I just got back from "Corporate Travel Management Forum" held in Shangrila Hotel Jakarta. The forum was organized by OAG and travel management consultant with global network => BTI. They basically want to encourage corporations to "mind your corporate travel expenses" . In this forum, i told everyone that it is again about QCD. Travel expenses is quite often overlooked by many companies.
Think about it. Suppose you have an employee called Alex who is on business trip to Hong Kong from Wednesday till Friday. "Tomorrow is weekend, so why not staying until Sunday?" Alex asks himself. So he decided to stay longer in Hong Kong for the weekend, not for business purpose but for his personal leisures . From the company's point of view, is that ethical? Alex's trip is supposed to paid by the company only from Wednesday to Friday. "how about if i pay my own accomodation for the weekend?" Yes, you surely need to pay at your own expenses. But Alex seems to forget something essential, the cost for the flight ticket from Hong Kong on Sunday is way more expensive than in Friday. Mind you to cover Alex trip only from Wednesday to Friday. Weekend is for his personal life. Should he decided to stay over, you know what to do.
Thank god there are some travel consultants who provide us solution for corporate travel costs reduction.
This morning I stopped by at Mr Hasyim Mudzadi's office (those who don't know who Mr Hasyim is, i suggest to go Google) for a coffee, discussing so many issues. Interestingly, tomorrow he's heading to Vatican to meet the Pope and attend the International Interfaith meeting.
Last weekend, I invited Mr Sanjay Kao ( Card Business Director of Citibank Indonesia)to speak at my executive education workshop on “Rethinking Channel Management” held at Le Meridien Hotel, Jakarta.
Before he joined Citibank in 1995, Sanjay had previously worked for Unilever in India (Hindulever). As we know, Unilever is not only good in brand Management, famous for its brand portfolio, but also in its channel management.
From what I heard from him, there was no difference on how they managed the channels in Indonesia. Unilever-not many other consumer goods principals-can manage the distributors tightly and control the price and promotion at the retail level.
As an ex unilever guy, Sanjay Kao now wants to offer Citibank Card as an alternative, creative channel for any selective principals. He also convinced the workshop participants that EazyPay is a good channel, especially for something expensive, but can be installed. And that is fast. Without any special approval. Sure, because the card holders are approved before. It is really a win-win solution for customer principal-citibank.
Channel management itself is not a ‘flamboyant’ issues, like brand management or even product development. From my experience in running 10 executive 2 day workshop inyear with various marketing topics, I know that the channel/distribution topic participants are typical “field people” no typical “MBA guys”
They tyipically don’t like too complicated concepts and figures. But they are typically experience “field warriors”
In fact, if a company is only focusing its energy on branding and products and forgetting to an efficient and effective channel management. It with surely fail.
Channel is our blood vessel. If it’s blocked, the blood will not flow. Thus, the company will get stroke or be dead.
Creative channel, like the one offered by Sanjay Kao is just like alternative blood vessel.
Perhaps not many people know that Indonesia has 40% of the world's geothermal reserves, one of the unexplored conventional energy. The problem is that, these reserves are covered on the Ring of Fire or the so called Plate around Indonesia archipelago, which can produce magnificent Tsunami, deadly quakes, etc. But by looking through different perspective, THANK GOD they are here!!!
That's just one of the issues discussed last night by Mr Kusmayanto Kadiman at Jakarta Asian Globe meeting which I'd hosted. A good friend of mine, Mr Kusmayanto is the Minister of Research, Science and Technology of Indonesia. He covered a special topic on "Energy: Where Do We Go From Here?"
Hope to update to you all again soon.
cheers!!
Kishore Mabubani is an ex ambassador of Singapore to the U.S. He's also the current Dean of Lee Kuan Yew School of Government at NUS Singapore.
At the forum today, he said that he's getting worried with the world's economic situation. In the past 60 years were alter the world war II ended. Whether you like or or not, U.S. has been powerful stabize the word. But now, the situation is different!
