Showing posts with label ~ Certivasi ~. Show all posts
Showing posts with label ~ Certivasi ~. Show all posts

SEBUAH CIUMAN SELAMAT TINGGAL

SEBUAH CIUMAN SELAMAT TINGGAL
Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol
meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.
“Waduhhh,memalukan sekali aku ini, diusia tua kok tambah ngaco..”
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua mulai
menceritakan Saat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah
lain-lainnya.
“Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak
enak bagimu dulu.” Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.
“Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada
lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata
pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut
sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan cuma
cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan
saudara-saudara lainnya yang masih di rumah.”
Ia menatap kami dan berkata, “Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku.
Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi
mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak
lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas
dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering
ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya,
tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan.”
Suara Frank mulai merendah sedikit.
“Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua
yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya
daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan.
Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk
menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semoga
bisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak
dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan
selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri
mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan
memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yang
baik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur
dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat tinggal!”
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, “Aku ingat hari ketika kuputuskan aku
sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal. Waktu kami
sampai kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar.
Ia mulai memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata, ‘Jangan, ayah.’ Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, ‘Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal.
Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan.’
Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.
Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya,
pandangannya menerawang menembus kaca depan. ‘Kau benar,’ katanya.
‘Kau sudah jadi pemuda besar……seorang pria. Aku tak akan menciumimu
lagi.’”
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya,
ketika ia melanjutkan kisahnya. “Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut
dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian
besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak.Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan.
Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan
separuhnya lagi masih ada dilaut.Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba
menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapungnya.”
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, “Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang akan
kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada
pipiku….untuk merasakan wajah tuanya yang kasar……untuk mencium bau air
laut dan samudra padanya…..untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul
leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau aku
seorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku
bahwa aku terlalu tua ‘tuk sebuah ciuman selamat tinggal.”
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih
kita…..
oleh : Thomas Charles Clary
http://www.inspirasidaily.com/sebuah-ciuman-selamat-tinggal/

Suamiku….. .Aku begitu mencintaimu. ….

