6 Wilayah Paling Beracun Sedunia

1. Citarum River, Indonesia

Dikenal sebagai sungai yang paling terkontaminasi di dunia. Sekitar 5 juta orang hidup disepanjang sungai ini dan kebanyakan dari mereka bergantung pada sungai ini untuk kebutuhan sehari2.








2. Chernobyl, Ukraine

Chernobyl adalah kota di utara Ukraina tempat terjadinya the Chernobyl disaster tahun 1986, nuklir plant terburuk dalam sejarah. Tadinya menjadi rumah bagi 14.000 kepala rumah tangga, namun skrg menjadi tidak berpenghuni dan tidak aman karena masih tingginya kadar radiasi yang tertinggal.







3. Linfen, China

Linfen merupakan kota yang memiliki polusi udara tertinggi dibanding kota manapun. Bertempat di jantung pertambangan di China, sekaligus tempat berkumpulnya polusi dari berbagai pabrik, maka udara di kota ini selalu gelap. Ketika Anda menggantung cucian di luar, maka sebelum kering, cucian Anda sudah berubah warna menjadi hitam.has more air pollution than any other city in the world.


4. Yamuna River, India

Yamuna adalah anak sungai terbesar dari sungai Gangga. Melintasi kota Delhi, diperkirakan 58% dari limbah kota dibuang ke sungai ini. Namun jutaan penduduk masih terus bergantung pada sungai yang suram dan kotor ini untuk mencuci, membuang kotoran dan minum.




5. La Oroya, Peru



Lo Oroya adalah kota tambang berselimutkan jelaga di Pegunungan Andes. 99% dari anak yang tinggal disini darahnya sudah diracuni oleh timah. Ini merupakan "kontribusi" dari sebuah perusahaan Amerika yang bergerak dlm bidang pencairan timah sejak 1922 yang dibangun disana.


6. Kabwe, Zambia

Timah dan kadmium "merendam" bukit2 di Kabwe setelah adanya pertambangan selama berabad2 disana. Anak2 disini memiliki kadar timah antara 5- 10 kali kadar yg dibolehkan oleh U.S environmental protection agency. Tanah disana pun sudah terkontaminasi sampai apapun tidak bisa tumbuh.



Sumber http://bacaanmu.blogspot.com/2011/04/6-wilayah-paling-beracun-sedunia.html#ixzz1ZKLY5v6u

Cara Mengembangkan Indra Keenam


Saya akan memperlihatkan cara untuk menciptakan sasaran cenayang yang berguna bagi anda. Cara tersebut dapat membantu anda untuk mencapai sesuatu yang benar-benar anda inginkan, kuncinya, anda benar-benar menghendakinya. Banyak orang berharap agar terjadi perubahan. Tetapi, yang terjadi hanya sampai pada tahap harapan. Mereka tidak mempunyai keinginan kuat untuk melakukan perubahan. Agar harapan anda bisa menjadi kenyataan, anda harus mengikuti Hukum alam semesta.

Keempat unsur berikut diperlukan untuk pencapaian kemampuan cenayang/Indera keenam
impian)

1. Memiliki Harapan
2. Menciptakan Impian (Visualisasi )
3. Melepaskan Impian kedalam Pikiran Agung (Kepercayaan dan komitmen) Sambil tetap mempertahankan Visualisasi
4. Melakukan Tindakan Konstruktif (Latihan mengendalikan dan mengarahkan


Untuk menjadi seorang cenayang, anda hanya perlu mempelajari bagaimana agar otak memasuki alpa atau theta secara sengaja, visualisasi merupakan kunci untuk mencapai gelombang otak theta berdasarkan kehendak sendiri dan kemudian menggunakan keadan itu untuk mencapai keadaan cenayang. Anda cukup memejamkan mata, kemudian anda melakukan sejumlah latihan relaksasi, visualisasi bisa juga dengan meditasi dan membaca mantra maupun do'a.

Mata Cenayang/ penglihatan/ cakra ajna
Sebagian besar cenayang banyak menggunakan indera penglihatan di dalam karya cenayang mereka. Ada dua macam penglihatan cenayang: Pertama, Menyangkut penglihatan citra, pemandangan, atau berbagai mahluk yang ada di dalam pikiran kita. Kedua, Menyangkut penglihatan citra, pemandangan, atau berbagai mahluk yang berada di luar pikiran kita. Dalam konteks ini, mahluk yang di maksud misalnya hantu, arwah, atau bias dengan merasakan kehadiran bahkan menyentuh entitas lain.

Membuat Peka Mata Cenayang/Penglihatan
1. Pada malam hari, tanpa lampu yang menyala, tengoklah di sekeliling anda. Pelajari dan kenali bentuk yang anda lihat. Lakukan hal ini di tempat tidur ,diranjang anda, di halaman ruma, ketika anda berjalan-jalan di tempat lain.
2. Pada saat ada mengenali bentuknya, katakanlah di dalam batin atau dengan suara keras( tersera anda ): " Ternyata seperti ini bentuk ( sebutkan nama benda atau sesuatu yang anda lihat tersebut ) di kegelapan. Aku telah membuat penglihatanku semakin peka untuk mengenali berbagai benda di kegelapan dan di bawah cahaya apa pun secara akurat."
3. Pada siang hari yang cerah di tempat manapun dan kapanpun, sisihkan beberapa detik untuk mengamati apa yang ada di sekitar anda.
4. Secara mental, ulangi apa yang anda lihat dan katakanlah: " aku melatih pikiran cenayangku agar setiap saat dapat mengamati lingkungan secara akurat."
5. katakanlah: " Aku memerintahkan pikiran bawah sadarku agar selalu mengingatkanku mengenai segala sesuatu yang perlu kulihat demi kepentinganku dan perlindungan bagi diriku. Dengan demikian, aku dapat berfungsi dengan kapasitas cenayangku secara penuh."

Prosedur awal ini bersifat ilustratif. Anda dapat mempraktikan kiat tersebut apa adanya. Atau, Anda juga bisa menciptakan latihan anda sendiri untuk mencapai penyesuaian yang serupa bagi pikiran cenayang anda.

Ini merupakan jenis latihan yang bisa anda praktikan setiap hari selama beberapa detik. Sebab latihan ini bisa membuat pikiran cenayang anda semakin peka, Anda akan takjub ketika anda mengetahui banyak hal yang terdapat di lingkungan anda. Sebelumnya, anda tidak menyadari kehadirannya. Kekuatan yang memadai untuk melakukan pengamatan merupakan asset yang berharga..

