Showing posts with label ~ Andrie Wongso ~. Show all posts
Showing posts with label ~ Andrie Wongso ~. Show all posts

Antara Anugrah Dan Bencana




Agak seperti judul sebuah film, tapi begitulah saya menyimpulkan topik hangat yang saat ini menjadi pembicaraan bapak-bapak warga di lingkungan tempat saya tinggal. Hampir selalu ketika kami kumpul, entah itu saat ronda, saat pertemuan warga, dua minggu terakhir ini selalu diisi pembicaraan dan diskusi atas sesuatu yang menimpa lingkungan perumahan tempat saya tinggal dua minggu lalu.
Setahun lalu, menurut analisanya adalah banjir terbesar yang terjadi di Solo sejak banjir besar tahun 1965. Lebih dari separuh wilayah ex karesidenan Surakarta terendam banjir. Dan kami harus bersyukur pada saat banjir besar tahun lalu, hal itu tidak masuk menimpa pemukiman perumahan tempat saya tinggal. Namun aneh memang, tahun ini, banjir kembali melanda Surakarta dan sekitarnya, tidak separah tahun lalu, tapi air itu masuk ke perumahan kami. Di jalan depan rumah saya sampai setinggi lutut, masuk ke rumah kira-kira lima centimeter-an.
“… ini pertanda kita manusia sudah banyak dosanya..!”, salah seorang bapak tetangga saya mengemukakan pendapatnya. “..ah! Ini akibat diantara kita tahun kemarin ada yang pongah dan sombong, karena tidak kena banjir,.. jadinya tahun ini kita digilir juga..” sergah yang lain. “..buang sampah sembarangan adalah sebab utamanya..”, seorang bapak lain yang tampak mencoba ilmiah mengemukakan pendapatnya.
“.. bapak-bapak kok ya nggak merasa, ini itu anugrah, sebuah hadiah kepada kita,.. bersyukurlah kalau kita juga diberi hadiah seperti ini, agar kita selalu diingatkan, pertanda Tuhan masih mencintai kita..”, sementara bapak yang lain mencoba memandang dari sisi lain atas apa yang terjadi.
Saya sendiri berpendapat bahwa banjir adalah banjir. Memang demikianlah air dicipta oleh Sang Pencipta memiliki sifat yang begitu jujur, dan begitu rendah hati. Jujur bahwa dia akan selalu mengikuti bentuk wadahnya dimanapun dia diletakkan, jujur bahwa dia akan tetap memilih menggenang bila tak ada tempat untuk meresap, jujur bahwa dia akan tumpah dan luber bila sungai yang menampung menjadi jalannya tidak cukup menampungnya. Air yang selalu jujur ‘berkata’ kepada kita manusia bahwa bila kita selalu saja merusak hutan, menutupi daerah resapan, buang sampah sembarangan. Dan air juga rendah hati, dimanapun kemanapun dia akan selalu mencari tempat yang paling rendah.
Tapi sebagian orang mungkin bertanya, kenapa saya yang didatangi banjir? Mengapa tidak khusus kepada orang yang suka menggunduli hutan saja? Mengapa tidak khusus kepada orang-orang yang suka membuang sampah ke sungai saja?
Nah!! Inilah istimewanya aturan main kita manusia sebagai makhluk Tuhan yang dihidupkan untuk sejenak menggores sejarah bagi kurun waktu perjalanan alam semesta ini. Setiap hal, setiap kejadian, sedih dan gembira, membanggakan atau menyesakkan, membuat tertawa atau menangis, kita akan selalu bisa melihatnya dari dua sisi yang saling berlawanan. Apakah itu sebuah anugrah ataukah bencana.
Begitu Maha Adil Sang Pencipta, bila saja itu semua kita pandang sebagai sebuah anugrah –misal dengan melihat hal itu sebagai sebuah peringatan karena pertanda bahwa kita masih dicintai oleh-Nya-, maka anugrah itu diberikan merata kepada kita manusia. Juga Maha Adil Sang Pencipta, bila saja itu kita anggap sebagai bencana –hukuman, dsb-,maka yang dihukum tidak hanya yang melakukan secara langsung –merusak alam misalnya-, tapi juga kita semua kita kita orang-orang yang diberi akal untuk berpikir masih juga membiarkan saudara-saudara kita melakukannya.
Kita manusia memang memiliki cara pandang yang serba terbatas. Sehingga kadang masih ada tembok besar yang menghambat kita untuk selalu bersyukur atas apa yang kita peroleh saat ini. Mungkin ada baiknya belajar memahami jalan pikiran anak saya. Ketika lewat tengah malam itu air mulai masuk perumahan dan mulai meninggi, anak saya perlahan saya bangunkan. Saya jelaskan apa yang terjadi, dan kita bersiap untuk menyelamatkan barang ke lantai atas. Tanpa ada ekspresi takut diwajahnya, anak saya berkata, “pah, aku boleh main air diluar..?”. Nah..! 

12 Februari 2009
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga

Hope Will Keep Us Alive (01)


"Kemungkinan operasi jantung ini berhasil hanya 2 persen," begitu kata seorang bapak dalam sebuah percakapan telepon. Secara tidak sengaja saya mendengar kalimat bernada penuh kesedihan bercampur kekhawatiran itu ketika saya sedang berada di ruang tunggu ICU Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Saat itu saya sedang menunggu anak pertama kami (Priscilla Natali Winarto) yang baru saja menjalani operasi jantung.

Teringat pengalaman kami beberapa hari sebelum operasi, ketika sang dokter berkata, "Operasi jantung yang akan dijalani anak bapak sebenarnya termasuk operasi jantung paling ringan namun sayangnya anak bapak terlalu kecil untuk dioperasi." Maklum, anak kami akan menjalani operasi saat usianya baru 41 hari dengan berat badan hanya 2,1 kilogram. Ia terlahir prematur (34 minggu) dengan berat hanya 1,6 kilogram.

Ya, beberapa hari setelah kelahiran, Priscilla didiagnosa menderita kelainan saluran pembuluh darah di dekat jantungnya. Dalam dunia medis, penyakit ini dikenal dengan istilah persistent ductus arteriousus (PDA). Saluran tersebut seharusnya menutup secara otomatis ketika bayi lahir ke dunia ini, maksimal dalam waktu dua kali dua puluh empat jam. Lihat betapa besar keagungan Tuhan! Bukankah kita nyaris tidak pernah tahu kalau saluran itu ada, apalagi mendoakan agar saluran itu tertutup? Ketika berada di dalam kandungan ibu saluran itu memang  terbuka karena berfungsi untuk mengalirkan makanan dan oksigen dari ibu kepada sang janin. Sebagai catatan penting, untuk menutup saluran itu diperlukan biaya puluhan juta rupiah.

Ketika saya tanyakan kepada dokter berapa persen tingkat keberhasilan operasi anak kami, ia menjawab, "Sekitar 90! Namun ada kemungkinan lain yakni kalau tubuhnya tidak tahan terhadap bius, ia akan terus koma atau organ dalam tubuhnya yang masih begitu kecil mengalami infeksi setelah operasi."

Saat itu kami pun mengalami kegelisahan luar biasa. Sudah tidak terhitung berapa banyak air mata yang tumpah dan berapa banyak doa yang selalu kami panjatkan. Dengan penuh kasih dan harapan, saya memandangi wajah istri saya sembari berkata, "Dalam nama Tuhan saya akan menandatangi surat persetujuan operasi ini." Istri saya mengangguk perlahan sebagai tanda ia setuju.

Pengalaman kami dan bapak seperti yang saya sebutkan di awal cerita ini adalah sebuah pengalaman tentang pentingnya harapan dalam hidup. Mentor saya, Dr. John C. Maxwell berujar, "Where there is no hope in the future, there is no power in the present." Ya, jika tidak ada harapan akan hari esok yang lebih baik, tentu tidak akan ada kekuatan untuk hari ini.

Saya pernah membaca sebuah penelitian yang mengatakan seseorang dapat bertahan hidup selama empat puluh hari tanpa makan, empat hari tanpa minum, empat menit tanpa oksigen namun hanya empat detik tanpa harapan. Begitu orang kehilangan harapan, ia cenderung berpikir segalanya telah berakhir sehingga ia pun memutuskan untuk bunuh diri. Angka empat detik barangkali diambil dari lamanya waktu yang dibutuhkan untuk meloncat dari sebuah gedung tinggi hingga sampai ke tanah.

Harapanlah yang membuat orang berani mengambil risiko dan melangkah maju menuju hari esok yang lebih baik. "Jika dokter berani memutuskan untuk melakukan operasi itu berarti mereka masih memiliki harapan," kata seorang sahabat. Saya yakin itu benar, seberapa kecil kemungkinan operasi itu berhasil toh harapan tetap ada.

Puji Tuhan, operasi anak kami berhasil dan saat artikel ini ditulis, ia telah berusia dua tahun empat bulan. Ia tumbuh menjadi anak yang manis, lincah, aktif, ramah dan mau diajar. Anda bisa membaca kesaksian mengenai Priscilla secara lebih utuh dalam buku saya yang berjudul The Power of Hope (Elex Media Komputindo, 2007).

Pengalaman mengajarkan kami betapa pentingnya harapan dalam keseharian hidup manusia. Saat artikel ini saya susun, anak kedua kami (Timothy Stanley Winarto) yang baru berusia 11 hari sedang dirawat di rumah sakit karena kuning (hiperbilirubin). Sudah empat hari ia disinar di ruang perawatan bayi RS Borromeus, Bandung. Sebelum diopname di rumah sakit, Timothy sebenarnya sudah sempat pulang ke rumah selama dua hari namun keadaan berkata lain, ia harus kembali ke rumah sakit. Siang tadi, saat kami menjenguk, keadaannya sudah jauh membaik. Kemungkinan dalam beberapa hari ke depan, ia sudah boleh berkumpul kembali bersama kami di rumah.

Ayah kandung saya pun saat ini sedang dalam tahap pengobatan yang intensif lantaran berbagai macam penyakit, seperti pembengkakan jantung, penyempitan pembuluh darah otak, kolesterol tinggi, hipertensi dan batu empedu.

Hidup memang selalu naik-turun. Kadang di atas, kadang di bawah. Ketika sedang di atas, jangan pernah mabuk dan lupa diri. Namun ketika sedang di bawah, jangan pernah putus harapan. Harapan bagi saya, ibarat bahan bakar sebuah kendaraan bermotor. Sebagus apa pun kendaraan itu, jika ia tidak memiliki bahan bakar atau kehabisan bahan bakar tentu ia tidak akan dapat berfungsi, apalagi melaju dengan kecepatan tinggi. Martin Luther King pernah berkata, "When you lose hope you die!"

Seorang teman pernah bertanya kepada saya, apakah ada perbedaan antara orang yang optimis dan orang yang punya harapan? Saya ingin mengutip pernyataan Jonathan Sacks untuk menjawab pertanyaan ini, "Optimism is the belief that things will get better. Hope if the faith that, together, we can make things better. Optimism is a passive virtue; hope, an active one. It takes no courage to be optimist, but it takes a great deal of courage to have hope."

Dari pernyataan tersebut, kita bisa melihat bahwa ada perbedaan besar antara orang yang optimis yang orang yang berpengharapan? Orang yang berpengharapan memiliki keberanian untuk bertindak. Ia tidak menunggu keadaan membaik namun ia mau melakukan sesuatu agar keadaan membaik.

* Paulus Winarto adalah founder lembaga pelatihan non-profit HOT MINISTRY (www.hotministry.org). Ia merupakan pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong, The Power of HOPE dan Melejit di Usia Muda). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai "manusia kompleks". Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com. 

Cermin



Hati-hati bila anda menyampaikan suatu cela atau kritik terhadap seseorang, sebab cela atau kritik itu sebenarnya mengedepankan kelakuan anda sendiri yang seharusnya dicela atau dikritik.
Seorang teman kantor saya, E-en sangat "peka" mengkritik. Dia sering menanyakan pada saya mengapa saya tidak melarang seseorang karena makan kudapan ketika bekerja.

Masalah kudapan ini memang sudah merusak tata karma dalam kantor ketika bekerja. Banyak yang tidak menyadari bahwa makan sambil bekerja itu tidak terpuji, atau salah. Kartas bisa kena minyak, bahkan rontokan roti kadang terselip sampai berhari hari.

Dia juga pernah bertanya kenapa saya tidak menegur rekan sekantor yang pakai celana ketat sehingga tampak seksi atau memakai kaus pada waktu kerja. Juga dia sering protes karena merasa terganggu harus mengambil kartu absen ketika akan keluar gerbang waktu istirahat.
Tahukah anda apa yang dia lakukan ? Dia sering makan kudapan di tengah kerja sehingga saya tegur. Bahkan, begitu tanda masuk baru saja selesi berbunyi, dia membuka bungkusan dan makan pagi dengan cepat. Di kantor dia mengganti sepatu dengan sandal jepit karena merasa lebih praktis berlalu lalang. Dia "berlagak" meradang kepada Satpam karena lupa membawa kartu absen dan masih banyak pelanggaran yang dia lakukan.