Suamiku….. .Aku begitu mencintaimu. ….
Cinta itu butuh kesabaran…
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ???
************ ********* ********* ********* ********* ********* **
Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..
Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah…..
Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu.
Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula
Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.
Kami berbulan madu di tanah suci,,itu janjinya ketika kami berpacaran
Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….
Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat memanjakan aku…. Sangat
terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat
sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah dengannya.
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* *******
5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun
kami hanya berdua saja.
Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat
kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu – satunya dalam keluarga nya,,jadi aku
harus berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya…
Alhamdulillah suamiku mendukung ku…. Ia mengaggap Allah belum
mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA.
Tapi keluarga nya mulai resah,, Dari awal kami menikah ibu & adiknya
tidak menyukaiku,, aku sering mendapat perlakuan yang tidak
menyenangkan dari mereka,,tapi aku menutupi dari suami ku…..
didepan suami ku,,mereka sangat baik pada ku,,tapi dibelakang suami
ku,,aku dihina – hina oleh mereka…
Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami
kecelakaan,, , mobilnya hancur
Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku
menjadi seorang janda.
Ia dirawat dirumah sakit,,pada saat dia belum sadarkan diri,,aku
selalu menemaninya siang & malam, kubacakan ayat – ayat suci Al -
Qur’an,aku sibuk bolak – balik rumah sakit dan tempat aku melakukan
aktivitas sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karean
kecelakaan.
Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami,,aku
melihat didalam kamarnya ada ibu, adik – adiknya dan teman – teman
suamiku, dan satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab
dengan ibunya. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika
melihat suami ku sudah sadar,,tapi aku tak boleh sedih di depannya.
Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan
“Assalammu’alaikum” mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di
depan pintu dan mereka semua melihatku,,, suamiku menatapku penuh
manja,,mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu
tertutup. Tangannya melambai,,mengisyar atkan aku untuk memegang
tangannya yg erat. Setelah aku menghampirinya, ku cium tangannya
sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan
suaranya yg lirih tapi penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat
wajahnya.
Ibu nya lalu berbicara sama aku …
“Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri”
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah
mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan diya sangat akrab dengan
keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga.
Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku biacara di
dalam ruangan,,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan & mengobati luka – luka di kepala
suamiku,,,baru sebentar aku membersihkan mukanya,,tiba – tiba adik
ipar ku yg bernama Dian mengajakku keluar,ia minta ditemani ke kantin.
Dan suamiku pun mengijinkannya. Aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata ” lebih baik kau pulang saja
” Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”
Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan
abang harus banyak beristirahat, karena sikologisnya masih labil,, Aku
berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi
tiba – tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg
sama, ia akan memberi alsan pada suamiku mengapa aku pulang tak
pamitan pada nya, toj suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik
ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi
meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata. Sejak saat itu
aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari
rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis
mengapa mereka sangat membenciku.
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* *******
Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut
kehilangannya, aku takut cintanya dibagi denagn yang lain. Pagi itu,
pada saat aku membersihakn pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku
ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di
ayunan favorit kami, sambil melihat ikan – ikan yang bertaburan di
kolam air mancur itu.
Aku bertanya ” Ada apa kamu memanggil ku ?”
Ia berkata ” Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang ”
Aku menjawab ” Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang – barang
kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?”
“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga
sdh lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan
aku kan pulang dengan mama ku ” Jawab nya tegas
“Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?”
tanya ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa
kecewa karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal
aku bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
” Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti ” jawab nya tegas
” Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu
tidak bertemu, ya kan ?” lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan mencium
keningku. Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku
tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya.
Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi
karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada
ku karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia saja
yg pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran
rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarga nya
harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang
atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun
tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan
keperluannya yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus
airmata yang jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini
bergumam seakan terjadi sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan
terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu
bersama – sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya
pembantu saja teman ngobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.
Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi kepergiannya.
Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak
boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan
selalu menelpon ku.
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* ********* ********
Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri.
Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku
tak terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk,saat ia di
sana aku pun jatuh sakit…rahimku sakit sekali seperti dililit oleh
tali,,,tak tahan aku menhan rasa sakit dirahimku ini,sampai – sampai
aku mengalami pendarahan,, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki
- lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena
kanker mulut rahim stdium 3…. Aku menangis,,apa yang bisa aku
banggakan lagi,,mertuaku akan semakin menghinaku,, ,suami ku yang
malang ,,yang berharap akan punya keturunan dari rahimku… Aku tak
bisa memberikannya keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.
Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,,kapan ia pulang, aku tak tahu..
Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu marah -
marah jika menelponku,, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia
selalu marah – marah terhadapku,,
Lebih baik aku tutupi dulu,,dan aku juga tak mau membuatnya khawatir
selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan
cerita pada nya.
Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku hitung….
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat
foto – f oto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk.
Ku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku yang sms, ia menulis
“aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari lagi, aku
aku kabarin lagi”.
Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam
saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku
menantinya di rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang
cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang,
dan aku akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir -
akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap salam,
sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri,
aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua
kakinya, aku tak mw ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami,
setelah itu aku pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi
nya …
Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia
langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan
bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam,
mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat
pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya, aku cium
kening nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* ********* ***
Aku mendengar suara mobinya, aku terbangun lalu aku liat dia dari
balkon kamar kami dia bersiap – siap untuk pergi, aku memanggil nya
tapi ia tak mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari
atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku
mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi,,ada apa dengan
suamiku…mengapa ia sangat aneh terhadapku ?
Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu.
Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian
yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang
terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab “Loe pikir aja
sendiri !!!” telpon pun langsung terputus.
Ada apa ini ? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku
berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau
berbicara padaku, apalagi memanjakan ku..
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas
tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya
saja, aku selalu di introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang
terlambat, ia bertanya denagn nada yg keras, suamiku telah berubah.
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya berzina dengan
mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah
menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun
salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu
yang aku pegang, aku hanya berdo’a agar suamiku sadar akan prilakunya.
*******
2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam,
lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja
kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun
kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapi segala
yang ia perlukan. Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia
tak pernah bertanya obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah
sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan
ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai
seorang guru ngaji jadi aku tak perlu repot – repot meminta uang pada
nya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi
orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir
sendiri.
Tiba – tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai, suamiku memanggilku.
“ya ada apa Yah !” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”
“Lusa kita siap – siap ke Sabang ya !” Jawabnya tegas
” Ada apa ?” Mengapa ?” sahutku penuh dengan keheranan
Astaghfirullah. ..suami ku yang dulu lembut menjadi kasar, diya
mebentakku,, tak ada lagi diskusi anatara kami.
Dia mengatakan ” Kau ikut saja jgn byk tanya !!! ”
Aku pun lalu mengemasi barang – barang yang akan dibawa ke Sabang
sambil menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.
2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia
menjadi orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh
cinta yang dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin,
sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin
rasanya aku berontak tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita
yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang -
barang, dia bilang perbuatan itu menunjukkan ketidakhormatan
kedapanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar
mengobati penyakitku ini sendiri.
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* ********* ********* *********
Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman
aku tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya telah
berkumpul disana, termasuk ibu & adik – adiknya, aku tidak tahu ada
acara apa ini.. Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak
betah didalam kamar tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga
besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dlm
lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada
sebelum suamiku lahir.
Tiba – tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku memanggil ku
untuk segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga yag
berada di tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda
diaman langit – langit nya lebih dari 4 meter. aku duduk disamping
suamiku, suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani
bertanya pada nya, tiba – tiba saja neneknya, orang yang dianggap
paling tua dan paling berhak atas semuanya membuka pembicaraan..
“Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau
Fisha ! ” Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata yang
tajam.
” Ada apa ya Nek ?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab ” Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8
tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda – tanda kehamilan yang
sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran !!’
Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau di
pisahkan dengan suamiku.
“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau
menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,
dan akhirnya menikahlah ia dengaa kau.” Neneknya berbicara sangat
lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah berkenalan dengannya”
Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin
aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya
keberanian.
Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari
pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia berkata ”
kau mau nya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?”
Masya Allah……. kuat kan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati
ini seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa keluarganya
bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di
pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun
belakangan ini.
“Fish, jawab !! ” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab
Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan
gemetar aku menjawab dengan tegas……. ..
” Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku
dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa
depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru
dirumah kami.”
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di bagi, pada
saat itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mata
ku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suami ku, “Ayah siapakah yang akan menjadi
sahabat ku dirumah kita nanti Yah ? ”
Suamiku menjawab ” Dia Desi ! ”
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara ” Kapan
pernikahan nya berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam
pernikahan ini Nek ?”
Ayah mertuaku menjawab “Pernikahannya 2 minggu lagi.”
” Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk
menyuruh nya mengurus KK kami ke kelurahan besok” setelah berbicara
seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat,
aku buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur.. Ingin
berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini,
cintaku telah dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah
karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan
ini ?
Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku bercermin
sudah tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri
rambutku yang setiap hari rontok, ku lihat wajahku,,ternyata aku
memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku
sudah botak dibagian tengahnya.
Tiba – tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku datang, ia
berdiri dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung
memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan “terimah kasih ayah,
kamu memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat
ditinggal pergi kamu nanti ! iya kan ?”
Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia
tersenyum dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan
jangan salah memakai shampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ? ia
sudah tak memanjakan ku lagi.. Lalu dia bilang bilang “sudah malam,
kita istirahat yuk ” !
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur” jawab ku tenaang.
Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu, kapan aku
akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan
suamiku. Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini
mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat
memanjakan aku, diamana rasa sayang dan cintanya itu.
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ***
Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat – saat terakhirku melihat suamiku, aku
marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat
suamiku yang tidur pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada
ku. Aku save di my document yang bertitle “Aku mencintaimu Suamiku ”
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk
keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku
takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama,, lalu
suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan
berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap ?”
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk
ke dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci kaki ku
dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a
di ubun – ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu
setelah itu…..” tak sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini,
aku ingin menagis meledak
Tiba – tiba suamiku menjawab “lalu apa Bunda ?”
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk,aku langsung
menatapnya dengan mata yang berbinar – binar…
“bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?” pinta ku tuk
menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Dia mengangguk dan berkata ” Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa
bunda ?” sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak
sidikit membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya
saja.
Dia tersenyum, sambil berkata ” Kita liat saja nanti ya !” dia
memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah
temui selain mama” lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya
erat dan berkata ” Ayah, apakah ini akan segera berakhir ? Ayah kemana
saja ? Mengapa ayah berubah ? Aku kangen sama ayah ? Aku kangen
belaian kasih sayang ayah ? Aku kangen dengan manjanya ayah ? Aku
kesepian ayah ? Dan satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku tidak
pernah berzinah ! Dulu waktu awal kita pacaran,aku memang belum bisa
melupakannya, setelah 4 bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika
yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari.” Bukan bearti aku
pernah berzina ayah. Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki
imamku sambil berkata ” Aku minta maaf ayah telah membuatmu susah”
Saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali.
Tiba – tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres
dengan ku, dan ia bertanya ” bunda baik – baik saja kan ” tanya nya
dengan penuh khawatir.
“aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu
itu sudah mebuatku baik Yah” aku tak bisa bicara sekarang. Karena dia
akan menikah. Aku tak mau buat diya khawatir. Dia harus khusyu
menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* ********* *
Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk di sebrang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat
hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakn “Ayah Jangan” tapi aku
ingat akan kondisi ku.
Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut.
Begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante
yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan
hati ini, ya,,aku kuat.
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang -
orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku
sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak
mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Apa iya, dia
tidak suka dengan pernikahan ini ?
Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga su
…
Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga suamiku,tak seperti
aku yang di musuhinya..
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !! Suamiku akan tidur
dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang mereka
lakukan didalam.
1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu,
aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah,
ku dekati lalu ku lihat…. Masya Allah, suamiku tak tidur
dengannya,ia tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus
mukanya yang lelah, tiba – tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja
aku kaget.
“kamu datang ke sini, aku pun tau ” ia langsung berkata seperti itu,
aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail, ia
mengatakan “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita
karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta , biar Desi pulang
denagn mama,papa Dan juga adik – adikku”
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku
untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum
saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan
menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah
meresakan kehadirannya saat ini. Tapi masih bisakah engaku ijinkan aku
untuk mersakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2
tahun ini.
Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus ?”
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.
Aku pun berkata “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi ?”
” Aku kangen sama kamu Bunda ” Aku tak mau menyakitimu lagi, kamu
sudah terluka oleh sikapku yang egois” Dengan lembut suamiku menjawab
seperti itu.
Lalu suamiku berkata, ” Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan
bunda… Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus
mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah,
dan satu lagi ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda
dimana isinya klo bunda gk mw berbuat seperti itu, dan seperti itu di
beri tanda kutip ( “seperti itu” ), ayah ingin ngomong tapi takut
bunda tersinggung, dan ayah berpikir klo bunda pernah tidur dengannya
sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluar ayah
karena ayah terlalu memanjakan bunda ”
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada
kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak
pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku
ini.
Aku hanya menjawab “Aku sudah ceritakan itu kan Yah, akutidak pernah
berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar
hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu
Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari
menangis karena menderita mencintaimu.
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku
sendirian di kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan
masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap
keluaraganya juga. Karna aku tak mau mati dalam hati yang penuh denagn
rasa benci.
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* ********* *****
Keesokan harinya….. ……
Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing,
rahimku sakit sekali..aku pendarahan.. suamiku kaget…
Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.
Aku pun dilarikan ke rumah sakit….
Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku….
Aku merasakan tanganku basah…
Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan ” Bunda,,Ayah
minta maaf ,,,,!!”
Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku, apa ia tahu apa
yang terjadi padaku.
Aku berkata dengan suara yang lirih ” Yah….Bunda ingin pulang,,bunda
ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya Yah….”
“Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah… !!! Bunda sayang
banget sama Ayah ”
Tiba – tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit nya semakin keatas,
kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan
suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.
Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan ditutup
denagn kalimat tahlil.
\\\\\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\
\\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\
\\\\\\\\\
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka,,
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacran
samapai kami menikah.
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku.
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu
sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku
selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah
diriku didepan suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Mengapa engkau
sangat cemburu padaku Ma ? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah
menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa
yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan
Desi kau sangat baik tetapi dengan ku, menantumu kau bersikap
sebaliknya.”
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* ********* ********* ******
Setelah ku buka laptop,ku baca curhatan istriku
Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku
Aku dihina oleh mereka ayah.
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ?
Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena
dia adik iparku tapi aku disambut denagn wajah ketidak sukaannya.
Sangat terlihat Ayah.
Tapi ketika engaku bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia
memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa
seperti itu ayah.
Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karen aku tahu kamu pasti
membela adikmu, tak ada gunanya Yah.
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu paad Desi yang sangat akrab dengan mertuaku
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku
Aku sangat marah….
Jika aku membicarakn hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi
dan ibunya.
Aku tak mau sakit hati lagi.
Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku
Engkau Maha Adil.
Berilah keadilan ini padaku Ya Allah
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja – manja lagi padamu.
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui
Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku
Aku harus sadar diri
Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?
Ayah aku masih tak rela
Tapi aku harus ikhlas menerimanya
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya
Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku
Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir
Sebelum ajal ini menjemputku
Ayah…akuk kangen ayah
Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang
mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
Bunda akan selalu hidup dihati ayah.
Bunda… Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah…
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku,
rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku
tak perduli, dalam kesendirianmu. …
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur
dengan belaian tangan Bunda yang halus..
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
Bunda,,kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.
Aku menyesal telah asik dalam keegoanku..
Bunda maafkan aku. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat
ditidurmu yang panjang.
Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu, aku selalu
mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu
saja.
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia di alam sana ?
Tunggulah Ayah disana Bunda……
Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini…… Aku mohon…..
Ayah Sayang Bunda….
************ ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* ********* ********* ****
Tutie
QC & ISO DOC CONTROLLER
PT. HEXA INDONESIA
http://www.inspirasidaily.com/suamiku-aku-begitu-mencintaimu/

