum dalam pelajaran exact, ilmu ilmu sosial dan sebagainya. Sebenarnya pemikiran kita tidak akan terdikotomi apabila semua pelajaran yang dianggap umum tadi diwarnai dengan nilai nilai Ilahiyah.