At the Goldman Sachs meeting in New York, that he attended, Mabubani understood that the market analysts are worry with two main issues: The huge deficit of US budget and the Oil & Gas price. The additional problem for US is for sure neverending war in Iraq. So if US is not strong anymore, all of us would be in the dangerous position. We would be lost because we are not familiar with the new landscape. Now, every country must be selft reliant. especially Asia. Can Asia think? or can America Think?
Disebelah kanan saya adalah Pak Lingga Setiawan yang KUAI atau Acting Ambassador RI di Mexico City.Sedang, dikanan saya adalah Xavier Lopez Ancona,Founder dan CEO KidZania.Foto diambil tadi pagi pkl 5 pagi WIB atau tgl 22 Desember pukul 4 sore waktu Mexico City di Santa Fe Mall, Mexico City.
Inilah Mall terbesar di Amerika Latin.KidZania yang juga ada di Pacific Place Jakarta, memang berasal dari sini.Inilah KidZania pertama didunia, sebelum yang kedua didirikan di Monterey, Mexico bagian utara.Setelah KidZania Tokyo dibuka,maka yang PacificPlace pun dibuka dengan franchisornya Mohammad Riza.Sekarang sudah ada juga di Hoshin Osaka dan Portugal.Tahun depan, kata Xavier akan dibuka lima lagi antara lain Dubai, Seoul, KL dan dua tempat lain.Saya beruntung sekali bisa mengunjungi KidZania yang disini atas perantaraan pak Lingga.Xavier sendiri yang ternyata lulusan Kellogg tahun 1992, menyambut kami dengan antusias.
Digambar lain di tulisan ini, anda bisa melihat bagaimana "koran" KidZania dicetak khusus untuk menyambut saya sebagai President of World Marketing Association.Walaupun sudah masuk beberapa kali KidZania Jakarta, saya makin "impressed" setelah diantar muter muter dan dijelasin sendiri oleh Xavier.
Lebih dari di Jakarta, di Mexico City,selain anak - anak bisa jadi apapun, mereka juga bisa mempelajari arkeologi Maya yang jadi makin terkenal setelah film 2012 !Mereka bahkan diajak untuk masuk ke "basement" untuk menimbulkan kesan penggalian benda benda bersejarah.Selain itu, tentu saja, anak anak bisa jadi Polisi, Dokter, Koki, Pembuat Coklat dan sebagainya.Semuanya dibuat se real mungkin tapi dalam ukuran anak anak.
Konsep "role-playing" dijalankan secara maksimal karena anak - anak memang kepingin "bebas" dari orang tua mereka.Di KidZania, mereka bisa "bebas" melakukan apa saja, jadi apa saja, tapi mengalami proses "educational" secara menyenangkan.
Xavier yang dulu adalah Konsultan Booz Allen Hamilton dan pernah bekerja di Equity Market itu dapat inspirasi dari temannya yang mengajak untuk buka "day care center".Dasar orang Marketing, dia gak mau bikin sesuatu yang tidak kuat diferensiasinya!Karena itulah, dia lantas sampai pada ide membuat KidZania yang merupakan sebuah kota lengkap untuk anak anak itu.
Di Jakarta sendiri, waktu HUT ke 2 KidZania,saya mengatakan didepan para undangan dan Dubes Mexico di Indonesia bahwa inilah tempat pembentukan Kid's Character.Karena itu, para sponsor juga bisa disebut Good Corporate Citizen.
Kenapa?Karena, sponsorship mereka memungkinkan anak - anak itu tumbuh jadi Good Individual Citizen.
Saya sendiri senang bisa membantu mempromosikan KidZania karena inilah contoh pelaksanaan New Wave Marketing yang horizontal.Selain itu, Xavier juga berjanji untuk membantu KBRI untuk "launch" buku saya yang kelima bersama Philip Kotler yaitu Marketing 3.0 yang juga di-endorse pak SBY,di Mexico City.Dengan begitu, buku yang akan pertama kali di launch di Kellogg Campus 15 Juni tahun depan itu , juga akan di launch di Sekolah Bisnis Nomer satu di Mexico City.