Berapa Harga Waktu Ayah?

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta
terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak
seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua
SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.”Kok,
belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang
sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat
ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab,
“Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10
jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25
hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,
sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi
beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari
mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu
jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak.
Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya,
“Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam
begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.
“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun
berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya
sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di
tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang
malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp
5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga
puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat
berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp
15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-,
maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-.
Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia
kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.
Saya tidak tahu apakah kisah di atas fiktif atau kisah nyata. Tapi saya
tahu kebanyakan anak-anak orang kantoran maupun wirausahawan saat ini
memang merindukan saat-saat bercengkerama dengan orang tua mereka. Saat
dimana mereka tidak merasa “disingkirkan” dan diserahkan kepada suster,
pembantu atau sopir.
Mereka tidak butuh uang yang lebih banyak. Mereka ingin lebih dari itu.
Mereka ingin merasakan sentuhan kasih-sayang Ayah dan Ibunya. Apakah
hal ini berlebihan?
Sebagian besar wanita karier yang nampaknya menikmati emansipasi-nya,
diam-diam menangis dalam hati ketika anak-anak mereka lebih dekat
dengan suster, supir, dan pembantu daripada ibu kandung mereka sendiri.
Seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer sebuah bank
swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang sakit
demam tinggi tak mau dipeluk ibunya, tetapi berteriak-teriak memanggil
nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran.
Anak yang shalih adalah salah satu bentuk investasi akhirat kita.
http://www.inspirasidaily.com/berapa-harga-waktu-ayah/