Pernahkah anda memperhatikan perilaku rekan rekan di sekitar anda ?
Orang yang banyak bicara tanpa guna sebenarnya "membuka" rahasia kejelekannya sendiri.
A-an berkali-kali menganggap rekan laki-lakinya tergiur melihat bagian-bagian sensual wanita, padahal belum tentu rekan laki-lakinya itu tergiur. Dia membuka kedoknya sendiri bahwa sebagai wanita dia punya perlilaku mendua. Dia punya minat terhadap laki-laki maupun terhadap wanita. Dia sendirilah yang "tergiur" melihat teman wanitanya sendiri tampai seksi.

Cermin bangsa kita sebenarnya perlu disimak lebih mendalam. Tayangan televisi yang banyak dikritik kaum penjaga moral juga merupakan cermin moral yang berkembang di masyarakat kita.
Karena demikian enaknya produk tertentu, misalnya roti kering, maka iklan mengajarkan seorang anak merebut milik temannya. Secara moral, merebut milik pihak lain adalah perbuatan tercela. Karena enaknya, seorang anak bukannya memita, namum merebut.

Menghadapi masalah dengan mencari "jalan pintas" secara irasional ditampilkan secara memukau, diakhiri dengan suatu "statement" bahwa perbuatan itu janganlah ditiru karenasesat, sebaiknya mengambil jalan luhur secara agama.

Sebelum mentaati ajaran agama yang dianut, "kesesatan" ditampilkan secara "indah" dan dikemas indah. Bukankah ini juga merupakan cermin masyarakat yang ada di sekitar kita ?
Marilah kita menyadari diri kita sendiri, sudah sejauh manakah "cermin kehidupan" kita diumbar di tengah masyarakat sehingga kita jadi tercemar karena perilaku kita sendiri.

Cermin bangsa sudah ditampilkan, cermin diri kita sebaiknya kita jaga. Bukan sekedar menjaga agar keburukan kita tidak tersebar, namun bertekad memperbaiki diri sendiri serta bertekad untuk meninggalkan setiap perilaku tercela sehingga kita bersih dari cela.

Bukan karena "buruk rupa cermin dibelah", sebaliknya karena "buruk rupa cermin disayang" sehingga tampak segala keburukan yang wajib segera kita perbaiki.
Bagaimana kita memperbaiki masyarakat kalau tidak dari diri kita sendiri ? Biarlah gongongan serigala menakutkan namun karena kita punya iman dan taqwa maka gonggongan serigala akan terdengar indah. Gonggongan termaksud meningatkan kita agar tidak takut atas akibat perbuatan kita sendiri.

Jadikanlah cermin menjadi penjaga penampilan kita, seperti halnya cermin besar di setiap pintu masuk yang dapat dipergunakn untuk mengontrol penampilan kita.
Dengan demikian, sukses lahir batin senantiasa meyertai kita.

Catatan Kecil Di Hari Valentine




Cinta adalah Ibu dari Perasaan, Ayah dari Hati, Saudara dari damai, di dalamnya ada Kau dan Aku
Puisi kecil ini selalu mengingatkan aku akan kekuatan cinta, akan butuhnya kita untuk mengasihi dan dikasihi.  Dan hal ini semakin beresonansi dengan datangnya hari Valentine.
Di mall-mall, hiasan merah hati mewarnai hampir setiap sudut ruangan, bunga ros menjadi begitu laku mendekati kedatangan hari tersebut, masing-masing mempersiapkan hadiah istimewa bagi pasangannya, bagi orang-orang yang dikasihinya di hari itu.
Ketika kita hendak membagi kasih sayang, mata kita hampir semua tertuju pada hari tersebut, hari Valentine seakan menjadi begitu penting atas nama cinta, Valentine sepertinya menjadi satu-satunya hari bagi kita untuk berpelukan.
Lalu, ketika dalam senyap ada kalimat demi kalimat yang bermain dalam benakku, dan mengalir dalam catatan kecil.
Cinta adalah ketika kita bangun pagi menyiapkan sarapan untuk pasangan kita,
Cinta adalah ketika setiap dua jam kita harus mendengar tangisan bayi kita dan memeluk dengan kasih sayang.
Cinta adalah ketika kita harus bertambah gemuk beberapa gram karena harus mencicipi masakan istri dan juga harus mencicipi masakan orang tua.
Cinta adalah ketika kita mengambil dan memakan jeruk yang lebih asam.
Cinta adalah ketika harus menunggu beberapa jam di depan pintu rumah.
Cinta adalah saat kita makan bersama.
Cinta adalah kebersamaan dalam kesederhanaan.
Cinta juga kadang adalah hukuman untuk anak kita yang nakal.
 Ketika kita dapat melakukan hal-hal yang sederhana atas dasar mengasihi dan menyayangi tanpa pamrih, hari Valentine akan datang mengetuk pintu kita setiap hari dan mencerahkan hati.


Salam Pencerahan

Seng Guan CPLHI
PSDM Siddhi Medan
Sekretaris MBI Medan
Pemilik blog di http://www.sengguan-wisdom.blogspot.com
sengguanjr@yahoo.com

Kayu Basah



Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mudi yang sudah bersiap bernyanyi diiringi beberapa pemuda yang memainkan alat band.Namun suasana hujan diluar ditambah alat pendingin membuat ruangan terasa beku seolah mereka tak bersuara tenggelam oleh hentakan suara band yang keras.

Kemudian majulah seorang gadis muda menggantikan rekannya berdiri di podium, dengan suara yang keras dan wajah bersinar penuh keceriaan gadis muda yang bernama Kezia itu mengajak semua muda mudi berdiri, menyanyi lebih keras, bertepuk-tangan, bergerak aktif dan bervariasi, suasana kaku sontak berubah hangat, penuh semangat dan ceria.
Pada pertengahan abad ke-enam di China, saat itu dua kelompok pasukan dari dua kerajaan besar sedang bertempur.Sebulan sudah mereka berperang hingga kelelahan dan memasuki masa gencatan senjata setelah peperangan yang memakan korban ribuan orang mati dan ratusan terluka.
Pada suatu malam seorang jenderal bernama Shiaw Kwan dari kerajaan Chou sedang membahas strategi perang di sebuah tenda bersama beberapa panglima lainnya serta seorang penasehat tua.
Salah satu laporan buruk yang diterima Shiaw Kwan yang membuatnya kecewa adalah terdapat sejumlah prajurit yang patah semangat dan ingin pulang ke kampung halaman.
Menjelang pagi, si penasehat tua mengajak Shiaw Kwan keluar sejenak dari tenda untuk menghirup udara segar.Sembari duduk di antara rerumputan basah karena hujan dan dinginnya malam, Shiaw Kwan mengambil beberapa kayu mencoba menyalakan api namun kayu-kayu yang basah karena hujan itu tak kunjung terbakar.
Si penasehat tua menyuruh seorang pengawal mengambil beberapa kayu bakar kering yang ada di salah satu tenda dan menyalakan api.Dalam waktu singkat kayu-kayu kering itu terbakar menghangatkan tubuh mereka.
"Sekarang masukkan kayu-kayu basah itu kedalam api unggun ini" kata si penasehat tua itu, dan ketika Shiaw Kwan memasukkan potongan kayu basah itu kedalam api unggun, maka kayu-kayu basah itu pun dengan mudah ikut terbakar dan membara.
"Kumpulkan pasukan yang memiliki semangat dan daya juang tinggi, pimpin mereka, kobarkan semangatnya kemudian masukkan para prajurit yang loyo kedalamnya, maka mereka semuanya akan membara seperti api unggun ini. 
salam bijaksana,
Haryo Ardito - DieHard Motivator
Ketua Harian Asosiasi Manajemen Indonesia - DKI Jakarta
Website: www.haryoardito.com

Pikat Pelanggan Dengan Reflective Listening



"Tuhan menganugrahkan dua telinga dan satu mulut kepada manusia." Kalimat itu rasanya sudah berdiam lama dalam ruang kognitif setiap orang. Persoalannya, apakah kalimat itu selesai pada tingkat pengetahuan semata atau sudah sampai pada tingkat aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Ada sebuah fakta yang patut direnungkan dalam hal ini. 80% waktu manusia habis digunakan untuk berkomunikasi. 45% dialokasikan untuk mendengar dan sayangnya terdapat sekitar 75% kata-kata yang dibaikan, disalahpahami dan dilupakan. Sungguh sebuah ironi komunikasi yang seharusnya tidak terjadi jika keterampilan mendengarkan menjadi menu utama dan pertama saat bercengkerama dalam ranah bursa kata ini. Hal ini memberikan sebuah indikasi bahwa 'mendengarkan' menjadi persoalan serius yang tidak dapat diremehkan untuk meraih pemahaman komprehensif dalam sebuah diskusi.
Ternyata terdapat banyak sekali jenis keterampilan mendengar menurut para ahli. Ada yang disebut mendengar aktif, analitis, empatik, kritis, selektif, atentif, apresiatif, sampai dengan reflektif. Kesemua jenis mendengar ini seolah mengingatkan kita bahwa setiap orang sejatinya ingin didengar! Namun, sayang dalam praktiknya, betapa sulit menyatukan teori dengan aplikasi. Betapa masih banyak individu, bahkan profesional korporasi yang belum menyadari bahwa keterampilan satu ini akan meninggikan citra diri dan profit secara permanen dan militan jika dilakukan dengan penuh ketulusan dan keseriusan. Mari kita lihat, bagaimana seorang profesional call center, baik yang bertugas di udara mau pun di darat, masih berdebat dengan pelanggan atau pencari informasi dengan kata-kata sarkastis, emosional, merendahkan sampai dengan menghina. Betapa pelanggan dihadapkan pada situasi terpidana dalam kepedihan. Padahal mereka adalah pengisi pundi-pundi korporasi yang membangun citra positif emiten di lantai bursa. Bercermin dari kejadian itu, terlihat ada persoalan serius dalam hal mendengarkan. Karenanya, teori yang relatif pas untuk kasus ini adalah 'reflective listening' yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja korporasi. Teori ini bermula dari praktek konseling dan psychotherapy yang dilakukan oleh Carl Rogers terhadap pasiennya. Walau pun reflective listening ini pertama kali dipraktikkan di dunia medis, bukan berartitidak dapat diaplikasikan dalam situasi lainnya, misalnya bisnis. Justru jenis mendengar ini, pakar komunikasi Deborah Tannen menyebutnya sebagai rapport-talk (bicara untuk membina hubungan), akan memberikan feedback yang sangat positif, konstruktif dan empatik dari pelanggan ke profesional korporasi.
Reflective listening adalah sebuah tindakan mengulang secara verbal apa yang didengar dari orang lain. Mengulang apa yang diucapkan dan dirasakan oleh pihak lain akan menunjukkan rasa empati terhadap apa yang dialami oleh sang penutur. Kalimat yang di-rephrase tersebut akan mengubah subyek ‘saya' menjadi ‘kita.' Artinya, ketika seseorang menyampaikan keluh kesahnya secara subyektif, teknik reflective listening akan mengubahnya menjadi keluhan bersama - keluhan ‘kita.' Karena materi keluhan menjadi keluhan bersama. Berdasarkan situasi ini, sang pengeluh akan merasa bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi peristiwa tidak menyenangkan tersebut. Ini adalah reflective listening. Pendengar memberikan rasa empati melalui keterlibatan emosinya terhadap apa yang dialami oleh sang pencetus masalah.
Ada empat komponen yang menjadi syarat minimal dalam melakukan reflective listening: empathy, acceptance, congruence, dan concreteness. Pertama, empathy (empati) mewajibkan pendengar untuk memfokuskan diri pada pemberi keluhan yang tengah menumpahkan saran, kritik atau pun masukan atas apa yang dialaminya. Disini, referensi yang dipakai harus bingkai orang yang tengah menyampaikan keluhan. Dengan demikian, kondisi ‘merasakan' apa yang dialami oleh orang lain akan membuat sang pengeluh mendapatkan sebuah penghiburan. Ternyata, ia dipahami. Hal ini sangat penting, terutama dalam menangani pelanggan yang sedang marah atas sebuah produk atau pelayanan yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Jika rasa empati dikedepankan secara simpatik, niscaya, luapan lahar emosi akan menjadi salju penyejuk di musim panas.
Kedua, acceptance (penerimaan) sangat terkait erat dengan empati. Penerimaan ini memberikan penghargaan kepada setiap orang bahwa mereka sesungguhnya berharga. Artinya, siapa pun yang menyampaikan keluhan atau sejenisnya itu, apakah ia dari strata sosial ekonomi bawah, pelanggan kecil sampai dengan rakyat jelata pengantri raskin sekali pun, harus diterima secara empatik dan simpatik sebagai aset penggerak roda korporasi secara perlahan namun konsisten. Adalah keliru, apabila dalam praktek korporasi, banyak petugas di garda depan mengabaikan hal ini hanya karena melihat penampilan sang pengeluh/pencari informasi yang tidak sesuai dengan standar yang biasa dihadapi. Jika ini terjadi, konsep penerimaan disini menjadi sebuah teori kosong belaka. Sang pencari informasi akan kecewa dan akhirnya pindah ke lain hati (baca: korporasi lain). Karena, di kening setiap orang sesungguhnya terpatri sebuah kalimat ‘make me feel important.'
Ketiga, congruence (harmoni). Harmoni disini merujuk pada ketulusan dan pengertian atas apa yang terjadi pada orang lain. Artinya, jika kita juga merasa kecewa atas apa yang dialami oleh orang yang mengeluh, tunjukkan melalui bahasa nonverbal bahwa hal itu juga terasa sama kadarnya oleh kita. Bahasa tubuh ini harus secara tulus diekspresikan, bukan dibuat-buat. Hal ini akan dengan mudah dilihat dan dinilai oleh orang lain sebagai tulus atau palsu.Melalui praktik harmoni ini (sinkronisasi verbal dan nonveral), ikatan emosional akan semakin kuat terpatri dalam ruang afeksi sehingga pindah ke lain hati akan menjadi pertimbangan dengan urutan terbawah.
Keempat, concreteness (kekonkretan). Poin ini mengacu pada hal-hal yang lebih bersifat spesifik daripada generik. Sebagian pendengar, tanpa sadar atau ketidaktahuan, sering memberikan komentar atas keluhan atau ungkapan orang lain secara generik tanpa menyentuh ke inti keluhan yang menjadi persoalannya. Misalnya, ketika ada orang mengeluhkan soal pelayanan call center yang tidak baik, sering petugas di garda depan mengatakan bahwa hal itu tengah ditangani oleh perusahaan dan memerlukan waktu yang tidak dapat ditentukan kapan selesainya. Ini adalah contoh ketiadaan kekonkretan seperti dimaksud di atas. Lalu, bagaimana mengatasi hal ini? Seharusnya, sang petugas melokalisir persoalan secara fokus. Ia seharusnya mengatakan bahwa call center mengalami gangguan selama 2-3 hari kerja dan akan bisa diatasi dalam 1-2 hari ke depan. Ia mengonkretkan persoalan secara tepat (call center saja) bukan korporasi secara umum yang terlalu rumit meski hanya untuk dibayangkan. Dengan melokalisir persoalan secara sempit dan spesifik, rasanya persoalan akan lebih mudah menemui solusi.
Jika setiap pendengar memiliki empat orientasi minimal dalam reflective listening di atas, empathy, acceptance, congruence dan acceptance, rasanya berjuta keluhan di kolom-kolom surat pembaca selama ini akan mengalami masa surut secara kuantitatif mau pun kualitatif. Semoga begitu adanya!