Terima kasih bila anda sudah memahami dan mampu mempraktekannya dengan baik dan benar serta dapat merasakan manfaatnya, Niat kami untuk membantu anda, itulah sebabnya kami berusaha untuk memberikan semua ilmu yang kami miliki kepada anda semua dengan cara yang lebih mudah, praktis, cepat dirasakan manfaatnya, ilmu ini berguna seumur hidup, sebelum ilmu ini kami berikan kepada anda, secara pribadi kami sudah uji coba dan di antara 160- orang yang memakai ilmu ini hanya 3 orang yang gagal itupun karena di sebabkan mereka malas belajar dan berlatih, sedangkan sebagian besar orang berhasil dalam menggunakannya.

Keterangan
1. Kemampuan cenayang , indera keenam tidak mesti dengan bisanya melihat mahluk halus/aura tetapi ini juga bisa di buktikan ketika anda bisa merasakan sesuatu penomena (intuisi), Merasakan keberadaan mahluk halus, berkomunikasai dengan mereka bahkan bersentuhan.Sebelum melakukan latihan seperti petunjuk di atas, harap membaca mantra mata cenayang terlebih dahulu minimal 3-7 x
2. Gunakan Musik Meditasi bila ada, ini akan membantu anda dalam tahap latihan mata cenayang untuk memasuki trance theta, Musik meditasi dapat anda download Gratis di website : www.dayakcinta.com
3. Jika ada kesempatan berpuasalah sebanyak 1 hari atau 3 hari di mulai pada hari kelahiran anda, ini bertujuan untuk meningkatkan power anda serta untuk mempercepat penguasaan ilmu cenayang.

Daftar Download Ebook Islami


       1. Al Qur`an, Tafsir dan Hadist


           _= MP3 Hadist 42 Arbain =_


           _= Mengenal Makhroj Dalam Al Qur`an =_


       2. Aqidah dan Tauhid

       3. Bahasa Arab

       4. Bulughul Marom

       5. Dinul Islam

       6. Doa & Dzikir

       7. Fatwa

       8. Fiqh

           _= Kumpulan Buku Fiqh =_

       9. Haji & Umrah

       10. Ramadhan

       11. Rasulullah SAW

       12. Rumah Tangga Islami

       13. Sejarah Islam

       14. Sholat

       15. Sunnah dan Bid`ah

       16. Syahid dan Jihad

       17. Tasawuf

       18. Zakat

       19. Biografi

Daftar Download Ebook Motivasi

~ Daftar Download Ebook Motivasi~


_= Kumpulan Slide Motivasi =_


_= Kumpulan Motivasi Mario Teguh =_

MENIMBANG SABAR DAN PROFESIONALITAS


Masa transisi peralihan generasi dakwah. Perpindahan estafet perjuangan merupakan situasi yang genting dan mencekam dalam sebuah wajihah dakwah. Apalagi wajihah sayap dakwah yang dipenuhi oleh orang muda yang bergelora. Duh… pemuda penjaga dan pemelihara dakwah, inilah seruan dari pembangun kembali tatanan dakwah abad ini. Imam asy-syahid hasan al-Banna yang mengemukakan suatu ungkapan yang menggelorakan jiwa :
“ Ada sebuah risalah masa lalu penuh kobaran semangat jihad, untuk generasi hari ini yang tengah bergejolak dan dilanda kegelisahan … Sebuah bekal hari ini yang sarat tuntutan … Untuk masa depan yang penuh cahaya … Wahai para pemuda … Wahai mereka yang punya cita-cita luhur … Untuk membangun kehidupan … Wahai kalaian yang rindu kemenangan agama 4JJI … Wahai semua yang turun ke medan juang … Demi mempersembahkan nyawa di hadapan Rabb-Nya… di sinilah petujuk itu, disinilah bimbingan-Nya … di sinilah hikmah-Nya dan di sinilah pengorbanannya … dan kenikmatan jihadnya … …”
pagi ini seorang asatidz menyatakan sebuah mutiara hikmah kepadaku :
“ Cukuplah dakwah kita jadikan sebagai sekolah kehidupan “
Ungkapan ini beliau ucapkan saat ane mendesaknya untuk memberikan satu kalimat yang bisa membuatku puas dan tenang si tengah kebimbangan mengambil keputusan untuk tetap mengayunkan langkah atau mengikuti “qoror” dari orang-orang yang sangat menyayangi sosok yang ringkih ini.
Dari awal telah kukatakan kepada dunia hidup ini adalah pilihan. Setiap pilihan pasti punya resiko. Ingin kukatakan sepenuh hati dan kupatrikan kalimat ini dalam jiwaku :
“ Orang yang sukses adalah orang yang bersabar melewati kesulitan demi kesulitan dengan hati lapang, ikhtiar dan doa. Karena bumi selalu berputar dan selalu berubah.”
Masa transisi merupakan tikungan tajam dalam dakwah. Kepemimpinan dan pemimpin memang tidaklah sesederhana sebuah parody orkestra dalam panggung kehidupan yang serba terbatas. Terbatas luas ruangannya. Terbatas waktu pertunjukannya. Terbatas personilnya. Terbatas kapasitas kursi pengunjungnya. Serta terbatas alat musik dan peralatannya. Lalu apakah tepuktangan dari penonton itu adalah pertanda kesuksesan ? tidak juga …. ?!
Ohya, tadi malam ane dapat mengambil pelajaran dari Film “We are Soldiers” yang mengisahkan kedekatan antara panglima perang Amerika dengan pasukannya di saat berperang dengan tentara Vietnam dan juga di sana diperlihatkan juga bahwa kedekatan panglima Vietnam dengan pasukannya. Adu strategi perang diantara mereka terjadi. Dan tidak ada yang mendapatkan kemenangan. (itu menurut ane) tapi karena filmnya buatan Amerika disana digambarkan pasukan amerika bisa mengalahkan banyak pasukan musuh lalu meninggalkan medan pertempuran sebelum balabantuan Vietnam datang. Sehingga kejadian ini memberikan pukulan yang sangat besar di hati panglima Vietnam. Ketika melihat para mayat pasukannya dikumpulkan menjadi satu dan diletakkan bendera Amerika diatasnya.