Belenggu Nafsu Manusia

Ada seorang pencari spiritual yang menempa diri menahan nafsu,
bersiap-siap meninggalkan desa tempat tinggalnya, pergi ke gunung yang
tidak berpenghuni untuk mengasingkan diri bermeditasi. Dia hanya
membawa sepotong kain sebagai pakaian, lalu sendirian pergi ke gunung
dan menetap di sana. Kemudian terlintas dalam benaknya saat ia ingin
mencuci pakaiannya, dia perlu sepotong kain lain sebagai pengganti,
lalu dia turun gunung menuju desa, dan minta sedekah sepotong kain
sebagai pakaian pengganti kepada orang-orang desa, semua orang desa
mengetahui dia adalah seorang yang jujur dan taat, lalu tanpa
ragu-ragu memberikannya sepotong kain
Ketika ia kembali ke gunung, dia menyadari bahwa di dalam pondok yang
ditempatinya ada seekor tikus, sering kali saat dia sedang meditasi
datang menggerogoti pakaiannya yang disiapkan sebagai pengganti itu,
sejak dulu dia telah bersumpah seumur hidup akan menaati disiplin,
pantang membunuh makhluk hidup, oleh karenanya dia tidak mau melukai
tikus itu, namun dia tidak mempunyai cara untuk mengusir sang tikus,
maka dia kembali ke desa, meminta seekor kucing pada warga desa untuk
dipelihara.
Setelah mendapatkan kucing, dia lalu teringat: Harus makan apa kucing
itu? "Aku sama sekali tidak menginginkan kucing memakan tikus, namun
tidak mungkin sama sepertiku hanya makan buah dan tumbuhan liar kan!"
Lantas dia kembali meminta seekor sapi perah pada warga desa, dengan
demikian kucing itu dapat menyandarkan hidupnya pada air susu sapi itu.
Akan tetapi, setelah beberapa waktu tinggal di gunung, dia menyadari
bahwa setiap hari harus membuang banyak waktu untuk merawat dan
memberi makan rumput pada sapi betina itu, dia lalu kembali lagi ke
desa, menemukan seorang gelandangan miskin, kemudian membawa
gelandangan yang tidak mempunyai tempat tinggal ini ke gunung,
memberinya tugas merawat sapi perah.
Setelah gelandangan ini tinggal beberapa waktu di gunung, dia berkeluh
kesah pada si pencari spiritual : "Saya dan Anda tidak sama, saya
membutuhkan seorang istri, saya ingin kehidupan keluarga yang normal."
si pencari spiritual ini merenungi ada benarnya juga yang dikatakan
oleh si gelandangan itu, dia tidak boleh memaksa orang lain harus sama
seperti dirinya, melewati hidup menempa diri menahan nafsu.
Demikianlah kisah ini terus berkembang, dan Anda mungkin telah
mengetahuinya, yang mana pada akhirnya, mungkin setelah setengah tahun
kemudian, segenap warga desa semuanya telah pindah ke gunung. Ini
sebenarnya kisah yang persis terjadi pada kita setiap orang. Nafsu
atau keinginan itu seperti sebuah rantai, saling bertautan, selamanya
tidak dapat mencukupi........
http://www.inspirasidaily.com/belenggu-nafsu-manusia/

Orang yang Mati Karena Perasaannya

(Erabaru.or.id) - Sebuah perusahaan kereta api mempunyai seorang
karyawan bernama Nick, dia sangat serius dengan pekerjaannnya, juga
penuh tanggung jawab dalam bekerja, namun dia mempunyai sebuah
kekurangan yaitu dia sangat pesimis terhadap kehidupan, sering kali
berpikir negatif dalam memandang dunia ini.
Pada suatu hari semua karyawan perusahaan tersebut bergegas untuk
memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada bosnya, semuanya telah
pergi agak awal dengan tergesa-gesa. Malangnya, Nick tanpa sengaja
terkurung dalam sebuah lemari es besar di kereta. Nick dengan sekuat
tenaga terus mengetuk lemari es dan berteriak, malangnya semua
karyawan perusahaan itu telah pergi, sama sekali tidak ada orang yang
bisa mendengarnya.
Telapak tangan Nick sampai merah dan bengkak mengetuknya, dan
kerongkongannya menjadi serak dan kering, namun tidak ada juga orang
yang memperhatikannya, akhirnya ia hanya bisa kesal duduk di atas
lantai lemari es meredakan napasnya. Semakin dipikirkan dia semakin
takut, dalam hati berpikir: suhu lemari es hanya 0 F, jika tidak
keluar juga, pasti bisa mati kedinginan dan kehabisan udara didalam.
Lalu mau tidak mau dia dengan tangan yang gemetar, mencari pulpen dan
kertas, untuk menulis surat wasiat. Pada hari kedua di waktu pagi,
karyawan perusahaan mulai berdatangan masuk kerja. Mereka membuka
lemari es, dan secara mengejutkan menemukan Nick jatuh pingsan di atas
lantai. Saat mereka akan membawa Nick untuk diberikan pertolongan
darurat, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.
Saat lemari es diperiksa, semuanya menjadi sangat terkejut, karena
power pendingin lemari es tidak diaktifkan (lemari es tidak
dinyalakan), lemari es raksasa ini juga memiliki oksigen yang cukup,
yang lebih membuat orang merasa heran adalah, suhu dalam lemari hanya
berkisar 61 F, namun di luar dugaan Nick menjadi mati (kedinginan)!
Sebenarnya, semangat barulah sumber kekuatan, yang benar-benar
mengalahkan diri kita hanya perasaan kita sendiri. Apabila tekad telah
hilang, berarti segalanya juga tiada lagi.
http://www.inspirasidaily.com/orang-yang-mati-karena-perasaannya/

Kebesaran Jiwa Seorang Ibu

Kisah Nyata: Kebesaran Jiwa Seorang Ibu
Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan gue udeh lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic.
Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager. Gaji-nya pun lumayan.
Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.
Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.
Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be.
Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali).
Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.
Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. ” Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”.
Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik.
Ketika membaca kisah ini dimedia cetak, saya sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan Mamaku. Mamaku telah meninggal 3 th lebih saat itu.
Teman2 yang masih punya Ibu di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya, sampaikan terima kasihmu yang paling dalam dan tulus. Ya, selagi masih ada waktu…..!
http://www.inspirasidaily.com/kebesaran-jiwa-seorang-ibu/