Hadirkan Keagungan Tuhan Dalam Kerja



"Manusia harus tahu bahwa di atas panggung kehidupannya sendiri, hanya Tuhan dan para malaikatlah yang menjadi pengamat."
~ Francis Bacon ~

Orang yang mencapai sukses baik dalam karier dan bisnis sangat banyak dan mudah kita temukan dalam lingkungan kita. Tetapi apakah mereka yang nampak luar berhasil mencapai sukses dalam kerja dan bisnis sesungguhnya meraih kebahagiaan dan kemuliaan hidup ? Belum tentu, tidak semuanya demikian. Banyak orang yang secara profesional meraih sukses luar biasa, nampak luar memiliki semua atribut kesuksesan, namun akhirnya hidupnya hampa dan "unhappy ending". Bahkan ada yang harus berakhir di penjara selama sisa umurnya atau akhirnya ada yang bunuh diri.
Mengejar keberhasilan dengan ukuran materialisme semata tidaklah cukup, masih diperlukan adanya keberkahan. Apakah keberhasilan yang dicapai itu memberikan keberkahan hidup atau tidak. Karenanya kalau ingin meraih keberhasilan yang memberikan keberkahan, maka hadirkanlah keagungan Tuhan dalam setiap aktivitas kerja dan bisnis kita. Karena ketika seseorang menghadirkan Tuhan dalam setiap aktivitas kerja dan kehidupan bisnisnya, artinya ia menundukkan dirinya dan mendekatkan dirinya hanya kepada Allah Tuhan YME.
Menghadirkan Tuhan dapat melahirkan motivasi yang dilandasi oleh nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan dari dalam hati. Melahirkan energi batiniah, melahirkan semangat mulia dalam bekerja, berbisnis dan berkarya. Pada akhirnya akan mengalirkan semangat keunggulan dan kemuliaan dalam diri kita. Melahirkan optimisme yang tinggi dalam menghadapi setiap tantangan, hambatan dan kesulitan dalam kegiatan karier dan bisnis setiap hari. Karena kita meyakini bahwa Tuhan selalu hadir dalam ruang kerja kita dan akan menjadi penolong terbaik kita.
Hadirkanlah Keagungan Tuhan dalam setiap aktivitas kerja dan bisnis kita. Karena ketika kita meyakini Tuhan selalu hadir dalam ruang kerja kita, meyakini bahwa Tuhan dan malaikat sebagai pengamat kita, ini akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dalam setiap aktivitas kehidupan pribadi kita sehari-hari. Termasuk dalam kehidupan karier dan bisnis. Implikasinya adalah setiap pemikiran kita, setiap tindakan yang kita lakukan maupun setiap keputusan bisnis yang kita ambil, akan selalu dilandasi suara hati nurani terdalam. Suara hati sesungguhnya adalah percikan sifat-sifat kemuliaan Tuhan. Dengan demikian setiap tindakan dan keputusan yang diambil berdasarkan suara hati, akan menghasilan tindakan dan keputusan yang sejalan dengan nilai-nilai kemuliaan. Tercipta suasana harmoni dalam lingkungan kerja dan bisnis, produktivitas semakin meningkat dan memiliki kesungguhan hati dala melaksanakan tugas.
Implikasi nyatanya dalam kehidupan kerja dan bisnis, tidak akan melakukan tindakan yang menyimpang dari aturan etika, moralitas dan nilai-nilai spiritualitas yang bersumber dari dalam hati. SEMOGA BERMANFAAT.
 
***Eko Jalu Santoso adalah Profesional, Founder Motivasi Indonesia dan Penulis Buku. Buku terbarunya "The Wisdom of Business", diterbitkan Elex Media Komputindo.

Siapakah Penentu Sukses Anda?



Tidak mudah untuk meraih dan mendapatkan sukses. Tentu Anda seringkali mendengar orang mengatakan hal itu. Dan ungkapan itu memang benar adanya, tidak gampang untuk bisa menjadi orang sukses. Tidak semua orang bisa merasakan suatu kesuksesan dalam kehidupan ini. Kesuksesan hanya akan hadir kepada diri orang-orang tertentu, orang-orang yang punya daya tarik kuat terhadap sukses; sehingga sukses tersebut akan mendatanginya dengan suka rela.

Jika saya katakan seperti tersebut di atas, bahwa sukses hanya mendatangi orang-orang yang punya daya tarik terhadap sukses, apakah Anda percaya? Kalau saya tanya, Siapakah penentu sukses Anda? Saya yakin, kedua pertanyaan saya tersebut pasti Anda jawab secara positif dan optimis.

Pertanyaan pertama, pasti Anda jawab Ya, Anda percaya bahwa sukses hanya datang kepada orang yang mempunyai magnet sukses, sehingga kekuatannya akan bisa menarik sukses untuk mendatanginya. Dan, pertanyaan kedua pasti Anda jawab Diri Saya Sendiri, ya...penentu sukses Anda adalah diri Anda sendiri. Saya sangat yakin, setiap orang kalau ditanya, Siapakah penentu sukses?; pasti jawabannya adalah Diri Sendiri.

Kedua jawaban optimis yang Anda berikan ini, pasti juga sama dengan jawaban dari sebagian besar orang di muka bumi ini.

Yang menjadi masalah sekarang adalah, kenapa banyak orang sudah mempunyai jawaban positif dan optimis, yang sama dengan Anda; tetapi dalam menjalani kehidupannya ternyata masih banyak pula yang tidak sukses. Bahkan mereka justru sering mengalami kegagalan, kemunduran, sengsara, dan tidak mendapatkan kebahagiaan? Inilah keadaan realita kehidupan yang masih banyak menimpa sebagian besar manusia yang harus kita renungkan.

Mengapa mereka tidak berhasil menggapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup? Apa sesungguhnya yang menjadi penghalang jalan menuju sukses tersebut? Saya juga sangat tahu dan maklum, bahwa mereka pun pasti selalu memanjatkan doa, memohon kepada Tuhan, agar diberikan kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Tetapi kenapa seakan-akan Tuhan tidak segera mengabulkan doa mereka?

Sebaliknya, Anda juga bisa melihat kenyataan pada diri orang-orang sukses. Saya yakin doa yang dipanjatkan ke Tuhan oleh orang sukses ini, juga tidak jauh berbeda dengan doa orang lain pada umumnya. Semua doa semestinya berisi keinginan positif yang diharapkan akan dikabulkan oleh Tuhan. Lalu, Anda melihat perbedaannya, yaitu: setiap doa dari orang sukses terkesan selalu dikabulkan oleh Tuhan Allah. Tuhan tidak pernah menolak doa dari orang sukses. Mengapa? Apakah Tuhan itu Dzat yang senang pilih kasih terhadap manusia? Mengapa ada orang gagal dan ada orang sukses? Mengapa orang gagal lebih banyak jumlahnya dari pada orang sukses?

Saya ingat wejangan seorang Ulama Sepuh, bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mau mengubah nasibnya sendiri. Ini merupakan bukti, bahwa Tuhan menjadikan manusia bebas berbuat dan memilih, tidak dipaksa dan tidak pula dilakukan oleh Tuhan. Ini berarti, manusia itu memainkan peran penting dalam menentukan takdirnya sendiri.

Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih apa pun keinginan kita sendiri, untuk maju ataukah mundur, dan setiap orang dari kita ini juga harus bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan, apa pun pilihan kita. Jadi di sini sudah jelas maknanya, bahwa manusia harus merencanakan kehidupannya sendiri, akan menjadi seperti apa nantinya.

Manusia harus membuat suatu rencana hidupnya di masa depan. Dalam pengertian ini, Tuhan hanya bertindak menjadi fasilitator bagi manusia untuk menggapai tujuan hidup manusia itu sendiri. Sesungguhnya Tuhan akan dengan murah hati mengikuti apapun keinginan manusia tersebut. Ini sebuah cuplikan firman Tuhan, Aku adalah sebagaimana yang diprasangkakan hamba-Ku kepada-Ku.

Oleh sebab itu, jika Anda ingin sukses, karena penentu sukses adalah diri Anda sendiri; maka Anda harus mau membentuk dan mengembangkan jiwa sukses ini di dalam diri Anda sendiri. Anda harus ada keinginan dan kemauan untuk menjadi sukses.

Keinginan dan kemauan untuk sukses itu sebuah pijakan; yang harus Anda tidak lanjuti dengan suatu perencanaan matang untuk meraih sukses dan mendapatkannya. Di dalam pelaksanaan meraih sebuah kesuksesan, Andapun harus mempunyai sikap ulet, tahan banting, dan pantang menyerah. Sebab jika tidak begitu, Anda akan mudah untuk berkata Saya Gagal.

Tuhan adalah Dzat yang Maha Pemurah dan Maha Kaya, dan Dia jelas menginginkan setiap manusia ciptaan-Nya bisa sukses dan bahagia dalam hidupnya. Semuanya diserahkan oleh Allah kepada manusia sendiri untuk mengurus dirinya secara bebas,

Allah hanya melegitimasi saja terhadap setiap upaya yang telah dilakukan oleh manusia, termasuk Anda. Tuhan mengharapkan setiap manusia mempunyai kesadaran tentang kewajiban sukses dalam hidup ini.

Kesadaran tentang kewajiban sukses inilah yang harus kita pahami lebih dalam lagi. Oleh karena Andalah sang penentu kesuksesan, Andalah pengambil keputusan bagi kesuksesan diri Anda sendiri; sedangkan Tuhan selalu mengikuti apa pun yang diinginkan oleh manusia. Kesadaran akan sukses ini sangat penting peranannya di dalam kehidupan setiap orang, jika orang itu memang menginginkan sukses.


Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano
http://www.wuryanano.com/

To Be A Great Best Leader


If you wish to travel far and fast, travel light. Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness, and fears. GLENN CLARKPemimpin yang sukses adalah pemimpin yang disegani / dihomati dan bukanlah pemimpin yang ditakuti. Pemimpin yang ditakuti, hanya akan mendapatkan rasa nunduk di depan dan nanduk di belakang. Untuk menjadi pemimpin yang disegani dan dihormati maka seorang pemimpin haruslah :
  1. PATIENCE & WISDOM :  Dalam segala hal, kesabaran dan kebijaksanan harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dia mampu memahami dan mengerti dengan baik MENGAPA seseorang bisa jadi demikian, yang dulunya tidak ? Melalui kesabaran dan kebijaksanaan, seorang pemimpin akan menemukan solusi - solusi yang konstruktif untuk memotivasi bawahannya agar senantiasa berada di jalur yang benar serta produktif melaksanakan pekerjaan - pekerjaan yang didelegasikan. "Success usually comes to those who are too busy to be looking for it" - HENRY DAVID THOREAU (1817-1862)
  2. BE A GOOD LISTENER : Seorang peminpin selain mampu mendelegasikan / mengarahkan / menginstruksikan bawahannya melaksanakan tugas seoptimal mungkin tetapi juga mampu menjadi pendengar yang baik. Sebagai pendengar yang baik, seorang pemimpin akan mendapatkan beraneka ragam informasi, baik untuk introspeksi diri maupun peningkatkan potensi bawahan. "I have often regretted my speech, never my silence." - XENOCRATES (396 - 314 B.C.)
  3. SOLVING PROBLEM : Seorang pemimpin haruslah senantiasa meningkatkan potensi diri dan tanggap terhadap lingkungan sekitarnya serta tidak gatek (* Gagap teknologi). Setiap permasalahan yang timbul, selain memberi kesempatan kepada bawahannya untuk memberikan solusi, dia juga telah menyediakan solusi yang bisa diterima dan dipahami oleh bawahannya.  Dalam hal ini, sifat otoriter dan pemaksaan kehendak TIDAK akan terjadi. "The significant problems we face cannot be solved at the same level of thinking we were at when we created them." - ALBERT EINSTEIN (1879 - 1955)
  4. RESPONSIBILITY : Disamping berani bertanggungjawab atas apapun yang terjadi, seorang pemimpin juga harus berani berkorban untuk bawahannya, baik dalam bentuk waktu, tenaga, materi maupun perasaan. Lari dari kenyataan atau menolak realita yang terjadi adalah salah satu penyebab gagalnya fungsi kepemimpinan. 
  5. FAIR : Penghargaan dan rasa hormat akan timbul jika seorang pemimpin senantiasa adil bertindak, yang tanpa adanya unsur - unsur diskriminasi, baik dari sisi ras, agama, aliran, gender maupun bahasa. Yang BENAR = BERHASIL diberi penghargaan dan SALAH = GAGAL diberi sanksi. "Talent does what it can; genius does what it must." - EDWARD GEORGE BULWER - LYTTON (1803 - 1873)
  6. GOOD SAMPLE : Karena akan selalu dijadikan contoh / panutan maka seorang pemimpin HARUS mampu  memberikan suri tauladan yang baik, baik dari sikap / prilaku, bahasa (* Tutur kata) dan penampilan. Pemimpin yang berhasil, umumnya adalah pemimpin yang memiliki moralitas yang terjaga, terbina dan terkontrol dengan baik. Segala hal yang bertentangan dengan moralitas, telah sirna dari kehidupannya. "Good people do not need laws to tell them to act responsibly, while bad people will find a way around the laws." - PLATO (427 - 347 B.C.)
  7. NEVER GIVE UP : Baik dalam keadaan berhasil maupun gagal, seorang pemimpin HARUS mampu menunjukkan bahwa dirinya penuh dengan vitalitas / semangat juang yang tanpa menyerah. Contoh motivasi yang baik ini, akan membuat segenap bawahan senantiasa semangat melaksanakan apapun yang didelegasikan. "I have not failed. I've just found 10,000 ways that won't work."  - THOMAS ALVA EDISON (1847 - 1931)
  8. LOW PROFILE : Walaupun memiliki otoritas dan wewenang yang penuh, seorang pemimpin hendaknya senantiasa rendah hati dan tidak sombong ibarat PADI YANG AKAN SEMAKIN MENUNDUK JIKA SEMAKIN BERISI. Seorang pemimpin sangat menyadari bahwa KESUKSESAN dan KEGAGALAN nya sangatlah ditentukan oleh kontribusi bawahannya. "Be nice to people on your way up because you meet them on your way down." - JIMMY DURANTE
  9. NOBODY IS PERFECT. Seorang pemimpin sangat menyadari akan keterbatasannya dan tidak akan segan atau malu meminta maaf jika salah. Kebesaran sifat kepemimpinan ini akan membuat siapapun kagum dan segan serta 100 % akan mau serta senang melaksanakan apapun yang diinstruksikan. "The true measure of a man is how he treats someone who can do him absolutely no good." - SAMUEL JOHNSON (1709 - 1784)
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bermakna bagi kehidupan semua orang.
* Untuk konsultasi email : dm.peterlim@gmail.com atau HP 0812 600 2482

Melihat Dari Sisi Yang Lain



Saat tahun-tahun pertama istri saya mengelola usaha lembaga pendidikan, banyak sekali kendala yang ia alami. Maklumlah istri saya tidak punya latar belakang bisnis ataupengalaman dalammanagerial.Trial and error sering mewarnai usaha yang dijalankannya, dan jika ada masalah terkadang ia meminta saya untuk membantu memecahkannya atau paling tidak memberikan masukan.
Suatu hari istri saya bercerita sambil mengeluh, "Kenapa ya terkadang terjadi begini ?. Ketika ada masuk 5 orang murid baru, eh..minggu depannya keluar 4 murid. Ketika ada yang daftar murid baru 3 orang, eh.. bulan depannyacuti/mengundurkan diri 2 orang. Apa sih yang salah ?, kalau begini ya gak maju-maju, sulit berkembang?"
Lalu sayapun mencoba memberikan masukan dengan mengatakan seperti ini. "Setiap usaha pasti mempunyai masalahnya sendiri, dan apabila itu terjadi, yang pertama adalah janganlah mengeluh terlebih dahulu. Apalagi kamu masih baru,kamu harus banyak belajar dari pengalaman-pengalaman ini dan cari solusinya bukan selalu memikirkan masalahnya. ini adalah bagian dari proses. Yang kedua adalah yang paling penting, lihatlah dari sisi baiknya". Lalu istri sayapun menjawab, "Maksud loe..?"
Sayapun mencoba untuk memberikan pengertian dan mengatakan. "Bukankah Tuhan begitu baik kepada kamu !. Mengapa ?. Coba kamu pikir baik-baik, kenapa saya bilang Tuhan begitu baik kepadamu, Dia sangat mengasihi kamu. Sebelum kamu kekurangan murid, maka Dia sebelumnya mengirimkan kepada kamu murid baru. Sebelum kamu kehilangan 4 murid, Tuhan sudah mengirimkan 5 orang murid baru terlebih dahulu. Dan sebelum bulan depannya kamu kehilangan 2 orang murid yang cuti, Tuhan sudah mengirim kepada kamu 3 orang murid baru di minggu ini ! Artinya Tuhan memperhatikan kamu, Dia tidak membiarkan kamu kekurangan, Dia bahkan memberikan kamu lebih...".
Sejak saat itu istri saya selalu bersyukur, apapun yang ia alami di kehidupannya.
Cerita kami di atas hanyalah sebagai salah satu contoh kejadian yang mungkin sering terjadi di kehidupan banyak orang. Ketika masalah muncul, seringkali respons kita adalah mengeluh tetapi tidak mencari solusinya. Hal yang paling penting disetiap permasalahan yang datang kepada kita adalah RESPONS kita terhadap masalah itu. Jika respons kita negatif maka segala tindakan kita juga menjadi negatif dan hasilnyapun menjadi negatif. Masalah tidak pernah menghancurkan seseorang, yang menghancurkan adalah respons kita terhadap masalah itu. Mengapa ada orang mengalami krisis, dan orang itu menjadi hancur hidupnya tetapi orang lain justru menjadikan ia lebih sukses ?
Setiap masalah pasti ada sisi baiknya
Setiap kesulitan, bisa jadi merupakan suatu peluang yang menyamar. Jadi janganlah mengeluh
Jangan sekali-kali menilai hari dari cuacanya. Hari yang penuh angin ribut mungkin saja menjadi hari paling menguntungkan bagi anda.
 
Tetap POSITIF,tetap SEMANGAT, tetapLUAR BIASA
 
HAPPY S. TJANDRA
Inspirational Motivator Trainer

Mensyukuri Perbedaan



Orang yang duduk di depan itu tampak dengan berapi-api menjelaskan segala macam argumentasinya untuk mencoba memberi alasan logis atas pendapatnya. Terkadang disela kalimatnya, nada bicaranya harus meninggi. Dari rentetan kalimat yang diucapkannya, sangat terasa bahwa orang ini –sebut saja Pak Bejo-, sangat berusaha ingin meyakinkan para pendengarnya bahwa pendapatnyalah yang benar.

Ketika Pak Bejo selesai bicara panjang lebar, kemudian giliran moderator mempersilahkan seorang tua lain yang duduk di meja seberang pak Bejo –sebut saja namanya pak Untung- untuk bicara. Giliran pak Untung bicara. Tak kalah gegap gempitanya dengan pak Bejo. Dan yang menarik, semua ucapan pak Untung ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pak Bejo. Pak Untung menganggap pendapat pak Bejo salah, dan dengan sama meyakinkannya, berbekal dalil-dalil yang bersumber dari referensi yang sama dengan yang diucapkan pak Bejo sebelumnya, pak Untung seolah memberi pandangan persepsi lain atas referensi itu.

Peristiwa di atas adalah salah satu acara di televisi yang menampilkan dua orang yang berdebat dari dua kubu yang berpendapat berseberangan akan suatu hal. Ditemani oleh satu orang moderator yang selalu tertib menjalankan tugasnya agar pembicaraan tidak melebar kemana-mana dan semua yang hadir di situ menghargai waktu dan tata tertib yang sudah ditentukan.

Menjelang akhir acara suasana semakin memanas. Beberapa kali diiringi tepuk riuh para penonton akan pendapat salah satu pembicara yang merasa berhasil mengemukakan pendapat yang bisa mengunci argumentasi lawannya. Bahkan beberapa kali moderator tampak kewalahan harus memotong pembicaraan, ketika pak Bejo dan pak Untuk sudah saling bantah-membantah diluar kendali atas kesempatan bicara yang diberikan moderator kepada mereka.

Tak lama kemudian waktu habis. Ditutup begitu saja. Singkat moderator hanya memberi kata perpisahan dan semuanya dikembalikan kepada penonton. Banyak orang mungkin kemudian berpendapat, betapa pak Untung dan pak Bejo ini pastilah dua orang seteru yang selalu berseberangan dalam segala hal dan setiap pertemuan. Orang kemudian membayangkan betapa tegangnya suasana setiap mereka bertemu.

Tapi anggapan itu ternyata keliru! Bersamaan dengan selesai acara di tivi itu, ‘running-text’ penanggung jawab acara mulai terlihat, kamera ternyata menangkap –atau mungkin sengaja memperlihatkan- pak Bejo dan pak Untung saling berdiri mendekat, bersalaman dengan senyum lebar, saling rangkul. Bahasa tubuh mereka begitu hangat seperti layaknya dua sahabat yang saling bertemu.

Lalu apakah adu mulut yang mereka pertontonkan sebelumnya adalah sebuah sandiwara? Bukan! Mereka adalah orang-orang terhormat yang masing-masing memiliki prinsip dan nilai yang dengan kuat mereka genggam dan harus mereka pertahankan. Tapi mereka juga orang-orang yang telah matang dan dewasa dalam melihat kehidupan, bahwa perbedaan itu sebuah keniscayaan Sang Pencipta. Sehingga sebeda apa pun kita dengan orang lain, haruslah tetap pada koridor bahwa kita akan tetap menghargainya sebagai sesama manusia.

Dalam lingkup keluarga, sebuah kumpulan manusia yang paling kecil sekalipun, pastilah suatu saat ada beda pendapat. Dengan perbedaan itulah kita seharusnya belajar untuk melihat sisi lain atas pendapat kita sendiri. Dan beda pendapat tidak seharusnya mengurangi rasa sayang antar sesama anggota keluarga.

Se-solid apa pun sebuah organisasi, secara internal pastilah pernah terjadi silang pendapat. Justru beda pendapat inilah yang seharusnya memperkaya lingkup pandang dan wawasan organisasi itu tanpa harus mengurangi rasa saling menghormati sesama anggota organisasi.

Negara kita adalah negara yang begitu banyak terdapat bermacam-ragam perbedaan. Justru itulah kekayaan dan kekuatan kita dalam kesatuan Negara ini. Sungguh saya bersyukur, dalam pembelajaran dan pendewasaan bangsa ini, acara-acara debat semacam yang saya ceritakan diatas semakin banyak digelar. Baik di tivi, radio maupun off-air. Dan orang melihat, ketika acara selesai dua pihak seperti layaknya dua teman, saling sapa, saling tersenyum, makan bersama, saling menanyakan perihal keluarga mereka. Bersyukurlah bahwa kita manusia diciptakan berbeda, sehingga punya kesempatan untuk belajar menjadi dewasa dan mensyukuri perbedaan ini.