Di pihak panglima Amerika juga sempat meledakkan tangisnya di hadapan seorang wartawan perang dengan mengatakan :” kita tidak menang hari ini, seharusnya sayalah yang gugur bukan pasukan ini,” sambil menyadari ini kesalahan komando dari pusat komando yang ambisius.
Ada beberapa beberapa hal yang dapat dijadikan pelajaran yaitu :
  1. Setiap orang harus menjaga orang yang bersamanya.
  2. Seorang panglima adalah yang pertama maju ke medan pertempuran dan yang terakhir meninggalkannya ( ini dijelaskan ketika sang panglima ingin maju dengan pasukan pembuka jalan seorang serdadu menariknya dan mengatakan kalau panglima tewas akan membuat down anggota pasukan lainnya. Lalu ketika pusat komando menyuruh sang panglima meninggalkan pasukannya, sang panglima mengatakan saya akan tetap bersama pasukan saya. Sehingga moral pasukannya naik kembali. Dan ketika mencari 2 anggota pasukan yang hilang sang panglima yang mencari langsung dan membawa mayatnya. Selain itu, panglima ingin anggota pasukannya diangkut pulang semua baik hidup atau mati dan tidak mau ada yang tertinggal.)
  3. Diperlihatkan juga bagaimana kekukuhan hati istri sang panglima ketika harus memberikan telegram yang mengabarkan bahwa anggota pasukan suaminya gugur. Memang pada seorang pahlawan ada wanita besar di belakangnya.
  4. Teladan yang paling baik adalah perbuatan.
  5. Rasa persaudaraan adalah kekuatan yang sangat efektif dalam menghadapi mihnah yang besar.
  6. Ketaatan kepada pemimpin adalah kekuatan yang memersatukan di dalam kekalutan.
Semoga tulisan ini memberikan sesuatu yang berharga bagi ane kedepan dan nonton filmnya bukanlah sesuatu yang sia-sia sehingga tidak ada pelajaran yang didapat daripadanya. Wallahu’alam.
Dari dari dua fenomena ini dihubungkan dengan keluhan seorang ikhwah yang memberikan sms ngajak makan bareng karena katanya ada yang mau dikonsultasikan. Ane langsung sepakat karena tempatnya mengingatkanku dengan sebuah keluarga dalam dakwah yang sering mengajakku ke sana. Namun, sekarang kita dipisahkan untuk sementara. Muncul pertanyaannya yaitu : “ Di manakah beda antara sabar dan profesionalitas ?” seraya mengerutkan keningnya. Ane senyum. Menatapnya dalam-dalam. Lalu kukatakan, “ Akhi ane merasakan apa yang antum rasakan, ane pernah mengalaminya. Sebagai qiyadah kita memang harus mengambil keputusan dalam keadaan yang sangat susah. Mengambil keputusan saat ada kondisi lain yang harus kita pertimbangkan.” Ia mendengarkan dengan tertunduk, setelah menarik nafas baru kulanjutkan lagi.
“Kita bukan hanya pemimpin eksekutif dalam suatu organisasi. Kita adalah pemimpin yang tarbawi. Pemimpin yang mendidik. Maka kesabaran yang kita perlukan adalah memahami kondisi dakwah dan jamaah kita. Bagaimana penilaiannya, sejauh mana perhatiannya dan sebatas apa daya dukungnya kepada kita. Kondisi dakwah sebenarnya memang belum bisa mendukung secara kuat. Namun, tuntutan publik juga harus diakomodir. Marilah kita selesaikan permasalahan kita sendiri, karena saudara kita juga merasakan beban yang mugkin lebih berat dari kita. Bersabar itu bukan menyerah. Bekerjalah dengan cinta dan keimanan. Karena cinta dan keimanan sangat berhubungan erat. Dan sangat menyejukkan.”
Jika iman itu adalah api maka cinta adalah panasnya


Jika iman adalah air maka cinta adalah kesegarannya


Jika iman adalah sungai maka cinta adalah arusnya


Jika cinta adalah samudra maka cinta adalah badainya
Akhirnya kami berbincang-bincang seputar masalah yang dihadapi dan senyumnya mulai mengembang. Ingin kucapkan dan kupatrikan ucapan sang ustadz tadi di dalam hati dalam-dalam :
“ Cukuplah dakwah kita jadikan sebagai sekolah kehidupan “
HUD-HUD.Revisi terakhir selasa, 23 Agustus 2005. 00:21 WIB. Markazud Jihad
Sumber : http://eddysyahrizal.wordpress.com/

URGENSI SYURO DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Makalah Daurah Kaderisasi II UKMI Ar-Royyan UNRI, Ahad 27 Juli 2008