"Philip Kotler is my Professor, so I must support to launch the book" kata Xavier."But you must become our ambassador to the world too..." tambahnya.
Di Mexico City, selain staf KBRI saya juga bertemu pak Ikhwan Aman, Director ITPC dari BPEN.Saya mendapat kesan ,Pak Lingga dan Pak Ikhwan adalah dua orang pejuang keras dalam " Marketing Indonesia".
Pendekar2 garis depan kita ini selalu gigih, walaupun banyak orang Indonesia yang "kurang mengenal" terhadap Mexico."Mexico itu indah dan penting,karena merupakan pintu masuk ke Amerika Utara dan Selatan" ujar mereka.
Sampai sekarang, Neraca Perdagangan Indonesia - Mexico sangat surplus dipihak kita.Indonesia sendiri yang ada di rank 16 dunia di G 20 makin terpandang didunia.
Mudah2an launch buku saya di Kellogg, Mexico City dan delapan kota dunia lain tahun depan akan bisa memberikan kontribusi kecil untuk meningkatkan terus "country image" kita !
Disebelah saya adalah Untung Suwarso, Direktur dari Indonesia Trade Promotion Center atau ITPC di Sao Paulo. Foto ini diambil di kantor ITPC yang berlokasi di Edificio Park Lane, Alameda Santos 1787. Tugas Pak Untung adalah mempromosikan produk Indonesia di Brazil. Karena itu, ruangan tamu kantor ITPC mirip Showroom yang dipenuhi oleh berbagai sampel produk.
Sebagai pejabat senior Depdag, Pak Untung sudah pernah ditempatkan di Tokyo juga sebagai Atase Perdagangan di KBRI disana. Dari pembicaraan saya, kelihatan Pak Untung yang pernah mengambil Graduate Program di Amerika itu, sangat analitis.
Ini hanya beberapa contoh dari hasil analisa Pak Untung terhadap dua puluh Komoditi Indonesia, baik yang Utama maupun yang Potensial. Dengan melakukan analisa seperti itu, maka upaya ITPC bisa lebih terfokus. Di Kelapa Sawit, misalnya yang diperlukan tentunya “defensive strategy”, karena share sudah besar. Sedang di kelompok Karet dan Komponen Motor, lebih diperlukan “offensive startegy”.
Menarik cerita Pak Untung bagaimana ITPC ikut membantu Gajah Tunggal supaya tidak “dicampur aduk” dengan produk ban dari Tiongkok yang dianggap melakukan “dumping” oleh Brazil. Saya pribadi jadi bangga sekali, mendengar bahwa Gajah Tunggal menggunakan Brand GT dalam mengekspor ban ke Brasil. Tentunya selain dalam bentuk Ban, Indonesia juga meng ekspor komoditi dalam bentuk Karet mentah ke Pabrik pabrik Ban di Brazil. Selain itu, saya juga melihat sampel produk Handuk dari Indonesia yang mau penetrasi ke hotel hotel di Brazil. Brosur nya sudah dalam bahasa Portugis, begitu juga dengan Company Profile Video nya.
Pak Untung bahkan cukup inovatif, ketika menganjurkan perusahaan tersebut untuk membuat sampel Handuk dengan logo World Cup 2014 yang memang akan diselenggarakan di Brazil. Begitu juga dengan logo Rio 2016 untuk Olympics. “Saya melihat di jalan jalan disini,mulai ada yang kayak begituan, jadi saya ambil inisiatif untuk coba menawarkan sampel tersebut ke beberapa importir” katanya. Buat saya,ini termasuk “creative strategy” yang memang sangat penting dalam International Marketing. Memang tidak mudah, karena produk Tiongkok sudah ada dimana mana disana. Tapi belakangan, kata pak Untung, banyak permintaan dari para Inmportir Brazil yang kepingin cari produk dengan kualitas lebih tinggi, datang ke ITPC.