Sebelum Kamu Menceraikanku, Gendonglah Aku

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti
didepan flat kami yang cuma berkamar satu.
Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari
mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.
Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat
bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air
bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha
dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran
meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah
pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai
dirumah juga
pada waktu yang bersamaan.
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan
yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu
adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang
merangkulku. Hatiku
Sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang
kubelikan untuknya.
Dew berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.”
Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitu sukses,akan
menjadi sangat menarik bagi para gadis.”
Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah
menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku
melepaskan tangan Dew dan berkata, “Kamu harus pergi membeli
beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”
Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku
walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat
sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun
ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri
yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk
santai didepan TV. Makan malam segera tersedia.
Lalu kami akan menonton TV sama-sama.Atau aku akan menghidupkan
komputer,membayangk an tubuh Dew.Ini adalah hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai,
apa yang akan kau lakukan? ”
Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia
percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya.
Ketika istriku mengunjungi kantorku,Dew baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati
dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu
selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha
tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan
di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku,” He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu
kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh
ragu-ragu lagi.Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku
pegang
tangannya,” Ada sesuatu yang harus kukatakan”
Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka
dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa.
“Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.
Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah.
Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki-laki!”.
Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis.
Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian
dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku.
Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.
Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup
bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku.
Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak
pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu
pembebasan untukku.
Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis.
Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya.
Ia tidakmenginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu
sebulan
sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup
bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana:
Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya
adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran
rumah tangga kami.Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,”
He Ning, apakah
kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari
pernikahan kita?”
Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah
kepadaku.Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku
dilenganmu”,katanya, “Jadi aku
punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetapmembopongku pada waktu
perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulanIni, setiap pagi kamu
harus membopongku
keluar dari kamar tidur ke pintu.Aku memberitahukan Dew soal
syarat-syarat perceraian dari istriku.
Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik
yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,”
ia mencemooh. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak
kukatakanperceraian itu. Jadi ketika akumembopongnya dihari pertama,
kami kelihatan
salah tingkah. Dari kamar tidur ke ruangduduk, lalu ke pintu, aku
berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku.Ia memejamkan mata dan
berkata dengan lembut,”
Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita.”
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu.
Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami
begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku
menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita
ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar,
hati-hati kalau kamu lewat sana .”
Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku
dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar.
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,
seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika,
aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk.
Perasaan kedekatan terasa semakin erat.
Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk
membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa
menemukan yang cocok.
Lalu ia melihat,”Semua pakaianku kebesaran”.
Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus
itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan
aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam
hati. Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit
Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.
“Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”
Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi
bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya
dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut
aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia
dilenganku,berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras.
Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya
dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia
kelihatan agak
pucat dan kurus, membuatku sedih.
Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah
dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata,
“Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.
Aku memeluknya dengan kuat dan berkata
“Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut
keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.
Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin
bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku, kaget.
“Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilangmaaf padamu,Aku tidak ingin bercerai.
Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa
merasakan nilai-nilai
dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai
lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia
telah melahirkan anakku.
Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”
Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku
dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.
Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati
sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?
Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap pagi
sampai kita tua…”
http://www.inspirasidaily.com/sebelum-kamu-menceraikanku-gendonglah-aku/

Kisah tentang filial piety – bakti yang luar biasa :

Kisah tentang filial piety – bakti yang luar biasa :
Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun
yang bernama Luke.
Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang
bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat, pada setiap
pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan.
Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan
memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan
kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan
berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya
berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun.
Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena
mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah
berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang
biasa dilakukannya pada malam hari.
“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya.
“Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia.” tambahnya lagi.
“Kamu tidak perlu menyakinkanku, “ sahut ibunya sambil tersenyum.
Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat
Sherri merasa nyaman.
“Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang
sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya.
Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan
untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya. ”
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal
bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi
anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap
optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha
menjadi seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan
bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya
bermain beberapa menit saja.
Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri.
“Pelatih”, panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan
ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?”
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama
antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola
dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum
tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras
dalam beberapa hari ini.
“Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi
merah Luke.
“Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu.”
Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain.
Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan
mencetak dua single.
Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya
berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke
bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir
lapangan.
“Pertandingan yang sangat mengagumkan, ” katanya kepada Luke.
“Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa
yang membuatmu jadi begini?”
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air
mata kebahagiaan.
Luke menangis tersedu-sedu.
Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih, ayahku sudah lama sekali
meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak
dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,……Ibuku
meninggal.”
Luke kembali menangis.
Kemudian Luke dengan tegar menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya
dengan terbata-bata.
“Hari ini,…….hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari
surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan
aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka…… .”. Luke kembali
menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan
mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini.
Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak
mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis.
Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya
sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih,
tetapi sebagai seorang anak…..
Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini,
ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha
melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya
sudah pergi selamanya.
Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. …
Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat
itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan
mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka.
Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur
hidupnya…. ……… ..
# Luke, saat itu berumur 7 tahun dan sudah mempunyai rasa bakti pada orang tua
yang luar biasa. Meskipun orang tuanya tidak berada di sisinya lagi, tapi Luke
tetap berusaha yang terbaik untuk membuat orang tuanya bangga. Bagaimana
dengan kita.. ?!? #
(Disadur oleh penulis dari berbagai sumber dan ditulis kembali dengan gaya
bahasa yang lain. Isi cerita tidak berubah dari kenyataan aslinya.)
http://www.inspirasidaily.com/kisah-tentang-filial-piety-bakti-yang-luar-biasa/

Biarkan Mengalir Seperti Air…

BIARKAN MENGALIR SEPERTI AIR………
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, “Guru, saya sudah bosan
hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau.
Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati.” Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.” “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu
sebabnya saya ingin mati.” Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit.
Dan penyakitmu itu bernama, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap
kehidupan.” Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa
disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita
menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.
Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil
itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi
dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin
mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. “Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin
sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” kata sang Guru. “Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin
hidup.” Pria itu menolak tawaran sang Guru. “Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?” “Ya, memang saya sudah bosan hidup.” “Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini.
Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau
minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan
tenang.” Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia
datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang
satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan
senang hati. Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang
disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak
pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1
malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam
masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran
Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.
Ini adlaah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil
makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia
mencium bibir istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu.” Sekali
lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis! Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan
pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih
tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir
kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah
pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa
aneh sekali, “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku
salah. Maafkan aku, sayang.” Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya
pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung
berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir,
ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di
sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai
terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia
mulai menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di
beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya,
“Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan
kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua.
Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi
sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana
dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru
langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya
air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau
hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau
akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu,
kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai
kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup.
Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju
ketenangan.” Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke
rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih
mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya,
ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP! Have a positive day! Salam Inspirasi,
http://www.inspirasidaily.com/biarkan-mengalir-seperti-air/

LOVE U MOTHER

LOVE U MOTHER
Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan
ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.
Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si
ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang
dihulurkan oleh si anak dan membacanya.
OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp 20.000
2) Menjaga adik Rp 20.000
3) Membuang sampah Rp 5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp 10.000
5) menyiram bunga Rp 15.000
6) Menyapu Halaman Rp 15.000
Jumlah : Rp 85.000
Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya
berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang
kertas yang sama.
1) OngKos mengandungmu selama 9 bulan- GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS
Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu,
memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”.Kemudian si anak mengambil
pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: “Telah
Dibayar” .
KAMU SAYANG IBUMU????
Mother is the best super hero in the world.
http://www.inspirasidaily.com/love-u-mother/