Muqaddimah
“ Tidak keliru yang istikharah, dan tidak rugi yang bermusyawarah…..” (al Hadits)
Kedewasaan Sikap
Kedewasaan baik secara individu ataupun kolektif, sangat ditentukan oleh sebuah kata yang bernama sikap. Kematangan ditentukan oleh baik-buruknya sikap yang ditunjukkan dalam menghadapi persoalan dan tantangan. Dalam hal ini, dunia politik merupakan wilayah yang kontradiktif: di satu sisi kita dituntut untuk sangat dewasa, namun di sisi lain kedewasaan dalam penyikapan adalah suatu hal yang luar biasa sulit. Resikony sangat besar, tantangannya sangat banyak, dan persoalannya sangat memusingkan. Tapi inilah yang menjadi ajang eliminasi politisi, pemimpin, dan sebuah pergerakan.
Penilaian akan mutu sebuah penyikapan politis adalah hasil measure iindikator-indikator ketepatan, efektivitas, dan konsistensi dari sikap yang diambil tersebut.
Ketepatan berkaitan dengan momentum, situasi, tempat, orang, dan iklim penerapan keputusan tersebut. Ini adalah sebuah kolaborasi yang indah dari kebenaran dan presisi.
Efektivitas terkait langsung dengan ketepatan, namun lebih banyak berbicara bagaimana mewujudkan sebuah keputusan yang tepat menjadi realita. Dan ia terkait dengan hal-hal teknis[1].
Konsistensi, merupakan garis batas yang dengan tegas memisahkan antara idealisme dan pragmatisme. Membangun sebuah konsistensi merupakan upaya yang sulit, mengingat keputusan tidak selamanya tepat atau langsung tepat.
Nilai Kebenaran
Kebenaran yang menjadi isi pokok sebuah keputusan sangat terkait dengan referensi, metoda dan proses. Mengenai referensi, kita tidak akan pernah ragu untuk selalu mengedepankan syari’ah: Al Qur’an dan Sunnah. Dalam pada itu, metode yang kita terapkan adalah ijtihad. Ijtihad yang “luas”, tidak jumud. Ijtihad yang mampu menampung dan memadukan dua hal sekaligus : “fiqh wahyu” dan “fiqh waqi’” (realitas). Ijtihad pada hakikatnya adalah mengejawantahkan kebenaran wahyu dalam kebenaran realitas. Maka titik tekan ijtihad kita adalah mashlahat, seperti kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “di mana ada kemashlahatan bagi manusia, di sana pasti terdapat syari’at Allah SWT”.
Perlu diingat bahwa tolak ukur kemashlahatan sangat relatif, abstrak, intangible. Namun ia dapat dikira-kira, diasumsikan dengan berbagai data, fakta-fakta, pertimbangan, dan perimbangannya dengan idealita yang kita maksudkan. Sehingga zhann yang kita anut adalah asumsi yang rajih, kuat.
Setelah selesai urusan referensi dan metode, elemen akhir yang terdapat dalam rahim kebenaran adalah proses yang tepat. Ini sekaligus berbicara tentang lembaga pengambilan keputusan itu sendiri. Inilah yang kita sebut dengan syuro. Kemashlahatan yang menjadi tujuan harus melalui asumsi dasar yang kuat, merujuik kepada realitas , rasionalitas dan idealitas. Tentu saja akal kolektif lebih baik dari akal individu. Seperti dikatakan Rasul SAW, “Tidak keliru yang istikharah, dan tidak merugi yang bermusyawarah”
Resiko Syuro
Namun “ber-syuro” tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Resiko politis setiap keputusan sangat layak menjadi pertimbangan. Tugas pokok syuro untuk mendefinisikan mashlahat ‘ammah atau mudharat yang sifatnya asumtif, membuatnya tak lepas dari resiko kesalahan, atau kebenaran yang tidak bertahan lama. Syuro yang tidak bermutu, akan kehilangan ketepatan dan hikmah yang merupakan syarat dasarnya.
Syarat Syuro yang Benar
Sebagai upaya untuk meminimalisir kesalahan tersebut, para pendahulu kita dari generasi terbaik umat ini telah mencontohkan bagaimana syuro yang benar, dan jika kita lihat makna implisit tersebut ada tiga poin yang bisa dijadikan pegangan.
Pertama, sumber informasi yang jelas, lengkap, tepat, akurat. Informasi yang setengah-setengah akan merancukan sikap dan mengacaukan analisa. Kedua, kedalaman ilmu anggota syuro yang memadai. Inilah yang ditekankan oleh para ulama, karena ilmu dan kepahaman akan menentukan mutu analisis, pikiran, dan gagasan peserta syuro. Perlu diingat, ilmu bukan sekedar wawasan, tapi kepahaman dan didukung juga oleh rajahatul ‘aql (dominasi akal atas emosi), sehingga ide yang timbul kemudian tidak reaktf dan meledak-ledak. Ketiga, tradisi ilmiah dalam menyikapai perbedaan.
Ketiga faktor inilah yang kemudian menentukan fungsi instrumental syuro sebagai alat pengambil keputusan
Namun dibalik itu, syuro masih punya satu sisi lain; sisi psikologis, yang jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan perpecahan yang kontraproduktif dalam syuro. Sisi inilah yang di atas kita maksudkan dalam tradisi ilmiah, bagaimana syuro menjamin kemerdekaan setiap pesertanya untuk berekspresi secara wajar dan apa adanya.
sikap tidak melanggar adab majelis, kekanak-kanakan, apriori, ngotot, ngambek, dan menyudutkan, akan memancing peserta syuro lain untuk diam, tidak nyaman, dan tentu saja memecah ukhuwah yang akan menimbulkan keretakan dalam kehidupan berjama’ah.[2]
Pengertian Syuro
Secara bahasa terdiri dari tiga padanan kata SYURA; sesuatu yang wajib ditepati. ISTISYARAH; meminta pendapat. MASYURAH; memberikan pendapat. Sehingga secara bahasa dapat diartikan sebagai proses meminta dan memberikan pendapat, apabila sudah diambil sebuah keputusan maka kedua belah pihak wajib menepati dan melaksanakan semua keputusan tersebut dengan rasa tanggungjawab.
Syura juga berasal dari kata syara al-‘Asal, yang artinya ‘madu itu dibersihkan.’ Syurrat Ad-Daabah maknanya ‘engkau menarik seekor ternak untuk mengetahui atau menguji kekuatannya.’ Maka Asyura ialah menarik pendapat yang beragam dan berbeda-beda, lalu mengujinya untuk mendapatkan pemikiran yang lebih baik dan utama untuk dilaksanakan.[3]
Secara hukum syura berarti mencari kebenaran melalui kesungguhan dan kerja keras, komitmen terhadap manhaj Allah dengan tujuan meningkatkan ketakwaan.[4]
Secara Istilah ada empat padanan kata Syuro yaitu; tasyawur, masyurah, syura, istisyarah.
a. Tasyawur
Istilah ini lebih luas dari dan umum dari istilah lainnya, yaitu setiap dialog bebas diantara individu atau jamaah terhadap suatu masalah yang membutuhkan ketetapan.[5]
b. Masyurah
Pendapat yang dikemukan oleh seorang alim atau ahli fiqih (faqih) baik sendirian ataupun bersama-sama dalam urusan agama yang lebih sempit yang dinamakan fatwa.[6]
c. Syuro
Adalah arti sempit dari tasyawur yang menjadi suatu jalan untuk mendapatkan solusi dan keluarnya ketetapan jamaah mengenai berbagai urusan dalam jamaah yang bersifat umum.[7]