26 Februari 2009
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga

Become A Good Driver



Bahkan dalam mengemudikan Mobil pun kita dapat belajar banyak hal dan menemukan pencerahan di dalamnya. Dan itu terjadi ketika kereta besiku mengangkut seorang tamu istimewa, seorang sesepuh yang telah memberikan banyak keindahan dalam hidup ini, kami biasanya memanggil beliau Romo Ombun. (Berikut ini adalah galian pembicaraan kami yang dibawakan dalam versi cerita oleh sang penulis)
Dalam setengah jam perjalanan, kami pun terlibat dalam sebuah pembicaraan yang menarik, saya seakan duduk di depan sebuah kelas dan memulai sebuah pembelajaran tentang hidup.
Beliau lalu berkata bahwa dalam mengemudikan mobil pun kita telah belajar banyak hal, untuk menjadi seorang pengemudi yang telaten sejumlah syarat menjadi bagian yang harus dipatuhi demi keselamatan kita dalam berlalu-lintas.
"Bagian pertama dari syarat itu adalah Awareness, Kesadaran menjadi syarat mutlak dalam menjalankan roda-roda kereta kita, menyadari keberadaan kita di atas mobil dan memegang kendali atas kemudi menjadi begitu penting ketika mobil kita meluncur di jalan. Setiap kehilangan kesadaran akan memberikan konsekwensi dengan kehilangan kendali dan berakibat pada timbulnya kecelakaan. Berkesadaran juga berarti selalu waspada melihat keadaan lalu lintas yang ada, waspada mengamati ketidakwajaran yang terjadi dan menghindari efek dari ketidakwajaran tersebut. (misalnya dengan menjaga jarak dengan kendaraan lain yang bergerak asal-asalan)"
"Lalu Discipline menjadi bagian yang tak terpisahkan dari syarat tersebut, dengan mematuhi rambu-rambu yang ada kita akan dapat menghindari benturan-benturan yang mungkin terjadi, berhenti ketika lampu merah menyala menjadi praktek sederhana dalam menyelamatkan rute perjalanan kita (sekaligus menyelamatkan rute perjalanan orang lain), kepatuhan atas aturan main yang telah disepakati bersama menjadikan mobil kita meluncur dengan mulus di jalan."
"Dalam jam kantor, mengendalikan mobil di tengah keramaian menjadi cara paling ampuh untuk menguji batas kesabaran kita, terutama terjebak dalam kemacetan yang melelahkan di bawah terik matahari, di antara tebaran debu dan deruan kenderaan yang membisingkan telinga.
Menjaga kondisi mental tetap stabil dan terkendali menjadi tantangan untuk semua pengemudi, Passion (Kesabaran) menunggu beberapa detik di depan lampu merah akan membawa kita aman untuk sampai ke tempat tujuan."
Di tengah perbincangan kami, mobil kami ternyata memasuki tikungan yang salah, lalu dengan segenap pengetahuan mengenali jalan yang ada, mobil kami kembali on the track, dalam jalur yang benar menuju rute perjalanan kami.
Lalu beliau berkata "inilah syarat ke empat dan syarat ke lima, yaitu Concentration dan Wisdom"
Dengan Konsentrasi yang benar, kesalahan dalam melangkah dapat dihindari, mobil akan meluncur dengan rute yang benar, perhatian terhadap jalannya mobil membawa kita tiba di tempat tujuan tepat pada waktunya dan selamat.
Ada kalanya, memasuki rute yang salah dapat terjadi pada siapa saja, memasuki daerah macet yang berkepanjangan adalah hal yang tak terhindari, oleh sebab itu Wisdom (kebijaksanaan) menjadi begitu penting membawa kita keluar dari keadaan tersebut. Bijaksana dalam memanfaatkan pengetahuan kita tentang rute-rute alternative adalah salah satu cara menghindari jebakan kemacetan.
Ini adalah satu pelajaran yang berharga, bahkan dalam kesalahan tersebut pun adalah pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik darinya, beliau kemudian merapikan tempat duduknya lalu kembali berkata, "Ketika kamu datang menjemput saya, kamu telah belajar mengenai Semangat, hanya orang yang penuh semangat yang mampu membawa mobil ini bergerak sampai ke tempat tujuan dan tepat waktu"
"Lalu kamu juga belajar memberi, ketika kamu menyisihkan waktumu untuk menjemputku, berarti kamu telah memberikan, mendanakan waktu mu untuk orang lain"
"Dan terakhir, tentu kamu lakukan semua ini dengan Compassion, dengan cinta"
Aku sempat terhenyak untuk setengah jam perjalanan yang begitu indah, duduk di sebuah kelas beratapkan alam ternyata memberikan banyak nuansa dalam pembelajaran.
Ternyata, hari itu aku belajar untuk menjadi seorang pengemudi yang baik dan benar.
Ketika mobil kami sampai ke tempat tujuan, dan beliau melangkah keluar dari kereta besi ku, beliau masih sempat mengatakan bahwa "Jika kamu dapat melakukan hal sederhana seperti mengemudikan mobil ini dengan benar, maka demikian seharusnya kita mengemudikan kehidupan kita ini."
"Become a Good Driver" katanya.
Lalu, Blink! Blink! Blink!
Pencerahan datang melalui banyak cara.
Salam Pencerahan
Seng Guan CPLHI
PSDM Siddhi Medan
Sekretaris MBI kota Medan
Pemilik blog di http://www.sengguan-wisdom.blogspot.com
sengguanjr@yahoo.com

Membalikkan Diagram Hirarki Maslow


Diagram Hirarki Maslow yang sangat populer itu diperkenalkan pada tahun 60-an oleh Abraham Maslow. Diilustrasikan bahwa perjalanan hidup manusia selalu diawali dengan tahap "bertahan untuk hidup", kemudian meningkat menjadi "keamanan & kemapanan", kemudian "kebutuhan sosial" dan pada puncaknya adalah "aktualisasi diri".

            Tapi yang tidak banyak terungkap bahwa di akhir hayatnya Maslow merasa menyesal telah "menyusun" diagram tersebut. Ia merasa bahwa susunan hirarki tersebut telah menjustifikasi banyak orang untuk menjadi SERAKAH dan hanya mengutamakan kebutuhan dasarnya. Itu sebabnya, di akhir hayatnya Maslow merasa bahwa diagram tersebut harus "dibalik" urutannya. "Pembalikan" ini juga dilakukan oleh Ian Marshall dan Danah Zohar dalam bukunya Spiritual Capital: Wealth We can Live By.

            Terlepas dari apakah murni terinspirasi oleh diagram Hirarki Maslow, pada kenyataannya, sifat SERAKAH telah jauh merasuk dalam sendi-sendi kehidupan modern. Atas nama meraih kesuksesan dan kemakmuran, banyak orang yang pada akhirnya "terjebak" melakukan tindakan yang hakikatnya bertentangan dengan sifat alamiah kesuksesan itu sendiri, yaitu harus BERTAHAP dan selalu memberikan MANFAAT. 

            Krisis finansial global adalah salah satu akibat yang ditimbulkannya. Seperti yang diungkapkan oleh Imam Sugema (Harian Republika 15 Des 2008), bahwa dengan arus modal yang bebas bergerak 24 jam/hari, liberalisasi telah menyebabkan otoritas keuangan negara kehilangan kemampuan dalam mengendalikan KESERAKAHAN investor besar.

Salah satu contohnya adalah perkembangan pasar derivatif yang menyangkut "collateralized debt obligation" (CDO) yang merupakan rekayasa dari manajer investasi untuk menyembunyikan risiko yang timbul dari aset "buruk". Akibatnya, aset yang jelek menjadi begitu mudah dijual karena telah dicampur dengan aset yang berkualitas baik.

Hasil akhirnya bisa ditebak. Ketika krisis subprime mortgage (aset buruk) mulai merebak, harga aset yang berkaitan dengannya ikut jatuh. Dalam pasar yang jujur, seharusnya aset yang jelek disisihkan dan tidak diperdagangkan. Berapa banyak hukum alam yang telah "ditabrak" dengan mencampur barang dagangan jelek dengan yang baik?

Contoh lain dari KESERAKAHAN yang tanpa disadari telah meracuni generasi muda adalah maraknya audisi-audisi untuk menjaring selebriti "dadakan". Memang tidak ada yang salah dengan mereka yang memang bertalenta cemerlang untuk berusaha dijaring oleh para pemandu bakat. Yang menjadi masalah adalah, berapa banyak yang sekedar ikut-ikutan audisi untuk mencoba peruntungannya?

Semangat untuk sekedar "mengadu untung" telah mengalahkan proses alamiah, yaitu dengan "belajar" dan berupaya untuk meningkatkan value (nilai diri). Hasilnya adalah lahirnya generasi baru yang sekedar mengidamkan materi, memimpikan popularitas, tapi MENGESAMPINGKAN perlunya mengembangkan potensi diri.

Bila kita mau jujur melakukan introspeksi, masih banyak kasus KESERAKAHAN yang "menabrak" harmoni hukum alam, yang kerap terjadi disekitar kita. Korupsi, manipulasi, jual-beli gelar, konversi sawah irigasi teknis, illegal logging, adalah contoh lainnya. Orang menjadi sedemikian "mencintai" materi ketimbang concern dengan seberapa banyak MANFAAT yang bisa diberikan pada sekelilingnya.

Sesungguhnya alam semesta telah "mencontohkan" banyak hal pada kita. Alam semesta begitu patuhnya pada Hukum Tuhan sehingga terciptalah keteraturan. Tidak ada pohon yang tumbuh dalam semalam. Tidak ada unggas yang lahir tanpa telur. Tidak ada siang yang mendahului malam. Semuanya serba teratur sehingga kaya akan MANFAAT. Karena itu, kesuksesan yang sejati adalah kesuksesan yang kaya akan manfaat.

Dengan membalikkan Hirarki Maslow, perjalanan hidup manusia akan diawali dengan "aktualisasi diri" dan berpuncak pada terpenuhinya "kebutuhan hidup". Artinya adalah, sebelum kita mulai menghitung materi, sebelum kita mulai berpacu mengejar reward, semuanya DIAWALI dengan membangun kapasitas diri. Sejauh mana kita akan menuai hasil, akan selaras dengan seberapa besar MANFAAT yang mampu kita berikan.

            Kesuksesan adalah HAK semua orang. Artinya, setiap orang wajib menebarkan MANFAAT pada lingkungannya. Mari kita bayangkan sebuah perusahaan, sebuah lingkungan, sebuah komunitas, dimana setiap anggotanya saling "berlomba" untuk menebar manfaat. Hasilnya......, akan terwujud "surga" di bumi yang cantik ini. Ditulis oleh Tommy Setiawan, seorang trainer, penulis dan pengamat industri MLM. Tommy dapat dihubungi melalui blowbytommy@yahoo.com atau melalui 0812 80 56772