Zhang Da, Sebuah Kisah Teladan dari Negeri China

Zhang Da, Sebuah Kisah Teladan dari Negeri China
Di provinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki yang luar biasa,
sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada papanya,
hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan
dan perkataannya yang menyentuh hati, membuat Zhang Da, anak lelaki
yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut
anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat
demikian, sehingga ketika pemerintah China mendengar dan menyelidiki
apa yang Zhang Da perbuat, maka mereka pun memutuskan untuk
menganugerahi penghargaan negara yang tinggi kepadanya.
Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah
melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk
China. Tepatnya 27 Januari 2006 pemerintah China, di provinsi Jiangxu,
kota Nanjing, serta disiarkan secara nasional ke seluruh pelosok
negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar
biasa, salah satunya adalah Zhang Da.
Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita
ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da
sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling
luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah
yang terbaik di antara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa
yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia
lakukan sampai sekarang (ia kini berumur 15 tahun), dan satu-satunya
anak diantara 10 orang yang luar biasa tersebut maka saya bisa katakan
bahwa Zhang Da dan apa yang dilakukannya, maka saya mau katakan bahwa
ia luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.
Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh mamanya yang
sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang
sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang papa
yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap
10 tahun untuk mengambil tanggung jawab yang sangat berat. Ia harus
sekolah, ia harus mencari makan untuk papanya dan juga dirinya
sendiri. Ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak
murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa
Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung
jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian
banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia
ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak
menyerah. Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan
kejahatan, melainkan memikul tanggung jawab untuk meneruskan
kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi
utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.
Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari
rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam
perjalanan dari dan ke sekolah itulah, ia mulai makan daun,
biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan
sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba
makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya
dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah, di
siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang
batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan
itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras
dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima
tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.
Zhang Da Merawat Papanya yang Sakit
Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggung jawab untuk merawat papanya. Ia
menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan
papanya. Ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan
papanya. Semua ia kerjakan dengan rasa tanggung jawab dan kasih. Semua
pekerjaan ini menjadi tanggung jawabnya sehari-hari.
Zhang Da Menyuntik Sendiri Papanya
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir
untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur 10
tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas
yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana
seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah
ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya
sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu
sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti
layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru
tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah
perbuatan nekad, saya pun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa
memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak
cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang
sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik
papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang
Da sudah trampil dan ahli menyuntik.
Aku Mau Mama Kembali
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang
hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju
kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,
“Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu
rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan
sampai kamu selesai kuliah? Besar nanti mau kuliah di mana, sebut
saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada
banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini
juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar
televisi, mereka bisa membantumu!”
Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi
kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.” Beberapa menit Zhang
Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku mau
mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku
bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!” demikian Zhang dan bicara
dengan suara yang keras dan penuh harap.
Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu.
Saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa
ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak
minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal
untuk masa depannya? Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat
dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari
pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang
dipegangnya, pasti semua akan membantunya. Sungguh saya tidak
mengerti, tapi yang saya tahu apayang dimintanya, itulah yang paling
utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin
sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia
dan papanya.
Sumber: (Cicilia-China), diambil dari Kompas Online (Sabtu, 22 July 2006)
http://www.inspirasidaily.com/zhang-da-sebuah-kisah-teladan-dari-negeri-china/