d. Istisyarah
Pendapat yang dikemukakan oleh seorang alim atau ahli Fiqih (Faqih) baik sendirian ataupun bersama-sama dalam urusan-urusan muamalah baik berupa urusan politik, social ataupun militer. [8]
Urgensi Syura
1. Mengaplikasikan salahsatu sifat orang-orang beriman:”Dan mereka bermusyawarah atas urusan mereka,”
2. Komitmen atas kewajiban Islam. “karena itu maafkanlah mereka, mohon ampunkanlah bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)
3. Mengaplikasikan system Islam dan keunggulannya dalam kehidupan individu dan jamaah.
4. Mengajar jamaah, mendidik umat dan mempersiapkan mereka untuk menata kehidupan manusia kepada jalan yang lurus, serta mampu memikul tanggungjawab.
5. Menghindari terjadinya sifat otoriter dalam proses pengambilan keputusan penting yang memiliki pengaruh signifikan dalam masyarakat.
6. Adanya ketenangan atas semua orang bahwa mereka berada di atas jalan yang lurus. [9]
Hukum Syuro (Batasan dan Sifat-Sifat Syuro)
Landasan dalam Alqur’an
Prinsip Syuro ada dalam Alqur’an baik pada periode Makkiyah dan Madiniyyah. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa syuro berlaku pada setiap periode dan kondisi dakwah baik pada masa pertumbuhan ataupun masa perkembangan dan stabil. Beberapa ayat Al Qur’an yang menunjukkan hal ini akan adalah sebagai berikut :
a. Ayat Makkiyah, Surat Asy-Syura: 38
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada Mereka”
b. Ayat Madaniyah, Surat Ali Imran: 159
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, …”
Dari kedua ayat yang mulia ini tampak sejauhmana Al Qur’an memperhatikan terhadap penetapan mabda’ Syura. Allah mewajibkan sejak dakwah Islam di mulai di Mekah sebagai manhaj dalam rangka mendirikan masyarakat Islam dan sebagai Kaidah system social dalam Islam. Kemudian Al Qur’an mengulangi pengukuhan mabda ini di Madinah, setelah kaum Muslimin mempunyai Negara yang merdeka. Pada saat itu Syura dijadikan fondasi sistem pemerintahan atau sistem konstitusional.
Tinjauan Kedua Ayat Secara Umum :
1. Salah satunya turun di Mekah dan salahsatunya sturun di Madinah. Dalam hal ini ada isyarat yang jelas mengenai keuniversalan mabda syura bagi setiap manajemen masyarakat Islam di seluruh tahapannya, bagaimanapun kondisinya tempatnya dan hubungan dengan masyarakat lain, demikian pula baik jamaah itu sekedar golongan minoritas tertindas ataupun mayoritas yang diatur oleh suatu Negara merdeka.
2. Ayat pertama yang ditujukan kepada kaum Muslimin umumnya sebagai individu-individu di dalam masyarakat dan menuturkan sifat-sifat mereka serta cirri-ciri khas yang membedakan masyarakat mereka. Yaitu
a. Kesatuan Aqidah dan Ibadah
b. Kegotongroyongan dalam berbagai urusan mereka yang bersifat umum melalui musyawarah, tukar pendapat dan jaminan dalam infak, serta segala macam yang dimaksud dalam hal tersebut baik seperti solidaritas mereka dan kemananggulan mereka atas dasar kebebasan yang sempurna dan persamaan yang adil.
Adapun Firman yang kedua ditujukan kepada Rasulullah setelah berhasil mendirikan negaranya yang merdeka di Madinah dengan pimpinan beliau. Ayat kedua ini memerintahkan kepada beliau, sebagai kepala Negara yang baru berdiri sekaligus sebagai penguasanya, agar syura dimana individu-individu telah terdidik sebelum didirikan Negara, menjadi dsar hubungan penguasa dengan rakyat dan individu masyarakat, kendatipun penguasa itu adalah seorang nabi yang diutus dan menerima wahyu dari langit.[10]
Pelajaran dari Surat Asy-Syura
1. Diturunkannya surat ini di Mekah sebelum Hijrah dan sebelum didirikan Negara Islam mempunyai tujuan bahwa syura merupakan salah satu sifat istimewa bagi kaum muslimin. Disamping percaya kepada Allah, mendirikan shalat dan saling menjamin dalam infak. Hal ini menjadikan mabda syura merupakan fondasi pendidikan social bagi individu-individu berikut berbagai macam prakteknya, menjadi wajib atas mereka dalam semua kondisi. Sehingga seandainya tidak ada manajemen politik, pemerintahan ataupun Negara, syura tetap berlaku.
2. Syura sebagai sifat ketiga bagi masyarakat Islam, dituturkan setelah iman dan shalat. Hal ini memberikan pengertian bahwa syura mempunyai martabat sesudah ibadah terpenting, yaitu shalat, sekaligus memberikan pengertian bahwa syura merupakan salah satu ibadah yang tingkatannya sama dengan shalat dan zakat. Maka masyarakat yang mengabaikannya dianggap sebagai masyarakat yang tidak menetapi salah satu ibadah. Sebagaimana dituturkan sebelum infak menjadikannya sebagai dasar bagi hubungan harta, ekonomi dan kerjasama dalam infak atas berbagai kepentingan umum dan penghidupan masyarakat. Hal ini dipahami dari nash ayat. Karena pronomina (kata ganti) yang dipakai kembali kepada orang-orang yang memenuhi panggilan Tuhan mereka, yaitu jamaah Muslimin. Sedangkan perkara yang wajib dikerjakan dengan syura ialah perkara jamaah ini, yang mencakup segala urusan mereka. Jadi artinya,” dan segala urusan mereka itu dimusyawarahkan diantara mereka.”
3. Ketika diturunkan ayat ini kaum muslimin masih merupakan individu-individu yang hanya disatukan dengan kalimat,”bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.” Sementara mereka berkumpul untuk menunaikan shlat dalam keadaan takut dan khawatir. Maka Allah menghendaki agar musyawarah dan tukar pendapat diantara mereka sebagai permulaan perjalanan untuk mewujudkan masyarakat baru yang berbeda dengan masyarakat jahiliyah.[11] Selain itu, agar mabda syura merupakan subatansi utama masyarakat ini dalam tahapan pengadaannya, dan yang pertama-tama yang harus ditepati oleh individu-individunya dalam fase tarbiyah dan pengaderan supaya mereka menjadi benih umat Islam yang memiliki solidaritas, gotong-royong dan saling menolong.
4. Ungkapan dalam ayat ini bersifat umum, yang dimaksud adalah keseluruhan jamaah dengan segenap individu, golongan, kelas dan organisasinya. Bukan hanya para penguasa semata-mata. Ini suatu bukti bahwa umatlah yang diwajibkan menepati syura, dan umat harus menekannya pada para penguasa yang telah mereka pilih untuk mengatur urusan mereka. Jadi, berpacu menegakkan syura harusnya datang dari individu-individu umat dan khalayak. Tidak cukup hanya menunggu para penguasa sampai mereka menyelenggarakannya. Dengan demikian syura merupakan tanggungjawab bersama seluruh pribadi masyarakat. Dosa yang disebabkan tidak mempedulikannya akan menimpa kepada umat secara keseluruhan.