Fabio M Sin, orang Brazil yang staf Marketing ITPC kelihatan memang sangat luas networknya. Dialah yang banyak membantu para produsen Indonesia disana. Selain itu juga ada staf lokal Sinta Surentu, orang Indonesia yang sudah enam tahun tinggal di Sao Paulo dan bersuami orang Brazil. Kedua orang yang juga berfoto dengan saya itulah, yang menjadi partner Pak Untung di Sao Paulo. Mereka berdua, dengan bahasa Portugis nya yang fasih bisa melakukan terobosan kemana -mana.
Brasil memang jauh dari Indonesia, tapi potensinya sebagai “alternative market” bagi para eksportir Indonesia sangatlah penting. Inilah negara besar dengan penduduk hampir 200 juta orang dan GDP per Capita yang sudah mencapai US $ 8500,-. Selain itu, Brazil juga masuk kelompok “emerging countries” yang sering disebut BRIC (Brazil, Rusia, India, China).
Ketika, pasar tradisional seperti Amerika dan Eropa sudah jenuh atau terkena krisis,diversifikasi pasar ke pasar alternatif seperti diperlukan. Karena itulah,peranan ITPC yang jadi “mata dan telinga” dan sekaligus “match maker” bagi para eksportir jadi sangat penting. Selain itu, tentunya bersama KBRI setempat, bisa ikut menjaga kepentingan para eksportir dari sisi perjanjian bilateral maupun multilateral.
Mengunjungi ITPC seperti di Sao Paulo ini,makin menyadarkan kita semua,bahwa bahkan dijaman “horizontal” inipun,peranan Pemerintah diperlukan bahkan lebih diperlukan lagi oleh pengusaha. Terutama untuk masuk ke Pasar yang tidak “biasa”. Karena itu,saya senang sekali mendengar pak Untung mengatakan : “Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu semua eksportir Indonesia.Karena ITPC ini memang didirikan untuk mereka.Baik yang besar maupun yang kecil..”
Mudah-mudahan semangat seperti ini ada disemua Kantor ITPC dimanapun berada.
Selamat berjuang terus Pak Untung, Fabio dan Sinta !
Ngobrol dengan Dubes Ibrahim Ambong di KBRI Santiago memang mengasyikan. Sebagai bekas Ketua Komisi 1 DPR RI, kelihatan beliau masih tetap mengikuti kejadian di tanah air. Naluri politiknya tajam. Analisa terhadap kejadian di Indonesia cukup rasional. Tapi yang mengagumkan saya, adalah bagaimana beliau merasa sebagai "statesman" ketika jadi Duta Besar. "Ada banyak yang kita bisa pelajari dari Chili. Negara ini hanya punya penduduk sekitar 16 juta orang, tapi bisa jadi semacam hub dari Amerika Latin" ujar beliau.
Chili yang ada di Pacific Rim sangat aktif mengembangkan hubungan politik dan dagang bukan cuma dengan Amerika Serikat, tapi juga dengan Asia. "Infrastruktur yang merupakan jantung perekonomian luar biasa perkembangannya di Chili" tambah Dubes Ibrahim Ambong. Saya sendiri merasakan itu. Ketika sempat diantar Direktur IPTC (Indonesia Trade Promotion Center ) Santiago, Ali Akbar Hehahitu ke kota pelabuhan Valparaiso yang bersebelahan dengan kota turis Vina del Mar, semua jalan yang dilalui mulus.
Perjalanan lancar, karena gerbang tol hampir tidak ada. Yang ada hanya bunyi "toll charge" yang otomatis memotong kartu prepaid highway di mobil. Menurut informasi, ada lebih dari 20.000 km jalan sekualitas highway di Chili.
Tentang menjadi hub Amerika Latin, saya juga membuktikannya ketika ketemu dengan Nicolas Roman, yang dikenalin Philip Kotler. Nicolas ternyata bekerja di Harvard Business Review Latin America di Chili! Itu berarti bahwa pusat intelektual bisnis di Amerika Latin memang berpusat di Chili. Nicolas sedang mempersiapkan serangkaian Seminar Marketing 3.0 saya di beberapa kota Amerika Latin.