Inspirasiku Dicuri



Tolong, tolong. Inspirasiku dicuri…. Luar biasa sekali. Ada orang yang melakukan sesuatu yang baru kurencanakan. Berarti ada orang yang mendengar rencanaku, dan karena dia punya banyak uang, karena dia punya banyak orang yang bisa membantu, dia melakukan persis seperti rencanaku.
Pasti Anda pernah mengalami kejadian ini. Halah, saya sok tahu ya? Tapi saya cukup yakin, karena Anda sering masuk situs-situs motivasi seperti andriewongso.com. Maka Anda adalah orang yang punya inspirasi dan suka mencari tambahan inspirasi di banyak tempat.
Tapi, suatu saat Anda sedang merencanakan untuk melakukan sesuatu. Entah itu berkaitan dengan bisnis Anda, atau berkaitan dengan pengembangan kepribadian. Atau bisa juga berkaitan dengan cara baru dalam beramal, dan Anda ingin bangga (paling tidak dalam diri sendiri) Anda lah orang pertama yang beramal dengan cara itu.
Kemudian, ketika rencana Anda belum sempat diwujudkan, Anda dikejutkan oleh berita di koran atau di situs-situs berita. Seseorang melakukan persis seperti yang Anda rencanakan. Persis!!!
Anda kemudian mencoba mengingat-ingat. Kepada siapa saja pernah Anda ceritakan rencana itu. Sebagian Anda ingat, tapi sebagian teman yang lain, Anda tidak ingat. Tetapi Anda sangat yakin, orang yang melakukan rencana Anda, pasti bukan orang yang Anda kenal. Sehingga tidak mungkin Anda pernah menceritakan rencana kepada dia. Jadi, dari siapa dia mencuri inspirasiku ya?
Inspirasi itu milik Anda? Ide itu milik Anda?
Saya punya mobil, dan mobil itu ada buku pemilikan kendaraan bermotor (BPKB). Jadi mobil itu, milik saya. Saya sering terinspirasi untuk menulis, membuat atau melakukan sesuatu. Tetapi, seumur hidup saya yang belum panjang ini, saya tidak pernah tahu ada badan atau lembaga atau organisasi atau apapun yang menerbitkan buku pemilikan inspirasi (BPI). Jadi saya belum pernah menjadi pemilik inspirasi. Inspirasi yang manapun. Itu bukan milik saya.
Kalau ada orang yang mencuri mobil, kemudian si pemilik menunjukkan bukti berupa BPKB, maka jelas sudah ada yang mencuri. Tapi, karena tidak pernah ada BPI, setahu saya yang belum terlalu luas pengetahuannya ini, maka tidak ada yang jelas-jelas menjadi pencuri inspirasi.
Jadi mengapa sebuah inspirasi yang sedemikian rahasia bisa dilakukan oleh orang lain?
Anda tahu, bahwa inspirasi lahir dari proses berfikir kreatif. Dan kreatif itu adalah menyambung yang terpisah dan melepas yang tersambung. Halah, sulit amat sih formulanya? Tetapi proses kreatif itu adalah sebuah lingkaran tentang menyambung yang terpisah dan melepas yang tersambung, lalu menyambung kembali yang terpisah.
Begini, seseorang punya pembantu rumah tangga. Kemudian dia menonton R2D2 atau are-too dee-too, di film Star Wars. Kemudian lahirlah Advanced Step in Innovative Mobility (Asimo). Lahir dari tangan-tangan ahli riset dan pengembangan robotik Honda di bawah pimpinan Mr Masato Hirose, Senior Chief Engineer of the Wako Research Institute, Honda R&D Co, Ltd.
Coba Anda ingat-ingat, ada berapa banyak orang yang memiliki pembantu rumah tangga dan menonton Star Wars? Sepuluh orang? Seribu? Sejuta? Jadi seberapa sulit timbulnya inspirasi membuat robot seperti Asimo? Itulah menyambung yang terpisah.
Anda pernah lihat foto-foto teman Anda. Sekeluarga, sendiri-sendiri semua anggota keluarga. Di pasang di dinding. Di seluruh penjuru rumah. Lalu kemudian muncul foto-foto seperti itu di cangkir, di piringan jam meja, di keramik yang tertempel di dinding. Hei, foto-foto itu mestinya dipigura atau dalam album, mengapa bisa foto dan album bisa terpisah? Kalau gitu dia pesan banyak untuk dapatkan foto-fotonya di cangkir?
Tidak juga. Selama ini selalu ada anggapan bahwa setiap foto yang dicetakkan langsung di badan gelas haruslah tersambung dengan konsep dicetak banyak-banyak. Sekarang tidak lagi. Kedua hal itu sudah dipisahkan.
Jadi inspirasi tidak bisa dicuri? Padahal aku sudah susah-susah mencarinya....
Bentar dulu. Benarkah Anda mencarinya? Berarti inspirasi ada di suatu tempat di luar Anda, jauh dari Anda, tidak melekat dengan Anda. Begitukan kalau sesuatu itu harus kita cari?
Tidak. Anda tidak mencarinya. Anda hanya perlu membuka “pintu otak” Anda. Apapun yang Anda lihat dan dengar. Apapun yang Anda kecap dan sentuh. Semua itu ada di sekitar Anda. Semua itu disediakan oleh setiap hal di lingkungan Anda.
 
Kemudian neo cortex Anda akan mengolahnya. Menyambung yang terpisah dan melepas yang tersambung. Maka kemudian menjadi ide, menjadi inspirasi. Setelah itu, inspirasi tetap harus dilaksanakan. Tidak bisa diam sebagai inspirasi kemudian kita buatkan buku pemilikan inspirasi.
Benar ada Hak Atas Kekayaan Intelektual atau intelectual property right. Tetapi itu baru dapat dibuatkan bila ide atau inspirasi sudah disusun dan dilaksanakan sebagai sebuah sistem, atau dibuat menjadi sebuah produk seperti ASIMO. Sebelum itu, Anda belum bisa menjadi pemilik inspirasi.
Jadi sekarang Anda merasa memiliki inspirasi. Segera buatkan copyrightnya. Sayangnya, sebelum itu terjadi maka inspirasi itu harus diubah menjadi sistem atau produk. Sayangnya, Anda masih harus melakukan sesuatu yang mungkin tidak mudah.
Bahkan sesuatu yang harus Anda lakukan itu mungkin cukup sulit. Anda butuh waktu, tenaga bahkan uang untuk mewujudkan inspirasi Anda. Jadi, seperti Peter the Great, atau Pyotr Alexeyevich Romanov, sang pendiri kota St Petersburg atau Petrograd bilang ”Delay is Death”.
Tundalah, dan selamanya Anda merasa ada orang yang mencuri inspirasi Anda!!!

Bukakacamatakuda.blogspot.com – Medan – Januari 2009

Hujan-hujanan (3)


Inilah seri terakhir dari tiga bagian kolom ‘'hujan-hujanan'' yang tidak direncanakan. Menulis kolom ini memang jauh dari perencanaan. Karena ide yang tampaknya cuma sekelebat itu, jika dilebarkan, didalamkam, ditinggikan, bisa seluas cakrawala. Begitu juga menyangkut hujan-hujanan yang sedang ingin saya ceritakan ini. Satu hujan bisa dimasuki lewat seribu perasaan.

Hujan misalnya, bisa mengingatkan kegembiraan saya saat menatapkembali gunung di kampung saya dari keajuhan. Hujan juga mengingatkan kesedihan saya ketika usia SD, saat sudahmulai belajar jatuh cinta danpatah hati. Saya menulis surat cinta untukseseorang, gagal saya kirim, pertama karena takut. Kedua karena menjelang pengiriman, anak itu ternyata sudah lebih dulu pacaran.

Kesedihan patah hati untuk pertama kali, terjaditepat di saat hujan dan itu asyik sekali.
Tetapi hujan di umur saya yang hari ini, sudah berhubungandengan penyakit. Saya sangka pusing di kepala yang mulai rajin berdatangan ini lebih karena saya kelelahan. Maka mumpung hari hujan saya ingin menebusnya untuk istirahat dengan cara tidur berkepanjangan. Tak peduli meskipun bumi teguncang dan langit terbelah,istirahat ini harus diselenggarakan. Tapi bangun dari tidur yang saya sangka hendakmengembalikan kesehatan itu, mata malah berkunang-kunang. Kepala berat sebelah dan leher seperti kemasukan tiang.

Pada saat semacam ini, menatap apa saja terasa sebagaibencana. Tak terkira derita seseorang, ketika bahkan dalam istirahat pun, yang terasa adalah kesengsaraan. Maka ditengah sakit kepala yang dahsyat itu, saya masih memberikesempatan otak saya berpikir: lho, ternyata ada jenis istirahat yang tidak menyembuhkan. Saya lelah iya, tetapi saya sudahtidur berjam-jam. Tidur ini rasanya lebih dari cukup tapi kenapa sakit ini tak kunjung hilang. Maka pasti ada yang keliru dari rumus istirahatyang sedang saya peragakan ini. Jangan-jangan ada jenis istirahat yang tersimpan tidak cuma dalam tidur. Maksa saya mencoba mencarinya di dalam hujan.

Hari itu badan saya menggigil lebih karena suhu tubuh yang menurun. Kepala berdenyut kencang dan perut mual bahkan begitu mencium bau makanan. Karena tidur sudah bukan jawaban saya meminta izin istri untuk hujan-hujanan saja. Mumpung di lantai atas ada ruang tak beratap dan saya bisa menyambut hujan dengan gaya apa saja. Untuk menyempurnakan ide ini saya mengajak anak-anak untuk menemani bapaknya tentu sambil merayu habis-habisan ibu mereka yang ketakutan. Hasilnya, dengan tubuh menggigil dan kepala berdentuman saya menerobos hujan, berlari-lari, telentang, berguling-guling dan main gulat-gulatan. Jika nafas mulai ngos-ngosananak-anaksaya ajak tidur telentang membiarkan air hujan menghajar apa saja: mulut, hidung, mata, sekujur wajah,sekujur badan... pokoknya inilah hujan-hujanan paling brutal yang pernahsaya lalukan.

Kepada anak-anak saya perintahkan untuk membangun bendungan dengan caramenyusun apa saja. Balok-balok bekas, panci rombeng, ember-ember rusak. Apa saja agar ia menampung sebanyak mungkin kubangan. Tetapisetelah bendungan itu meninggi, harus dihancurkan kembali. Kaleng-kaleng itu kami tendangi. Ember-ember itu kami rusak apalagi dasarnya ia memang sudah ember rusak. Setelah bendungan itu hancur kami membangun bendungan lagi setelah bendungan itu jadi kami rusak lagi.

Jika hujan ada tanda-tanda mereda kami saya mengajak anak-anak berdoa agar ia datang lagi.Apalagi mau hujan deras mau tidak toh kota kami kebanjiran juga. Jadi sambil kebanjiran, kenapa kami tidak sekalian berembira. Dan inilah saatanak-anak bisa menikmati hujan secara tak biasa karena langsung dikawalsendiri oleh bapaknya. Begitu penuh saya dan anak-anak menikmatihujan hingga berujung pada kelelahan dan sakit kepala yang berdentuman itu jadi lenyap entahke mana. Rampung hujan-hujanan kelaparan mendera luar biasa dan saya membujuk anak-anak agar sekeras mungkin merayu ibunya, kalau pelru dengan bersujud di kakinya agar mau membuat mirebus panasdengan tingkat kepedasan yang tak kalah gilanya.

Woo... istirahat itu ternyata bisa bersembunyi di balik apa saja. Tidak cuma didalam tidur, tetapi juga di dalam kegaduhan dan hujan,sepanjang di dalamnya terdapatkegembiraan. Jadi hidup yang gembira adalah istirihatyang sesungguhnya!
Prie GS

Kerja Ikhlas = Kerja Bodoh?



Di jaman yang hampir semua hal diukur dengan materi, kerja ikhlas menjadi hal yanglangka. Pelakunya pun kerap disebut orang aneh, orang antik atau orang yang melakukan hal bodoh. Kebanyakan orang di jaman ini memang bekerja dengan "tulus" tetapi tidak ikhlas! "
Lho, apa bedanya Pak?", tanya para mahasiswa yang mengikuti kuliah atau seminar saya. Saya sering menjawab,"Tulus adalah singkatan dari TUjuannya fuLUS". Jadi bekerja karena motivasinya adalah untuk mendapatkan uang. Jika mendapatkan uang banyak maka bekerja keras dengan sangat baik, tetapi jika mendapat uangnya sedikit maka kerjanya asal saja.
Hal inilah yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Bekerja untuk memperoleh imbalan yang setimpal dengan pekerjaan menurut ukurannya masing-masing. Tetapi jika bekerja dengan hati ikhlas, berarti bekerja dengan berdasarkan kasih dan kerelaan hati. Seperti matahari pagi yang selalu rajin tidak pernah terlambat selalu bersinar dan tidak pernah mengharapkan imbalan atau balasan kembali. Matahari juga tidak peduli apakah manusia mau menerima sinarnya atau bahkan menolaknya.
Sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang teman saya terjadi di Bandung beberapa waktu yang lalu. Kisah nyata ini dapat dijadikan suatu bahan renungan tentang keihklasan hati dalam bekerja.Seorang mahasiswa yang baru lulus menjadi sarjana kedokteran di sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung memilih untuk bekerja menjadi asisten laboratorium di almamaternya. Penghasilan yang diterimanya sebagai asisten lab sangatlah kecil, bahkan tidak mencukupi walau pun hanya untuk membayar biaya transportasi ke kampusnya. Tetapi dia mencintai pekerjaan menjadi asisten dan melakukannya dengan ikhlas karena memang mencintai pekerjaan mengajar.
Banyak orang yang mengatakan bahwa dia bodoh karena memilih bekerja menjadi asisten lab. Padahal sebagai sarjana kedokteran dari universitas negeri terkenal, dia memiliki peluang besar untuk bekerja di perusahaan swasta yang memberikan penghasilan berpuluh-puluh kali lebih besar.Walau orang tuanya pun mendesaknya untuk mencari pekerjaan lain, dia tetap memilih membantu almamaternya menjadi asisten lab. Semua hal itu dilakukan dengan hati yang ikhlas. "Pekerjaan ini membahagiakan hati saya", katanya. Suatu saat datanglah seorang profesor dari Jepang berkunjung ke universitas tersebut. Karena semua dosen sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, maka ditugaskanlah asisten lab tersebut untuk menemani dan membantu sang profesor selama berada di Bandung.
Asisten tersebut bisa saja menolaknya karena hal itu bukanlah tugasnya sebagai asisten lab. Dia tidak dibayar untuk hal itu. Tetapi dia memilih untuk tetap menerima tugas itu dengan hati yang ikhlas dan berusaha membantu sebisanya tanpa mengeluh.Walau pun sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang, dia berusaha sebaik mungkin membantu sang profesor. Mengantarnya mencari makanan untuk makan siang dan makan malam, berbelanja oleh-oleh Bandung, berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu, dan tempat-tempat wisata lainnya. Dia selalu mengantar ke mana pun sang profesor ingin pergi dengan tersenyum. Setiap hari dia menjemput sang profesor dan mengantarkannya kembali ke hotel tempat sang profesor menginap. Sampai saatnya profesor itu kembali ke Jepang, sang profesor memberikan jam tangannya kepada asisten lab tersebut sebagai tanda terima kasih. Hati sang Profesor sangat tersentuh dengan keramahan dan keikhlasan hati asisten lab yang telah membantunya selama berada di Bandung.
Beberapa tahun kemudian, sang profesor telah terlupakan dalam ingatan asisten lab tersebut. Dan dia masih bekerja masih bekerja ikhlas sebagai asisten di universitas tersebut. Hingga datanglah sebuah kesempatan beasiswa belajar kedokteran sampai jenjang S-3 dari sebuah universitas di Jepang bagi akademisi di universitas negeri di Bandung tersebut.Dosen-dosen yang lebih senior segera mengirimkan aplikasi permohonan beasiswa ke universitas di Jepang tersebut.
Tetapi ternyata oleh universitas di Jepang yang memberi beasiswa tersebut semuanya ditolak! Ternyata sang Profesor di universitas Jepang itu yang menolaknya. "Saya hanya mau menerima dan merekomendasikan anak muda yang dulu pernah antar-antar saya selama saya di Bandung!", katanya dengan tegas. Akhirnya sang asisten lah yang mendapatkan kesempatan untuk meneruskan kuliah dengan beasiswa di Jepang. Dia melampaui dosen-dosennya yang lebih senior untuk mendapat kesempatan kuliah lebih tinggi.
Kabar terakhir yang saya terima, saat ini dia masih sedang menyelesaikan kuliah S-3 kedokterannya di Jepang. Dari kisah nyata itu saya berkesimpulan bahwa kerja ikhlas bukanlah kerja bodoh, melainkan kerja yang sangat pintar!Walau pun dengan bekerja ikhlas kita tidak dipedulikan atasan kita, orang disekitar kita, atau tidak dipedulikan orang lain... tetaplah bekerja dengan x-tra kerja ikhlas! Faktor X ke tiga dalam fondasi kesuksesan seseorang, seperti yang saya jelaskan pada buku unik bestseller " 8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit : Rahasia Dahsyat Meraih Impian". Ingatlah! Bahwa walau pun semua orang di dunia tidak peduli dan menutup mata terhadap apa pun keikhlasan yang kita perbuat, tetapi Tuhan akan selalu peduli dan tidak akan menutup mata Nya kepada keikhlasan hati kita.
Di saat yang TEPAT Dia akan memanggil malaikat Nya, "Kat, Kat, malaikat...kasih BERKAT untuk orang yang ikhlas itu". Mengenai Faktor X ke tiga dari fondasi kesuksesan, yaitu x-tra Kerja Ikhlas, anda dapat membacanya lebih lengkap di buku "8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit".
"Buku Ajaib" yang dapat mengubah hati banyak orang, demikian komentar banyak orang yang telah membacanya.
[Victor Asih, Founder Sekolah Bisnis Gratis USB, Mentor, Entrepreneur, Inspirator, Motivator, Software Engineer & Information Technology Consultant, Kolumnis, Penulis Buku Unik Bestseller "8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit"]Penulis bisa dihubungi melalui email victorasih@yahoo.co.id atau kunjungi websitenya www.usbschool.com atau blog usbschool.blogspot.com