5. Menemukan syura sebagai fondasi untuk mewujudkan jamaah yang baru ini. Belum mempunyai Negara dan system politik, sebenarnya menjadikan tukar pendapat dan peran serta positif bagi setiap individu mengenai urusan-urusan jamaah dan seluruh masalahnya sebagai tali hubungan yang kokoh yang menyambung antara jamaah dengan individunya dan menjadi dasar keanggotaan dan loyalitas mereka kepada masyarakat itu. [12]
Beberapa Pelajaran dari Surat Ali Imran
1. Ayat ini ditujukan kepada Rasulullah yang mulia, yang Allah telah memilihnya untuk menyampaikan risalah-Nya. Rasul yang menerima perintah-perintah dan pengarahan-pengarahan ilahiyah melalui wahyu Al Qur’an. Kendati syura belum dibutuhkan karena wahyu telah menjamin, membimbing dan mengarahkankannya, namun Allah Swt berkehendak menjadikannya ikutan, dan menjadikan syura sebagai peraturan yang diwajibkan atas generasi-generasi berikutnya, dan atas orang-orang yang dating sesudah mereka, yaitu mengatur berbagai urusan kamum muslim, yang lebih membutuhkan syura dari beliau, karena tidak menerima wahyu dari langit.
2. Ayat ini turun setelah perang Uhud. Para ahli tafsir dan Sejarah Nabi telah bersepakat bahwa Rasul Saw benar-benar bermusyawarah dengan para sahabat sebelum berperang. Beliau berpendapat tidak usah keluar dari kota Madinah dan bertahan di Madinah, karena ketentuan itu memungkinkan mereka menghancurkan pihak penyerang dengan mudah. Tetapi mayoritas sahabat, karena dorongan semangat, menekankan agar keluar dari Madinah untuk menghadapi musuh supaya tidak ditafsirkan mereka takut menghadapi musuh lantaran tidak keluar. Maka Rasulullah Saw menuruti usulan mayoritas. Kebetulan hasil pertempuran itu malapetaka bagi kaum Muslimin, maka orang-orang khawatir dan menduga bahwa hal itu akan menjadi sebab Rasulullah Saw tidak mau lagi bermusayawarah dan tidak mau lagi menyetujui pendapat mereka[13] Oleh karena itu maka datanglah nash ayat yang mulia untuk menghilangkan keraguan ini dengan mewajibkan Rasulullah agar mengampuni apa yang terjadi dari kelompok terbanyak dan agar terus menjalankan musyawarah dan konsisten dengannya. Nashnya pun tegas dan mantap karena datang dalam bentuk perintah dan menetapkan. Yaitu firman Allah;” bermusyawarahlah dengan mereka tentang perkara tertentu.”
3. Ayat ini tidak hanya menjadi dasar kewajiban bagi Rasulullah Saw menetapi syura, tetapi juga memiliki pengertian bahwa seluruh generasi yang datang sepeninggal beliau agar berjalan atas metode beliau dalam hal menetapi prinsip syura, sebagai Sunnah Nabi yang tetap di samping syura sebagai mabda’ Al Qur’an dengan nash yang tegas. Dengan demikian, syura menjadi fondasi setiap system yang berorientasi kepada Islam atau menegakkan syiarnya ataupun menetapi syariatnya, baik system politik, ekonomi, sosial dan lainnya.[14]
Landasan dalam Sunnah
1. Rasulullah saw meminta saran dan pendapat sahabat-sahabatnya dalam menerima tawaran tebusan tawanan Badr.
2. Dalam perang khandaq (ahzab), Rasulullah saw bermusyawarah dengan Sa’ad dalam proses perjanjian damai dengan suku Ghathafan dengan balasan setengah hasil kebun kota Madinah.
3. Rasulullah saw juga bermusaywarah dengan pasukannya dalam kasus pembagian ghanimah (harta rampasan perang) Hawazin seusai perang Hunain. Ketika itu, utusan dari Hawazin dating kepada Rasulullah saw untuk meminta jatah ghanimah. Beliau melontarkan masalah ini kepada para pahlawan perang untuk dimusyawarahkan. Beliau menyatakan persetujuannya yang diikuti kaum Muhajirin dan Anshar. Namun tidak disetujui oleh al-Aqra’ bin Habis dari bani Tamim dan al-Abbas bin Mirdas dari bani Salim. Rasulullah berkata kepada utusan tersebut, “Sesungguhnya kami tidak tahu siapakah yang mengabulkan permintaan kalian diantara orang-orang yang tidak menyetujuinya.kembalilah kalian sehingga pemimpin kalin membicarakan hal ini kepada kami. Merekapun kembali dan menyampaikan keputusan tersebut kepada pemimpin mereka. Setelah itu kembali kepada Rasulullah saw dan menyampaikan padanya bahwa pemimpin mereka menyetujui keputusan itu.”(Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari)
4. Rasulullah saw bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam menentukan cara mengajak kaum Muslimin untuk menunaikan shalat. (lihat kisah awalnya adzan dikumandangkan)
5. Beliau juga bermusyawarah dalam masalah peperangan, kesepakatan pembagian ganimah, perkara social politik. Seluruh masalah ini adalah unsur-unsur mendasar bagi sebuah Negara Islam.[15]
Landasan contoh Syura Khulafaur Rasyidin
1. Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat tentang warisan seorang nenek, dan ketika Mughirah bin Syu’bah mengatakan bahwa ia pernah mendengar hukum tentang hal itu dari Rasulullah saw yang disaksikan oleh beberapa orang sahabat, Abu Bakarpun mengikuti nash tersebut.
2. Tatkala beberapa sahabat mengusulkan perlunya penentuan gaji Abu Bakar sebagai Khalifah, masalah inipun kemudian dilontarkan kepada sahabat lainnya dan ahlul masjid yang selanjutnya menyepakati gaji beliau sebesar 3 dirham perhari.
3. Umar bin Khattab bertekad untuk memimpin pasukan perang kaum Muslimin menuju Persia dan mengajukan keinginan tersebut untuk dimusyawarahkan, ternyata mayoritas kaum Muslimin menginginkan agar beliau tetap di Madinah dan diwakili oleh Sa’ad bin Abi Waqqash.
4. Umar Ra juga meminta saran dan masukan kepada para sahabat tentang hukuman bagi peminum Khamr dan keinginannya untuk memperberat hukuman itu dengan 80 kali cambukan.
5. Umar bin Abdul Aziz membentuk suatu badan Majlis Syura yang terdiri dari 77 orang dari kalangan fuqaha, ulama dan hakim dan ia tidak memutuskan satu perkarapun selain meminta izin kepada mereka.[16]
System Pengambilan Kebijakan di dalam Dakwah adalah :
1. Syura
2. Hurriyah (kebebasan)
3. Musawah (persamaan)
4. ‘adl (Adil)
5. Ta’ah (Ketaatan)
6. Amar Ma’ruf Nahyi Mungkar (memerintahkan kebajikan dan mencegah kemungkaran)[17]
Bahaya Otoriter dan Individualis
Pengertian Otoriter dan Indiviualis
Secara terminology, otoriter berarti menguasai atau mendominasi. Sifat otoriter dan Individualis dalam menetapkan keputusan ibarat dua sisi mata uang. Keduanya saling mendukung satu sama lain. Maka, sifat otoriter menimbulkan perilaku individualis dalam pengambilan keputusan atau kebenaran opini dan pendapat hanya ada pada dirinya saja. Kandungan hikmah, kelurusan dan kebenaran hanya yang terucap dari mulutnya.[18]
Fir’aun Contoh Konkrit Sifat Otoriter dan Individualis