Direktur IPTC Ali Akbar juga kelihatan pintar memanfaatkan posisi strategis Chili ini. Dia sedang menyiapkan pembentukan sebuah Trading Company untuk menyalurkan produk2 Indonesia lewat Iquique di Chili Utara, bukan hanya ke Chili, tapi juga ke Peru dan Bolivia. "Saya harus bisa menerobos dominasi China disana" ujarnya bersemangat.
Ali Akbar yang "orang lapangan" ini ingin mengawinkan Jacky, orang Indonesia keturunan India yang sudah lama berdagang disana dengan Suyanto, pengusaha Indonesia."Saya ingin meletakkan landasan perdagangan disini, bukan sekedar memacu ekspor Indonesia ke Chili secara taktikal…Mudah2an Ibu Mendag nanti berkenan meresmikannya awal tahun depan!" Ali Akbar bersemangat. Buat saya,ini adalah contoh langkah stratejik dari sebuah ITPC yang baru berdiri tujuh bulan.
Kesimpulan?
Buat saya, Indonesia baik Pemerintah maupun pengusahanya harus cari pasar alternatif. Jangan cuma berani jadi "jago kandang" atau ke "pasar tradisional". G7 atau G8 lagi turun..karena itulah mereka memasukkan Indonesia di G 20. Mestinya, pejabat di KBRI maupun ITPC di pasar alternatif ini harus diisi dengan orang2 kelas satu !
Kenapa?
Ya karena Developed Countrie lagi turun dan Emerging Countries lagi naik! KBRI dan ITPC di Chili dan negara2 "alternatif" lain haruslah jadi prioritas ! Pemikiran kita harus dibalik! Untung aja, saya ketemu dengan orang2 yang bersifat "hunters " di Chili. Entah by default tau by design? Yang di "traditional market" cukup "farmers" yang bekerja di disitu karena sifatnya "maintain".
Saya meninggalkan Santiago, dengan harapan semangat KBRI dan ITPC membara teurs ! Demi Indonesia tercinta !
Memberikan informasi tentang Indonesia di luar negeri memang tidak gampang. Secara tradisional, anggapan orang luar terhadap Indonesia banyak dipengaruhi media besar seperti CNN yang lebih banyak menyiarkan informasi kurang menguntungkan. Karena itu, keberadaan kantor perwakilan lembaga Indonesia di luar negeri jadi penting untuk memberikan keseimbangan. Itulah, antara lain yang dilakukan pak Eddy Sulaeman Yusuf,Kepala Perwakilan Bank Indonesia di Tokyo. Disana ada dua Lembaga Rating yang berpengaruh, dalam menerbitkan laporan yang dipercaya oleh para stakeholders ekonomi dunia.
“Tugas kami disini, memberikan informasi tentang situasi di tanah air yang sesungguhnya “kata pak Eddy ketika bertemu di kantor BI di Marunouchi, didaerah Ginza. Tentu saja, mereka juga mencari informasi dari pihak lain dalam menulis laporan mereka tentang Indonesia.
Saya juga sempat bertemu Junanto Herdiawan, Ekonom muda yang baru bertugas di Tokyo membantu Pak Eddy. Saya sendiri melihat bahwa Kantor Perwakilan BI di Tokyo bekerja cukup efisien dan produktif. Hanya dengan tiga orang home staff dan beberapa local staff, Pak Eddy bukan hanya bertanggung jawab untuk wilayah Jepang tapi juga wilayah Greater China yang dinamikanya semakin hebat.
Lobi dengan cara memasuki komunitas yang relevan, kayaknya sudah menjadi praktek sehari hari tim BI di Tokyo. Ini pas dengan konsep New Wave Marketing yang bersifat “horizontal” dimana CONNECT menjadi persyaratan utama. Get Connected hanyalah langkah pertama untuk mengenal dan dikenal Komunitas komunitas yang relevan.