What Goes Around, Comes Around

What Goes Around, Comes Around
The man slowly looked up. This was a woman clearly accustomed
to the finer things of life. Her coat was new.
She looked like she had never missed a meal in her life. His first
thought
was that she wanted to make fun of him, like so many others had done
before.
“Leave me alone,” he growled… To his amazement,the woman
continued standing. She was smiling – her even white teeth displayed
in
dazzling rows.
“Are you hungry?” she asked. “No,” he answered
sarcastically. “I’ve just come from dining with the president.. Now go
away.”
The woman’s smile became even broader.
Suddenly the man felt a gentle hand under his arm.”What are you doing,
lady?” the man asked angrily. “I said to leave me alone..”
Just then a policeman came up. “Is there any problem, ma’am?”
he asked..
“No problem here, officer,” the woman answered. “I’m just
trying to get this man to his feet. Will you help me?”
The officer scratched his head. “That’s old Jack. He’s been a fixture
around here for a couple of years. What do you want with him?”
“See that cafeteria over there?” she asked. “I’m going to get
him something to eat and get him out of the cold for awhile.”
“Are you crazy, lady?” the homeless man resisted. “I don’t
want to go in there!” Then he felt strong hands grab his other arm and
lift him up.
“Let me go, officer. I didn’t do anything..”
This is a good deal for you, Jack,” the officer answered. “Don’t blow it.
“Finally, and with some difficulty, the woman and the police officer
got
Jack into the cafeteria and sat him at a table in a
remote corner. It was the middle of the morning, so most of the
breakfast
crowd had already left and the lunch bunch had not yet arrived.
The manager strode across the cafeteria and stood by his table. “What’s
going on here, officer?” he asked.”What is all this, is this man in
trouble? “This lady brought this man in here to be fed,”the policeman
answered.”
“Not in here!” the manager replied angrily. “Having a person
like that here is bad for business.”
Old Jack smiled a toothless grin. “See, lady. I told you so. Now if
you’ll let me go. I didn’t want to come here in the first place.”
The woman turned to the cafeteria manager and smiled.”Sir, are you
familiar with Eddy and Associates,the banking firm down the street?”
“Of course I am,” the manager answered impatiently. “They hold
their weekly meetings in one of my banquet rooms..”
“And do you make a goodly amount of money providing food at these
weekly
meetings?”
“What business is that of yours?”
“I, sir, am Penelope Eddy, president and CEO of the company.”
“Oh..”
The woman smiled again.. “I thought that might make a difference.”
She glanced at the cop who was busy stifling a laugh.”Would you like to
join us in a cup of coffee and a meal, officer?”
“No thanks, ma’am,” the officer replied.
“I’m on duty.”
“Then, perhaps, a cup of coffee to go?”
“Yes, ma’am.. That would be very nice.”
The cafeteria manager turned on his heel.. “I’ll get your coffee for
you
right away, officer.”
The officer watched him walk away… “You certainly put him in his
place,” he said.
“That was not my intent… Believe it or not, I have a
reason fo She sat down at the table across from her amazed dinner guest. She
stared at
him intently. r all this.”
“Jack, do you remember me?”
Old Jack searched her face with his old, rheumy eyes.”I think so — I
mean you do look familiar.”
“I’m a little older perhaps,” she said.
“Maybe I’ve even filled out more than in my
younger days when you worked here, and I came through that very door,
cold
and hungry.”
“Ma’am?” the officer said questioningly. He
couldn’t believe that such a magnificently turned out woman could ever
have
been hungry.
“I was just out of college,” the woman began.
“I had come to the city looking for a job, but I couldn’t find
anything.
Finally I was down to my last few cents and had been kicked out of my
apartment… I walked the streets for days. It was February and I was
cold and nearly starving. I saw this place and walked in on the off
chance
that I could get something to eat.”
Jack lit up with a smile. “Now I remember,” he said. “I was
behind the serving counter. You came up and asked me if you could work
for
something to eat. I said that it was against company policy.”
“I know,” the woman continued. “Then you made me the biggest
roast beef sandwich that I had ever seen, gave me a cup of coffee, and
told
me to go over to a corner table and enjoy it. I was afraid that you
would get
into trouble. Then, when I looked over and saw you put the price of my
food
in the cash register, I knew then that everything
would be all right…”
“So you started your own business?” Old Jack
said.
“I got a jo Eventually I started my own business that, with the help of God,
prospered..” She opened her purse and pulled out a business card.b that very afternoon. I worked my way up.
“When you are finished here, I want you to pay a visit to a Mr.Lyons.
He’s the personnel director of my company.
I’ll go talk to him now and I’m certain
he’ll find something for you to do around the office.”
She smiled. “I think he might even find the funds to give you a little
advance so that you can buy some clothes and get a place to live until
you
get on your feet. If you ever need anything, my door is always open to
you.”
There were tears in the old man’s eyes. “How can I ever thank you?”
he asked.
“Don’t thank me,” the woman answered.
“To God goes the glory. He led me to you.”
Outside the cafeteria, the officer and the woman paused at the
entrance before going their separate ways. “Thank you for your help
officer,” she said.
“On the contrary, Ms. Eddy,” he answered.
“Thank you. I saw a miracle today, something that I will never forget,
And thank you for
the coffee.” [“
Have a Wonderful Day. May God Bless You always and don't forget that
when you
"cast your bread upon the waters," you never know how it will be
returned to you. God is so big He can cover the whole world with his
Love and so small He can curl up inside your heart.
When God leads you to the edge of the cliff, trust Him fully and let
go. Only
1 of 2 things will happen, either He'll catch you
when you fall, or He'll teach you how to fly! [
The power of one sentence! God is going to shift things around for you
today
and let things work in your favor
God closes doors no man can open & God opens doors no man can close..If
you need God to open some doors for you...send this on.
Have a blessed day and remember to be a blessing
"The Task Ahead of Me is Never as Great as the Power Behind Me!!"
[There is no such word as “impossible” in God’s dictionary.
–Ed..., Sammy Lee
Perbuatan Baik Akan Kembali Kepada Kita Lagi
Dengan perlahan-lahan
orang itu memandang keatas. Tampak
olehnya seorang wanita yang pasti biasa hidup mewah. Mantel bulunya
tampak baru.
Kelihatan dia seperti seorang yang tidak pernah
kelaparan seumur hidupnya. Sekilas pada benaknya dia terpikir bahwa
tentu
wanita itu akan mengolok-olok kepadanya seperti yang sering dilakukan
banyak
mereka sebelumnya
“Tinggalkan aku
sendirian,” gumamnya dengan marah… Tapi dia merasa heran karena
wanita itu tetap berdiri disitu. Dia tersenyum – sehingga sebaris
giginya yang putih rata tampak berkilauan
[”Apakah anda
lapar?” dia bertanya.
“Tidak,” jawabnya dengan penuh ejekan. ”Saya baru
saja selesai makan malam dengan President
USA .. Nah, pergilah
kesana.”]
[Senyuman
dari wanita itu menjadi lebih lebar.]
[Tiba-tiba orang itu merasa tangan yang lemah lembut mencoba
mengangkatnya untuk berdiri. “Nyonya, apa yang kau lakukan?”
orang itu bertanya dengan marah. ”Aku sudah bilang, biarkan aku
sendirian.”]
[Pada saat itu seorang polisi
mendekati. “Ada masalah apa, nyonya?” dia bertanya.. ]
[Tidak ada
masalah sama sekali, pak,” jawab
perempuan itu. “Saya hanya berusaha mengangkat orang ini berdiri
pada kakinya. Bolehkah anda menolong saya?”]