Hal ini termaktub dalam Al Qur’an Surat Al Mukmin:29
“(Musa berkata),’Fir’aun berkata,”Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.”
Apakah Sifat Otoriter Warisan atau Muktasab (Perolehan)
Tidak ada bukti empiris sifat otoriter diturunkan secara keturunan. Walaupun keturunan orang yang otoriter berpeluang sangat besar menjadi otoriter. Namun ada banyak hal yang membuktikan bahwa sifat ini lebih berpeluang sebagai akhlak muktasab bila orang itu hidup di tengah lingkungan yang demikian otoriter.
Setiap orang pada dasarnya tidak mempunyai sifat otoriter, namun ia mendapatkannnya dari-teman-teman selingkungannya. Sifat otoriter ini juga bisa muncul dari system manajemen yang ekslusif, sehingga ia merasa dialah pemegang kekuasaan sepenuhnya. Merasa memiliki pendapat yang paling benar yang harus diterima semua pihak. Sehingga timbullah sikap despotisme (kesewenang-wenangan) secara perlahan sifat otoriternya akan semakin mengental, hingga sampai merasa ia paling benar dan setiap orang yang menentang lari dari kebenaran dan harus dihabisi. Akhirnya ia menjadi tiran. Seperti Fir’aun yang dinyatakan oleh Allah Swt dalam AlQur’an :
“Maka, Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu patuh kepadanya.” (Az-Zukhruf: 54)[19]
Bahaya Otoriter dan Individualis
1. Walaupun seseorang diberi akal yang cerdas dan cemerlang, maka akan selalu ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Bila ia tetap mempertahankan pendapatnya yang mengandung kelemahan dan kekurangan serta akibat buruk, maka sikap otoriter seperti itu akan menimbulkan bencana bagi orang lain.[20]
2. Seseorang yang selalu ingin pendapatnya diterima dan bersikukuh mempertahankannya, secara perlahan akan menjelma menjadi sosok tiran dan otoriter, sehingga ia menyerupai Fir’aun dimana sifatnya itu membuatnya berkata, “Akulah tuhanmu yang maha tinggi.” Atau berkata seperti apa dikatakan tiran besar ini kepada para penyihirnya yang sujud dan berserah diri kepada Allah Swt, setelah melihat mukjizat Nabi Musa yang diberikan Allah Kepadanya. “kalian beriman kepadanya sebelum aku mengizinkan kalian untuk itu ?”
Ia pun akhirnya mengancam akan memotong kaki dan tangan mereka secara bersilang dan menyalibnya di batang pohon korma. Ia semakin menunjukkan ketiraniannya seraya berkata,”Dan kalian akan mengetahui siapakah diantara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.”[21]
3. Munculnya pendapat Individualis dan otoriter akan melumpuhkan kekuatan akal orang lain, kemampuannya dalam berpikir dan lenyapnya daya saring terhadap berbagai pendapat yang beragam. Inilah yang menyebabkan hilangnya daya pikir kreatif, inovatif, lurus dan bermanfaat di tengah masyarakat. Inilah kerugian besar yang menimpa umat ini setelah kebaikan-kebaikan itu semakin punah.[22]
4. Sebagian orang merasa tidak perlu ada loyalitas terhadap masyarakat di mana kita berada. Itu menyebabkan terjadinya penyimpangan dan kerusakan perilaku pada sebagian mereka, yang menyebabkan munculnya bencana besar di tengah mereka.[23]
5. Kesibukan manusia pada hal-hal yang sekunder dan remeh-temeh menyebabkan munculnya kekosongan jiwa. Ini adalah awal bencana dan malapetaka. Sifat otoriter dapat terjadi pada seseorang, kelompok, atau partai tertentu, maka bisa dikatakan sebagai dictator pribadi, partai atau kelompok. Sebagaimana disebut sebagai dictator proletar (dalam kalangan pekerja).[24]
6. Apabila hasil yang diperoleh dari sebuah keputusan yang tidak terbantahkan itu buruk, maka cemoohan, makian dan hinaan mengarah pada satu titik, yaitu pemilik opini tersebut. Hal itu akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan setiap orang padanya, sehingga ia tidak mampu mengawasi segala aktivitas yang berada di bawah kepemimpinannya.[25]
Cara menjauhkan Diri dari Sifat Diktator dan Individualis
1. Merupakan tanggung masyarakat seluruhnya untuk menterapi penyakit ini
2. Menyadari bahwa kisah akhir dari para tiran adalah kisah yang tragis
3. Mengikuti manhaj Islam dan selalu musyawarah dalam pengambilan semua keputusan dan menganggapnya sebagai kewajiban kepada Allah Swt.[26]
Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro
Terakhir, mari kita berbicara tentang ketidaksetujuan terhadap hasil syuro. Seringkali kita menghadapi keadaan di mana keinginan pribadi bertentangan dengan hasil syuro. Pendapat yang kita yakini bertolak belakang dengan syuro. Ini adalah ujian yang menuntut keikhlasan dan kesabaran ekstra. Sangat tidak mengenakkan untuk tunduk dan patuh pada keputusan yang tidak sejalan dengan kita.
Namun ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan :
· Apakah benar kita telah menguji pendapat kita secara ilmiah, atau itu hanya lintasan pikiran?
· Kalau kita berani jujur, apakah pendapat kita adalah obsesi pribadi jiwa kita, atau memang kebenaran objektif? Apakah kita menganggap diterima atau tidaknya usulan kita sebagai sebuah hal menang-kalah?
· Seandainya kita memang percaya benar akan niat dan ketepatan perkiraan kita secara ilmiah, maka ingatlah; “mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jama’ah jauh lebih utama daripada memenangkan pendapat yang amat tepat sekalipun.
· Sesungguhnya dalam ketidaksetujuan ada pelajaran berharga tentang keikhlasan, makana iman, tajarrud dari hawa nafsu, makna ukhuwah dan persaudaraan, makna tawadhu’ dan kerendahan hati, dan makna tsiqoh kepada jama’ah. Seperti kata Imam Syafi’i; “Pendapatku benar, tapi ada kemungkinan salah. Dan pendapat mereka salah, tapi bisa jadi benar…”[27]
Sesungguhnya perbedaan adalah kekayaan dalam hidup berjamaah, menikmatinya berarti meneguk kekayaan tersebut. Dan jikalau ada kesalahan dalam keputusan, maka kesalahan itu akan dapat direduksi, mudah diketahui sebab-sebabnya, ditanggung bersama, tidak menyebabkan kelemahan kolektif, dan itu lebih diridhoi oleh Allah SWT.
“Wahai orang-orang beriman, bersabarlah…,dan bersabarlah, dan bersatulah agar kamu menjadi kaum yang menang” (QS Ali Imran ; 200)
Pentingnya Amal Jama’I dalam setiap melakukan Pekerjaan
Pentingnya peranan Syura memberikan penekanan penting bagi kita untuk melakukan amal Jamai antara Qiyadah dan jundiah dalam suatu Jamaah Dakwah. Unsur-unsur yang ditekankan pada amal Jamai itu adalah berlandasaskan keimanan, amal shaleh dan saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Sebagaimana yang dijelaskan firma Allah:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-’Ashr : 3)
Wallahu’alam