Deep Connection adalah langkah berikutnya dengan cara bergaul lebih intense dengan beberapa pihak supaya bisa mencapai level lebih “personal”
Sedang Strong Connectivity adalah tingkat tertinggi kalau CONNECT sudah masuk ke tahap interpersonal.
Selain tugas “tradisional” BI, saya melihat juga bahwa pak Eddy dan tim melanjutkan pendahulunya untuk ikut membina “kanshuse”, yaitu tenaga Indonesia yang mendapat skill training khusus di Jepang selama tiga tahun. Setelah itu, bisa dapat job tetap disana atau harus pulang ke Indonesia. Nah,disinilah BI Tokyo bekerja sama dengan kantor2 perwakilan BI di tanah air untuk jadi “matchmaker” supaya para Kanshuse ini bisa dapat pekerjaan yang layak nantinya. Juga ada harapan mereka bisa jadi wirausaha kecil dengan buka bengkel, misalnya, karena sudah dapat pelatihan yang bagus di Jepang. “Kasihan, kalau mereka balik ke Indonesia, jadi sopir lagi..” Kata pak Eddy.
Ketika saya tanya lagi, apa lagi yang ingin dicapainya selama bertugas di Tokyo, beliau hanya berharap bahwa Indonesia bisa dapat bagian lebih banyak lagi dalam services. “Balance of Trade kita surplus besar, tapi jadi kecil di Balance of Paymnent karena banyak kalah di jasa” pak Eddy menjelaskan.
Ini sinyal sekaligus “warning” untuk perusahaan jasa Indonesia seperti Asuransi dan Pengapalan supaya bisa lebih berperan dalam ekspor kooditi Indonesia. Tidak gampang memang,karena belum punya “competitive advantage” yang nyata. Tapi,saya pun berharap setuju, selain perbaikan terus menerus pada kinerja perusahaan kita ,juga perlu diintensifkan lobi lobi G2G maupun B2B untuk mendapatkan porsi lebih besar.
Selamat berjuang pak Eddy,mas Iwan dan tim..
Marketing Indonesia diluar negeri, memang harus dilakukan semua orang. Menurut porsi dan tugas masing masing.
This is the time !
Saat ini Indonesia tidak seperti dulu lagi! Ketika negara maju lagi stagnan bakan panik,jangan sia siakan momentum.
Kami di MarkPlus, Inc. menamakannya Indonesia Youth Time Cube 2020: I have a Dream!
Saya meminta Menegpora Andi Mallarangeng untuk menandatanganinya bersama saya.
Di dalamnya ada 22 buah Impian dari 22 orang Pemuda Pilihan seluruh Indonesia.
Ditambah dua orang Icon yaitu Dian Sastro dan Pandji Pragiwaksono.
Semuanya masih berusia di bawah tiga puluh tahun!
Memang ada banyak definisi usia pemuda, tapi saya merujuk pada Undang Undang No. 40 tahun 2009 yang membatasi pada usia 16-30 tahun.
Panitia seleksi kami yang terdiri dari Waizly Darwin, Nurul Fitriah, Joseph Kristofel, Putu Ika dan Edo Rinaldo bekerja keras untuk memilih dan mengundang mereka.
Untuk menulis impian mereka tentang Indonesia 2020.
Semua impian itu sekarang ada di dalam Kotak Waktu, saya simpan di lobby MarkPlus Institute of Marketing (MIM) Campus Jakarta, ditutup dan disegel untuk nanti dibuka pada bulan Februari tanggal 22 tahun 2020, karena itu namanya jadi Time Cube 02-22-20!
Untuk menandai dimulainya Kotak Waktu itu, maka diadakanlah Diskusi Pemuda Indonesia di Philip Kotler Hall, Lantai 3 MIM Campus tgl 22 Februari 2010 yang lalu.
Diskusinya ramai sekali dan penuh sesak, dengan dihadiri pak Ciputra yang meskipun sudah berusia 78 tahun, tapi masih tetap bersemangat seperti orang muda.