[Polisi itu menggaruk-garuk kepalanya.. “Itu
adalah si Jack tua. Dia sudah beberapa tahun lamanya bergelandangan
disini. Anda mau bikin apa kepadanya?”]
[“Anda lihat cafeteria itu disana?” dia
bertanya. ”Saya mau memberikan makanan kepadanya dan membawa dia
menghindar dari hawa yang dingin ini untuk sebentar.”]
[“Apakah anda sudah
gila, nyonya?” orang yang gelandangan itu menolak tanpa bergeming.
“Aku tidak mau pergi kesana!” Pada saat itu merasakan
tangan-tangan yang kuat memegang lengannya yang sebelah lagi dan
mengangkat
dia berdiri pada kakinya.]
[”Biarkan aku pergi, pak
polisi. Aku
tidak berbuat salah apa pun..”]
” [“Ini adalah
perbuatan baik untukmu, Jack,” jawab polisi itu. “Jangan
sia-siakan itu, kawan.”]
[Akhirnya dan dengan susah payah, wanita dan polisi
itu berhasil membawa Jack kedalam cafetaria dan mendudukkan dia
disamping
meja yang berada disudut. Hari sudah mulai larut, jadi kebanyakan
orang
yang makan pagi sudah pergi dan mereka langganan untuk makan siang
masih
belum tiba.]
[Manager cafeteria
itu berjalan mendekati dan berdiri disamping meja itu. ”Ada apa
ini, pak polisi?” dia bertanya.. “Apa artinya ini,
apakah orang ini membuat masalah?”]
[Nyonya ini telah membawa orang
ini untuk diberikan makan disini,” jawab polisi itu.
[”Tidak
ditempat ini!” jawab manager itu dengan marah. ”Membiarkan
orang seperti ini berada disini akan membawa malapetaka kepada dagang
kami.” ]
[Jack
tua tersenyum menyeringai dengan giginya yang
ompong. “Kau lihat itu, nyonya. Saya
kan sudah katakan. Nah, sekarang
biarkanlah akau bergi. Saya memang dari semula tidak mau datang
kemari.]
[Wanita itu berpaling kepada manager cafeteria itu
sambil tersenyum. “Pak, kenalkah anda kepada Eddy and Associates,
perusahaan perbankan yang ada disudut jalan itu?”]
[“Tentu saja aku
kenal mereka, setiap minggu
mereka mengadakan pertemuan rutin mereka di salah satu ruangan pesta
VIP ku
untuk santap malam.]
[“Dan anda mendapat
keuntungan yang lumayan menyediakan makanan untuk pertemuan mingguan
ini?”]
[Apakah
urusanmu dengan hal itu?”]
[”Saya, Pak, adalah Penelope Eddy, President
dan CEO dari perusahaan itu.”]
[”Oh..”]
[Wanita itu tersenyum lagi..”Saya memang
berpikir bahwa itu mungkin bisa membuat perubahan dalam sikap anda.”]
[Dia melirik kepada
polisi yang sedang berusaha
menyembunyikan tertawanya. “Pak polisi, apakah anda mau ikut
serta dengan kami menikmati secangkir kopi dan sarapan?”]
[“Oh,
tidak, terima kasih, nyonya,” jawab polisi itu. “Saya
sedang dalam tugas.”]
[“Nah, kalau begitu, mungkin
secangkir kopi untuk ada bawa
pergi?” “Baiklah, nyonya.. Itu sangat baik, terima
kasih.”]
[Manager
cafeteria itu langsung berbalik dan berkata..”Saya akan mengambil
kopinya untuk anda, pak polisi.”]
[Polisi itu memandang manager itu berjalan pergi..”
”Anda sudah menyadarkan dia akan posisinya dengan baik,”
katanya.
[Itu bukanlah
tujuan saya sebenarnya… Tapi anda percaya atau tidak saya mempunyai
alasan untuk melakukan semua ini.”]
[Dia duduk dipinggir meja
diseberang tamunya yang melongo keheranan. Tamunya itu sekarang menerawang mukanya dengan penuh perhatian.]
[”Jack,
apakah anda masih ingat kepada saya?”]
[Si Jack
tua memandang wajah wanita itu dengan matanya yang mulai lamur dan
berkaca-kaca dengan linangan air mata. “Saya rasa begitu
– maksud saya, wajah anda memang kelihatan saya kenal.”]
[“Mungkin aku
sekarang kelihatan lebih tua,” dia berkata. “Mungkin usiaku
sudah lebih dari dua kali lipat sejak masa mudaku ketika engkau bekerja
disini, dan aku berjalan masuk melalui pintu, sedang kedinginan dan
lapar.”
[“Bagaimana, nyonya?” polisi itu bertanya
keheranan. Dia tidak bisa percaya bahwa seorang wanita yang begitu
cemerlang tampangnya pernah mengalami lapar.”
[“Saya
baru saja tamat dari Perguruan Tinggi,” wanita itu memulai kisahnya.
“Saya sudah datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, tapi
tidak berhasil mendapatkan pekerjaan apa pun. Akhirnya uangku sisa
beberapa sen saja, dan saya telah diusir dari apartmentku. .. Saya
berjalan
kesana kemari gelandangan dijalan untuk beberapa hari. Saat itu bulan
Pebruari dan saya sedang sangat kedinginan dan hampir mati kelaparan.
Saya melihat tempat ini dan berjalan masuk dengan harapan
mudah-mudahan
bisa memperoleh sesuatu yang dapat kumakan.”
[Si Jack
mulai tersenyum wajahnya. “Sekarang
saya ingat,” dia berkata. “Saya waktu itu berdiri dibalik
meja sana
sedang melayani langganan. Anda mendekati saya dan bertanya kalau
anda
bisa melakukan apa saja dengan upah sesuatu untuk dimakan. Saya
berkata
bahwa itu adalah melawan peraturan dari perusahaan ini.]
[“Saya
tahu,” wanita itu melanjutkan. “Kemudian anda membuatkan
saya sandwich roast beef yang paling besar yang pernah saya lihat
seumur
hidup, dan memberikan saya secangkir kopi, dan menyuruh saya untuk
pergi
duduk disatu sudut cafeteria ini dan menikmatinya. Saya takut waktu itu anda
akan mengalami kesusahan karena saya. Kemudian saya melihat anda
memasukkan uang dan mencetak harga makanan saya itu di mesin hitung,
dan saya
tahu bahwa semuanya beres.]
[Jadi anda memulaikan perusahaan
anda sendiri?” kata si Jack tua.. ]
[Saya mendapat
pekerjaan pada sore hari itu juga.
Saya mulai bekerja dari bawah dan makin meningkat.]
[Akhirnya saya mulaikan perusahaan saya sendiri,
dan dengan pertolongan Tuhan, saya berhasil..” Dia membuka tasnya
dan mengeluarkan sebuah kartu nama.]
[“Sehabis anda
makan, saya mau anda pergi
menemui Mr.Lyons. Dia adalah direktur personil dari perusahaan saya.
Saya akan berbicara dengan dia sekarang, dan saya merasa pasti bahwa
dia akan menemukan suatu pekerjaan yang anda dapa lakukan dikantor.”]
[Dia tersenyum.
“Saya pikir dia juga akan memberikan kepada anda sedikit uang
panjar supaya anda bisa membeli pakaian dan mendapat tempat tinggal
sampai
anda bisa mandiri. Kalau anda memerlukan apa saja dikemudian hari,
pintu rumah saya selalu terbuka bagi anda.
[Air mata berlinang-linang diwajah orang tua itu.
”Bagaimana saya akan bisa berterima kasih secukupnya kepada
anda?” dia bertanya.]
[“Jangan berterima kasih kepadaku,” jawab wanita
itu. “Bagi Allah segala kemuliaan. Dialah yang telah
penuntun saya kepada anda,”]
[Diluar cafeteria
itu, polisi dan wanita itu berdiri sekejap didepan pintu sebelum mereka
berpisah…” Terima kasih untuk pertolongan anda, pak polisi”
dia berkata.]
Sebaliknya , Ny
. Eddy,” dia menjawab. “Terima kasih kepada anda.
Saya menyaksikan sebuah mujizat hari ini, sesuatu yang saya tidak
akan
pernah melupakannya seumur hidup. Dan terima kasih untuk kopi itu.]
[Semoga anda
menghadapi hari yang gemilang.
Kiranya Tuhan memberkati anda selalu dan jangan pernah lupa bahwa
kalau anda “menaburkan roti anda diatas air,” anda tidak tahu
bagaimana itu akan kembali kepada anda kemudian. Tuhan itu begitu
besar
sehingga dia dapat menutupi seluruh bumi ini dengan kasihNya, dan
sebaliknya
Dia begitu kecil sehingga bisa masuk dan bersemayam didalam hatimu.]
Apabila Tuhan membimbing
anda kesebuah tebing jurang, bergantunglah
sepenuhnya kepadaNya dan jangan menahankan apa pun juga. Hanya ada
dua hal yang akan terjadi, kalau Dia tidak menangkap anda, maka Dia akan
mengajar anda bagaimana untuk terbang!]
[Tuhan menutup pintu yang tidak bisa sibuka oleh siapapun, dan Tuhan
membukakan pintu yang tidak bisa ditutup oleh siapapun… Kalau anda
memerlukan Tuhan untuk membuka pintu-pintu bagimu…kirimkanlah ini
kepada orang lain.]
[
Ada kuasa didalam satu
kalimat! Tuhan akan mengatur semua perkara bagi anda hari ini dan
membiarkan segala sesuatunya bekerja untuk kebaikan anda..
.... [Kiranya anda menjalani satu
hari yang penuh berkat dan ingatlah untuk menjadi saluran berkat bagi
orang lain…]
[“Tugas yang ada didepan : kita tidak akan pernah sama besarnya dengan kuasa yang ada dibelakang
kita!!—Author Unknown.]
(Didalam kamus Tuhan tidak ada kata “mustahil”.—Red. , SL.)]
http://www.inspirasidaily.com/what-goes-around-comes-around/