[1] Mengenai efektivitas, saya ingin menambahkan bahwa hal ini terkait erat dengan efisiensi. Efektifitas dalam kaidah bahasa Indonesia dinamai mangkus; berhasil-guna berbicara tentang efek, hasil yang diraih. Sedangkan efisiensi adalah sangkil; berdaya-guna. Titik tekannya adalah pemberdayaan potensi seoptimal mungkin. Mencapai sasaran dengan akurat dan telak.
[2] M.Anis Matta, Menikmati Demokrasi Cetakan kedua (Jakarta:Pustaka Saksi,2007), hal. 85-88
[3] Prof. Dr. Taufik Yusuf Al-Wa’iy, Kekuatan Sang Murabbi Cetakan Kedua (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2004), hal. 149.
[4] Ibid,.
[5] Dr.Taufiq Asy-Syawi.Syura Bukan Demokrasi Cetakan Pertama (Jakarta: Gema Insani Press,1997), hal. 130
[6] Ibid,hal. 131
[7] Ibid
[8] Ibid
[9] Prof. Dr. Taufik Yusuf Al-Wa’iy, Kekuatan Sang Murabbi Cetakan Kedua (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2004), hal. 156-157
[10] Dr. Taufiq Asy-Syawi, Syura Bukan Demokrasi Cetakan Pertama (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hal. 66-67
[11] Sehubungan dengan ini Sayyid Qutb berkata,” turunnya ayat ini di Mekah memberi isyarat bahwa kedudukan syura dalam penghidupan kaum Muslimin lebih penting dari sekadar system politik Negara. Syura adalah corak asasi bagi jamaah seluruhnya yang urusannya ditegakkan diatasnya sebagai jamaah. Lalu pindah ke Negara sebagai sesuatu yang tumbuh secara alamiah bagi jamaah (Fi Zhilalil Qur’an, juz V: Surat Asy-Syura).
[12] Dr. Taufiq Asy-Syawi, Syura Bukan Demokrasi Cetakan Pertama, Op.Cit., hal. 67-69
[13] Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb (IV/119) cetakan keenam; dan tafsir Al-bahrul Muhith oleh Ibnu Hayyan; Dr. Ahmad Syauqi al-Fanjari dalam kitabnya; Al-Hurriyah As-Siyasiyah fil Islam, hal. 213
[14] Dr. Taufiq Asy-Syawi, Syura Bukan Demokrasi Cetakan Pertama, Op.Cit., hal.69-70
[15] Prof. Dr. Taufik Yusuf Al-Wa’iy, Kekuatan Sang Murabbi, Op.cit., hal. 154
[16] Ibid., hal. 155-156
[17] Dr.Utsman Abdul Mu’iz Ruslan, Pendidikan Politik Ikhwanul Muslimin Cetakan pertama (Solo: Era Intermedia, 2000), hal. 324.
[18] Prof. Dr. Taufik Yusuf Al-Wa’iy, Kekuatan Sang Murabbi Cetakan Kedua (Jakarta: Al-I’thishom Cahaya Ummat, 2004), hal. 144
[19] Ibid, hal. 144-145
[20] Ibid., hal. 146
[21] Ibid., hal. 146-147
[22] Ibid., hal. 147
[23] Ibid.,
[24] Ibid.,
[25] Ibid., hal. 147-148
[26] Ibid., hal. 148
[27] M.Anis Matta, Menikmati Demokrasi Cetakan kedua (Jakarta:Pustaka Saksi,2007), hal. 91-95

Sumber : http://eddysyahrizal.wordpress.com/