Hambatan



Beberapa orang setengah baya sekarang terjangkit "penyakit" mentog. Artinya kemampuannya sudah "mentog" atau sudah pada titik jenuh yang tidak bisa ditambah lagi. Kalau kita berada di dalam ruang, kemudian akan menempatkan sesuatu lebih tinggi dari posisi sekarang, barang itu kita naikkan. Dalam proses menaikkan itu, kita akan sampai ke atap bangunan itu, sehingga tidak bisa dinaikkan lagi. Itulah yang dinamakan "mentog". Seperti itulah bahayanya "penyakit mentog" dalam masyarakat.

Karena penyakit "mentog" ini, ada banyak akibatnya.
Ketikamelihat film Oshin, ada cerita Oshin dari desa bekerja di salon pada suatu kota. Sebagai manusia bermoral, dia menolong pekerja salon melakukan pekerjaannya. Ternyata pekerja yang ditolong marah. Oshin tidak mengerti. Dengan bekal moralnya, dia berusaha menolong, namun tetap kena marah teman sekerjanya. Teman sekerja itu khawatir kalau Oshin akan menjadi lebih trampil, sehingga Oshin akan lebih baik bekerja dari dirinya. Kekhawatirannya adalah mengenai pekerjaan yang sekarang hanya mampu dikerjakan akan didesak oleh pendatang baru. Akibatnya lebih fatal bias menjadikannya PHK.

Hal seperti ini banyak terjadi di kalangan industri kita. Persaingan bisa dilakukan terbuka, bisa tertutup. Generasi "lama" berusaha menghambat kecepatan kerja "generasi baru" agar dirinya tidak terdesak. Berbagai cara dilakukan, mungkin mengancam, mungkin mengikatnya dengan hutang, mungkin mensabot pekerjaannya atau ada kemungkinan lain, termasuk menfitnah.
Kalau para pengawas tidak waspada, terjadi hambatan kerja. Hal tersebut merupakan hambatan dalam meniti masa depan. Kewaspadaan bagi setiap orang untuk mengupayakan lenyapnya hambatan latent ini, apalagi kekhawatiran akan ketahanan hidup karena makin sulitnya lapangan kerja.

Generasi "lama" yang mempunyai moral etik terpuji akan terus berusaha meningkatkan diri menyesuaikan kemajuan teknologi yang sudah melanda negeri kita akibat globaliasi.
Ada yang malas mengenakan kacamata, mata buram ketika bekerja sehingga sebagai teknisi sulit memasukkan alat memutar mur dan baut. Begitu juga sebagai penjahit sulit memasukkan benang pada lobang jarum. Memang akhirnya pekerjaan itu dapat dilakukan setelah terjadi kegagalan beberapa kali. Dia juga sudah "mentog" berusaha sehingga kerja jadi tidak prima. Begitu juga jangan biarkan pendengaran kurang bila kerjanya menyimak suara. Alat Bantu dengar bisa digunakan.
Kalau kesadaranterwujud, seluruh komponen punya semangat meniti masa depan. Masing-masing bisa berperan untuk mewujudkan pembangunan bersama, bukannya menghambat. Jangan membiarkan banjir datang setiap tahun, namun apa yang dilakukan untukmenanggulangi agar banjirtidak datang pada musim hujan. Penanggulangannya dilakukan pada musim kemarau, bukannya pada musim hujan.

Itulah catatan untuk meniti masa depan. Bila kesadaran ada pada setiap orang Indonesia, kecemerlangan akan terwujud dihadapan kita untuk warisan generasi penerus. Untuk Indonesia yang jaya !
Sukses untuk yang mau terus belajar !

Menjadi Pemenang (bag I)




Mungkin kalau kita mau merenung, sebenarnya tidak sederhana, ketika kita mengemukakan sebuah nasehat untuk ‘Menjadi Pemenang’. Sebuah nasehat yang sepertinya saat ini begitu sering terdengar di telinga. Dan saya memang lebih suka mempersepsikan hal ini pada sebuah tingkatan pemahaman, yang tentunya kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk paham pada sesuatu yang saat ini belum berada tingkat pemahamannya. Seperti analogi pada seseorang yang masih pada tahap awal belajar piano, rasanya tidak mungkin kalau dia sudah disodori deretan partitur gubahan yang begitu rumit untuk dimainkan. Hanya saja, yang penting bagi si murid sekolah piano ini, bahwa di awal proses belajarnya dia paham akan tingkatan-tingkatan yang harus dilaluinya.
Entah kita sadari atau tidak, tapi perilaku budaya kita saat ini juga banyak menggiring pemahaman akan makna pemenang. Bahkan sampai membuat makna itu cukup berbeda signifikan secara umum secara gender. Mari coba kita renungkan, seorang anak laki-laki lebih banyak dari kecil dididik untuk melihat bahwa dunia ini adalah sebuah persaingan. Sementara anak perempuan secara naluriah lebih melihat kehidupan sebagai sebuah kebersamaan.
‘Menjadi Pemenang’ bagi sebuah paradigma ‘persaingan’ tentunya akan diterjemahkan secara berbeda oleh seseorang yang memiliki paradigma ‘kebersamaan’. Hal inilah yang mungkin membuat slogan dan penjelasan panjang lebar ‘Menjadi Pemenang’ tanpa diikuti oleh perenungan akan pemahaman paradigma diri, akan menyebabkan penajaman makna persaingan atau kebersamaan itu sendiri dalam diri.
Dalam konteks ini, kita memang tidak bisa melihat secara benar salah, tapi saya mencoba melihat hal ini pada sebuah tingkatan. Dimana tingkatan yang pertama adalah sebuah kemenangan pada sebuah atmosfer persaingan. Karena yang terjadi apakah sebuah persaingan atau tidak sebenarnya bukan pada keadaan itu sendiri, tapi lebih kepada cara pandang kita melihat sebuah kondisi.
Orang yang melihat segala hal sebagai iklim persaingan, tentunya akan menerjemahkan bahwa ‘Menjadi Pemenang’ berarti mengalahkan. Pendekatan Stephen Covey akan hal ini ada pada istilahnya mengenai Scarcity Mentality. Sebuah Mentalitas yang melihat segalanya serba terbatas. Pada batas tertentu hal ini memang bisa positif, terutama dalam membakar semangat dan motivasi dalam melihat rintangan kehidupan. Tapi tanpa pendalaman dan perenungan lebih lanjut, hal yang positif ini bisa menyeret kepada sesuatu yang tidak baik.
Pernah saya melihat pada sebuah lomba gambar anak-anak. Ada seorang anak yang memang terkenal selalu menjuarai lomba gambar di daerahnya sendiri. Piala dan penghargaannya begitu banyak. Tapi kali ini si anak harus mengikuti lomba di luar daerahnya. Dan benar, kali ini si anak sama sekali tidak mendapat nomor urutan juara. Alih-alih si orang tua berusaha untuk mendidik anaknya agar sesekali menerima kekalahan dan kekecewaan, si orang tua ternyata sudah menyiapkan piala membawa diam-diam dari rumah. Menunggu sampai sebagian besar peserta pulang, kemudian datang kepada panitia, agar mengumumkan di panggung memberi piala yang dibawanya agar diberikan ke anaknya.
Saya menilai kejadian itu, bahwa sang orang tua masih melihat ‘Menjadi Pemenang’ dalam tingkatan hanya pada sebuah iklim kompetisi. Dan tidak berusaha menggali tingkatan lebih lanjut. Sehingga motivasi yang begitu kuat kepada si anak untuk membuat gambar yang sebaik-baiknya dalam lomba itu, proses pembelajarannya justru terganggu oleh jalan pintas yang akan menghambat pendewasaan si anak.
Tingkatan yang kedua adalah ‘Menjadi Pemenang’ dalam sebuah pemahaman iklim ‘kebersamaan’. Sebuah iklim yang melihat bahwa semua orang pasti berpihak kepada kita. (bersambung)
 