Waktu itu juga hadir Viktor Hartono dari PB Djarum yang membawa Sigit Budiarto (pelatih bulutangkis nasional), Djonnie Rahmat (COO, MRA Group) yang berada di satu ruangan dengan creative entrepreneur muda ’lulusan’ MRA seperti Yoris Sebastian (OMG) dan Billy Boen (Young on Top), Nenny Soemawinata (CEO, Putera Sampoerna Foundation) yang membawa Imelda Francisca (Duta Pendidikan) dan juga beberapa brightest scholars penerima Scholarship dari Sampoerna Foundation.
Selain itu juga, yang menarik adalah sumbangan Hyundai (World Cup South Africa 2010 Partner) dalam acara ini yang berupa bola besar yang dipajang di depan kantor MarkPlus untuk menyambut peserta diskusi yang hadir (terima kasih pada Pak Jongkie/ Pak Erwin / Pak Denny / Bu Titi).
Karena ini acaranya anak muda, maka memang pada akhirnya yang datang lebih banyak anak muda yang energetik, funky dan punya masa depan yang cerah untuk membangun negara. Sebut saja orang-orang seperti Adib Hidayat (Rolling Stone Indonesia), Aldo Sianturi (Pura-pura records), David Tarigan (aktivis dunia musik nasional), Andrie Djarot (TV One), Sandhy Sondoro (Juara kompetisi penjaringan bakat ”New Wave 2009” di Eropa), White Shoes & The Couple Company (grup indie yang paling sukses), Awan mewakili G-Pluck (band impersonator Beatles asal Indonesia yang mewakili Asia ke Liverpool tahun lalu).
Selain itu juga ada orang-orang yang selama ini memang dekat dengan dunia anak muda sebut saja Daniel Tumiwa (salah satu pendiri MTV Asia dan NuBuzz Network, yang kini di Djarum), Erfan Kusuma dan kawan-kawan dari Persatuan Disc Jockey indonesia, Danny Oei (CMO, Kaskus), Piyu (Padi), dan Christine Pudjiastuti (Kompas Muda).
Selain kalangan sports dan arts, acara ini juga dihadiri oleh entrepreneur muda seperti Yuliasiane Sulistiyawati (pemenang Service Entrepreneur of the Year 2009 dari Ernst & Young), Nina Moran (Go Girl), dan Hendi (Kebab Turki pemenang entrepreneur of the year juga dari Ernst & Young), yang banyak mengangguk dan mengiyakan ketika pak Ciputra mengatakan alasan kenapa Indonesia tidak maju adalah karena kita dididik untuk punya mental mencari kerja.
Pak Ciputra sendiri mengatakan bahwa mimpinya adalah melihat ada empat juta pemuda entrepreneur yang akan mengubah Indonesia dalam 25 tahun ke depan. Apa yang Pak Ciputra katakan sesuai sekali dengan apa yang saya gambarkan mengacu pada Undang-Undang Kepemudaan, yang mengajak Pemuda Indonesia untuk jadi Moral Force, Social Control dan Agent of Change! Karena itu, mereka juga diharapkan jadi Leader, Entrepreneur dan Pioneer.
Nah Pak Ciputra adalah Model panutan yang baik untuk itu. Semoga, ketika dibuka nanti, Impian pemuda pilihan ini akan terwujud seratus persen! 22 Pemuda Pilihan: Laki-laki 1 Guinandra Lutfan Jatikusumo
2 Doni Tata
3 Frans Kurniawan
4 Shofwan Al-Banna Choiruzzad
5 Dono Firman
6 Hendy Setiono
7 Kristiono Setyadi
9 Firman Utina
8 Rony Gunawan
10 Wahyu Aditia
11 Sandhy Sondoro
Perempuan 1 Irene Kharisma Sukandar
2 Vania Santoso
3 Angelina Veni Johanna
4 Alanda kariza
5 Vanya Vabrina Valindria
6 Anike Nelce Bowaire
7 Maria kristin yulianti
8 Inayah wahid
9 Imelda Fransisca
10 Aprilia Apsari - White Shoes And The Couple Company Band
11 Theresia Ebenna Ezeria Pardede*