 
Pitoyo Amrih
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga

Karakter Baku



Sungguh pintar beliau satu ini dalam bermain kata. Dalam satu kesempatan, beliau menggunakan istilah Karakter Baku, baik dan kuat. Ini sangat diperlukan karena bila karakter kuat seperti disiplin dan berani, bergabung dengan karakter buruk seperti licik, egois dan mau untung sendiri, akan melahirkan orang-orang yang korup dan penipu-penipu ulung. Rasanya Anda sekarang sedang menyebut beberapa nama, dalam hati Anda.
Biar saja dulu nama-nama itu berada dalam hati Anda, karena tidak ada gunanya Anda katakan nama-nama itu. Keberadaan mereka memang sangat merugikan bagi Anda dan banyak orang di Indonesia. Karena itu pula negara kita tercinta ini seperti sekarang. Tidak apa yang penting apa yang terjadi pada kita semua, itu yang jauh lebih penting.
Nah, mari kita balik ke Karakter Baku tadi. Dalam karakter baik, harus ada kejujuran. Bermain dengan kejujuran berarti bermain dengan kehancuran. Ketidakjujuran adalah menghianati diri sendiri. Karakter baik ke dua, adil. Bisnis bukan perkara uang, melainkan perkara kehormatan. Kelicikan dan ketidakadilan, berarti sedang berbuat dzolim, ketika itu sebenarnya kita mendzolimi (menistai) diri kita sendiri. Karena setiap perbuatan akan kembali pada pembuatnya, itu hal yang pasti.
Karakter baik ke tiga adalah amanah, penuh tanggung jawab. Lebih baik kepala diinjak tapi tetap memegang tanggung jawab, daripada berdiri gagah, tetapi menjadi orang yang menghindar dari tanggung jawab.
Karakter kuat yang harus dimiliki adalah, berani. Tanpa keberanian, seseorang tidak akan pernah berbuat sesuatu. Apakah orang berani tidak pernah takut? Beliau bilang tidak, orang berani adalah orang yang tidak kalah dengan hal yang dia takuti. Takut justru anugrah dari Allah, agar kita cermat.
Takut rugi, takut celaka adalah hal yang normal dan merupakan sesuatu yang terus ada dalam diri setiap manusia. Tetapi kalah dengan rasa takut, akan membuat kita celaka dan rugi.
Karakter kuat yang ke dua adalah disiplin. Beliau memberi contoh, air yang lembut dan terus secara disiplin menetes ke atas sebuah batu, akan membuat batu menjadi berlubang. Begitulah bila kita menjadi disiplin.
Bicara tentang disiplin, saya sendiri lebih suka menyatakan itu sebagai konsisten dan persisten. Tetap pada satu arah tertentu dan terus saja berjalan ke arah yang sudah kita ketahui, maka kita akan lebih mudah. Tetapi, mari kita simak saja apa yang beliau katakan di sebuah seminar bisnis.
Disiplin yang baik muncul bukan karena imbalan dan bukan karena takut hukuman, tetapi karena kehormatan. Eh, ada yang senyum malu-malu di pojok tuh... Mudah-mudahan bukan karena dia berdisiplin sebagai akibat dari takut hukuman, ya? Karena kalau begitu, jelas bukan mental orang-orang yang merdeka.
Karakter kuat ke tiga, adalah sungguh-sungguh. Tidak bisa setengah-setengah. Lakukan semua yang mampu kita lakukan. Seorang teman saya bilang, I will do it whatever it takes. Bukan hanya lakukan yang terbaik, lakukan semua yang kita bisa apapun itu.
Kalau karakter kuat dan baik sudah Anda miliki, maka sikap hidup Anda menjadi baik dan memberi manfaat bagi orang sekitar.
Dengan demikian akan ada rezeki bagi Anda. Sayangnya Anda tidak dapat mencari rezeki, karena itu berarti rezeki belum tentu ada. Anda harus menjemput rezeki. Menjemput, pasti ada, walaupun belum tentu bertemu.
Sepanjang pengetahuan saya, setiap orang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, lengkap dengan rezekinya. Kita saja yang tidak bersedia melakukan semua yang mampu kita lakukan, demi untuk menjemput rezeki itu.
Ada lima hal yang harus terus berada di pikiran kita, agar kita berhasil menjemput rezeki. Tidak akan meleset dan tidak akan tertukar. Kalau Anda yang bersekolah, walau hingga SD, dan takut tidak kebagian rezeki. Coba lihat gajah. Hanya yang di Lampung saja yang bersekolah, tetapi semua gajah gemuk-gemuk. Bagaimana mungkin Anda tidak kebagian rezeki, guyon beliau.
Nyamuk punya sayap, sementara cicak tidak punya sayap. Sementara cicak makan nyamuk, padahal tidak punya sayap. Rasanya Anda dan saya tidak pernah lihat cicak yang stress karena tidak mendapatkan makanan.
Nah, lima hal tadi adalah: baru dapat dikatakan untung bila pekerjaan kita atau usaha kita membuat kita dapat beramal saleh. Karena apapun yang kita dapatkan dari pekerjaan dan usaha tidak akan kita bawa mati, hanya amal yang kita miliki. Maka dalam berusaha dan bekerja, pastikan niat harus lurus cara harus benar. Dan itu yang memberi kita amal saleh, menurut beliau.
Ke dua, disebut untung bila hasil kerja atau hasil usaha kita membuat nama kita jadi bagus. Apa artinya uang dapat nama hancur. Melakukan korupsi sekian milyar kemudian persidangan korupsi diberitakan di televisi hingga istri dan keluarga istri menjadi malu dan minta cerai.
Setiap kali kita melakukan pekerjaan atau berusaha, terpikirkah bahwa betapa malunya anak cucu kita karena kita meninggalkan nama yang sangat buruk? Maka bekerjalah dan berusahalah agar mendapatkan kehormatan. Bukan membayar orang lain untuk menghormati kita.
Keuntungan ke tiga, adalah ketika kita berusaha atau bekerja, semakin lama kualitas diri dan kepribadian kita semakin meningkat menjadi lebih baik. Apalah artinya uang semakin banyak atau jabatan semakin tinggi, tetapi hati semakin miskin? Apalah artinya mobil semakin bagus tetapi sikap dan kepribadian semakin jelek. Bisnis adalah membangun kualitas diri.
Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita bisniskan, tidak menghasilkan untung ketika diri tidak semakin berkualitas, walaupun penghasilannya sangat tinggi. Bahkan, ketika kualitas diri kita hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita rugi besar!!!
Keuntungan ke empat, bila semakin tinggi jabatan atau semakin lama kita berbisnis, semakin banyak orang yang menjadi saudara kita. Apa artinya uang dan jabatan kalau kita harus membayar orang untuk melindungi kita dari musuh??!! Untuk apa lagi peningkatan karir dan keuntungan usaha, kalau orang-orang di sekitar kita menjadi benci? Apa artinya kita mendapatkan sesuatu kalau harus kehilangan sahabat?
Kalau orang mencintai kita, maka dia akan bersedia memberikan ilmunya kepada kita. Kalau orang mencintai kita, maka pengalamannya akan diajarkan kepada kita. Kalau orang mencintai kita, modalnya akan dititipkan kepada kita. Kalau orang mencintai kita, kekuatannya akan melindungi kita, tanpa diminta bahkan tanpa harus dibayar. Kalau orang mencintai kita, sahabatnya akan menjadi sahabat kita. Karena itu, ketika bisnis membuat kita memperbanyak tali persahabatan dan persaudaraan, baru Anda mendapatkan untung. Persaudaraan tidak dapat dipelihara dengan uang, tetapi dengan hati yang ikhlas.
Hal ke lima yang disebutkan untung dalam bisnis adalah ketika dalam menjalankan bisnis kita dapat membuat dan membantu banyak sekali orang lain menjadi beruntung. Semakin banyak orang yang bisa makan dengan tetesan keringat kita. Semakin banyak orang berilmu dengan curahan tenaga kita. Semakin banyak orang yang sejahtera karena kita beri dia kemampuan menjadi lebih sejahtera. Itulah yang dinamakan untung saat kita dapat membantu orang lain mendapatkan keuntungan.
Sekedar mengingatkan, kalau kita dipuji, maka yang dipuji adalah orangtua dan guru-guru kita, bukan diri kita. Tetapi kalau ingin mengukur kesuksesan kita, maka lihat seberapa banyak orang yang sukses karena bimbingan kita. Berapa banyak orang yang jadi terpuji karena keberadaan kita. Itulah tanda kesuksesan kita.
Tidak penting kita dipuji atau tidak, yang penting kita berhasil membuat sangat banyak orang menjadi terpuji. Itulah kesuksesan kita. Sungguh pelajaran yang sangat luar biasa dari seorang yang luar biasa!!!
Beliau yang mengatakan adalah Bapak Abdullah Gymnastiar. Ya, Anda mengenalnya dengan nama Aa Gym. Pelajaran yang beliau sebarkan di sebuah seminar bisnis. Sungguh luar biasa, ketika seorang Kiai bersedia hadir dalam sebuah seminar yang dihadiri anggota komunitas bisnis. Padahal selama ini orang menganggap pemuka agama tidak akan dapat bergaul baik dengan pebisnis. Banyak orang yang menganggap bisnis merupakan sesuatu yang jauh dari agama.
Astaga!!! Benarkah Anda yang berpikir demikian? Bisnis yang baik adalah yang dijalankan dengan dignity, dihormati bukan karena Anda paksa, tanpa perlu dibayar, dan tidak pula harus bertopeng. Sungguh sangat erat antara agama dan bisnis dari sudut pandang beliau.
Anda tahu, bila kita menjalankan hal tersebut, lebih dari sekadar mengajarkan kepada orang lain. Melakukan terlebih dahulu tanpa peduli orang akan mengikuti perbuatan kita. Terus melakukan, hingga orang-orang meniru dan mengikuti setiap perbuatan Anda. Itu berarti baru Anda dapat dikatakan berhasil.
Apa yang kita dapat dari kata-kata beliau? Bahwa motivasi dan kepemimpinan tidak dapat hanya diajarkan. Dua hal itu harus Anda lakukan sendiri dahulu. Lakukan bahkan tanpa ada yang bersedia mengikuti apa yang lakukan. Karena seorang pemimpin akan menjadi seorang manajer yang bagus. Tetapi seorang manajer belum tentu menjadi pemimpin yang baik.
Jadi, pertanyaannya: Bersediakah Anda menjadi pemimpin? Melakukan terlebih dahulu semua yang terbaik, hingga orang mengikuti semua perbuatan anda. Atau menunggu orang lain mau mengikuti kata-kata Anda, baru Anda bersedia melakukan yang Anda katakan. Rasanya Anda hanya menjadi provokator bila hanya bisa berkata-kata tanpa menjadi teladan, bukan pemimpin apalagi motivator.
Bersediakah Anda mendapatkan lima keuntungan sejati tadi dan hidup dengan prinsip-prinsip orang yang berkarakter baku? Bukankah Sun Tzu mengatakan bukan seberapa panjang usia Anda, tetapi bagaimana Anda mengisinya.
Ada pilihan untuk menjadi ayam atau menjadi elang. Kabar buruknya adalah, ayam seringkali menjadi makanan elang. Jadi bersediakah Anda?
www.bukakacamatakuda.blogspot.com – Medan – Maret 2009

Alam Yang Mengerti Anda


Kemarin saya pulang kampung , tiba - tiba ketemu dengan seorang teman lama , setelah berbincang seru, tiba - tiba dia melontarkan pertanyaan yang sangat menarik, "Kenapa ya kok bisa orang baik tapi hidup melarat dan orang yang licik, jahat , bisa kaya raya ? Bukankah seharusnya menurut semua ajaran dibuku apa saja, orang yang menanam baik akan menuai baik dan sebaliknya ?"
Saya terdiam, dan kemudian saya berkata, "Tak pikir dulu ya , besok tak jawab".
( dasar bukan professor, jadi selalu butuh waktu sebelum menjawab )
2 hari berlalu, dan saya memberikan jawaban ,menurut pengalaman hidup dan pemahaman pribadi saya , ( mungkin jawaban ini belum cukup memuaskan karena setelah terjawab pun, saya masih melihat dahi dia berkerut ), tetapipantang mundur toh saya kemudian tersenyum manis setelah menyampaikan secara verbal hasil daya pencerapan dan pemikiran yang bagi saya sudah the best !!!
Jawaban saya sbb :
Ketika seseorang berbuat baik, maka alam mencatat, demikian juga ketika mereka berbuat jahat, alam juga tidak akan lupa mencatat, dan yakin 100% alam tidak pernah salah mencatatkan ‘kelakuan' kita setiap hari.
Atas kemelaratan orang tersebut secara finansial, saya yakin dalam kehidupan dia sehari-hari pasti sering terucap ‘Ndilalah kok ya ada yang menolong.' ‘Ndilalah kok ya ada saja rejeki untuk membayar uang SPP anak-anak.' ‘Ndilalah kok ya ada yang bisa kita makan hari ini' "Duh puji syukur Gusti hari ini kami dicukupkan"
Kata ‘ndilalah' dalam bahasa gaul jawa tidak bisa saya terjemahkan secara jelas dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi paling tidak maksudnya adalah, ketika ada peristiwa apapun ( yang menurut kaidah keseharian digolongkan sebagai kemalangan ), tidak tahu bagaimana,oleh siapa,karena apa ,selalu ada pertolongan.
Atas kekayaan seseorang secara finansial, saya yakin dalam kehidupan dia sehari-hari banyak yang sudah terampok dari ketenangan, kebahagiaan, bahkan keharmonisan dan keseimbangan hidupnya. "Waduh, sudah di suap ratusan juta kok ya aku tetap diperkarakan." "Cilaka , sudah sekolah di Amerika habis uang ratusan juta kok ya pulang cuman segitu tok tambah pinternya' "Lah uang saya milyardan bisa makan emas, kok ya cuman kena penyakit jantung dan kolestrol, trus piye to "
Alam menyeimbangkan.
Tidak ada yang gratis di dunia ini. Setiap laku, setiap keputusan, setiap tindakan , setiap keberadaan selalu ada label harganya.
Jika alam belum mendukung anda untuk menjadi milyader, mungkin karena alam lebih mendukung keberadaan anda sebagai manusia yang masih manusiawi
Jika alam belum mendukung anda untuk menjadi pengusaha, mungkin karena alam lebih mendukung kebutuhan akan manusia- manusia yang menjaga kelestarian alam.
Jika alam belum mendukung anda untuk menjadi pejabat, mungkin karena alam lebih mendukung keawetan integritas dan harga diri anda.
Jika alam belum mendukung anda untuk menjadi anggota legislatif, mungkin karena alam lebih mendukung terjaganya lingkungan sekitar ketika anda hanya menjadi ketua RT
Tiap tiap dari kita adalah manusia luar biasa, manusia dengan sejuta talenta, yang PASTI bisa anda lakukan adalah :TERUS MENERUS menjadikan dan melakukan NIAT yang terbaik, dengan APA yang anda punya saat ini, di lingkungan anda BERADA, diantara komunitas yang NYATA di sekeliling anda. Hanya itu.
Sisanya .... Biarlah alam yang tentukan.
Jika alam mendukung , maka percayalah dimanapun, siapapun anda, bagaimana jadinya anda , itulah karya Tuhan yang terbaik.
Salam hormat bagi semua manusia yang masih menjaga kemanusiaannya.