Pentingnya Landasan Filsafat Ilmu Pendidikan Bagi Pendidikan

Pengantar

Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh ilmu atau cabang ilmu-ilmu. Misalnya: apakah yang dimaksud dengan pengetahuan, dan/atau ilmu? Dapatkah kita bergerak ke kiri dan kanan di dalam ruang tetapi tidak terikat oleh waktu? Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sekitar pendidikan dan ilmu pendidikan. Kiranya kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang bersifat rasional semata mengingat kita mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia, lebih-lebih untuk anak-anak kita masing-masing; ilmu pendidikan secara umum tidak begitu maju ketimbang ilmu-ilmu sosial dan biologi tetapi tidak berarti bahwa ilmu pendidikan itu sekedar ilmu atau suatu studi terapan berdasarkan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu sosial dan atau ilmu perilaku.

Pertanyaan yang timbul yaitu: apakah teori-teori pendidikan dapat atau telah tumbuh sebagai ilmu ataukah hanya sebagian dari cabang filsafat dalam arti filsafat sosial ataupun filsafat kemanusiaan?

A. Pendidikan Sebagai Kegiatan Ilmu dan Seni
Masalah pendidikan mikro yang menjadi focus disini khususnya ialah dasar dan landasan pendidikan serta landasan ilmu pendidikan yaitu manusia atau sekelompok kecil manusia dalam fenomena pendidikan.

1. Pendidikan dalam Praktek Memerlukan teori
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan aji mumpung. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu.

Kita baru saja menyaksikan pendidikan di Indonesia gagal dalam praktek berskala makro dan mikro yaitu dalam upaya bersama mendalami, mengamalkan dan menghayati Pancasila. Lihatlah bagaimana usaha nasional besar-besaran selama 20 tahun (1978-1998) dalam P-7 (Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berakhir kita nilai gagal menyatukan bangsa untuk memecahkan masalah nasional suksesi kepresidenan secara damai tahun 1998, setelah krisis multidimensional melanda dan memporakporandakan hukum dan perekonomian negara mulai pertengahan tahun 1997, bahkan sejak 27 Juli 1996 sebelum kampanye Pemilu berdarah tahun 1997. itu adalah contoh pendidikan dalam skala makro yang dalam teorinya tidak pas dengan Pancasila dalam praktek diluar ruang penataran. Mungkin penatar dan petatar dalam teorinya ber-Pancasila tetapi didalam praktek, sebagian besar telah cenderung menerapkan Pancasila Plus atau Pancasila Minus atau kedua-duanya. Itu sebabnya harus kita putuskan bahwa P-7 dan P-4 tidak dapat dipertanggungjawabkan, setidak-tidaknya secara moral dan sosial.

Mari kita kembali berprihatin sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955).
“Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”.
Ini berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggung jawab secara rasional, sosial dan moral. Sebaliknya apabila pendidikan dalam praktek dipaksakan tanpa teori dan alasan yang memadai maka hasilnya adalah bahwa semua pendidik dan peserta didik akan merugi. Kita merugi karena tidak mampu bertanggung jawab atas esensi perbutan masing-masing dan bersama-sama dalam pengamalan Pancasila. Pancasila yang baik dan memadai, konsisten antara pengamalan (lahiriah) dan penghayatan (psikologis) dan penataan nilai secara internal. Dalam hal ini kita bukan menyaksikan kegiatan (praktek) pendidikan tanpa dasar teorinya tetapi suatu praktek pendidikan nasional tanpa suatu teori yang baik.

2. Landasan Sosial dan Individual Pendidikan
Pendidikan sebagai gejala sosial dalm kehidupan mempunyai landasan individual, sosial dan cultural. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil beralngsung dalam skala relatif tebatas seperti antara sesama sahabat, antara seorang guru dengan satu atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara suami dan isteri, antara orang tua dan anak serta anak lainnya. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawaanya yang baik dengan lengkap. Manusia berkembang sebagai individu menjadi pribadi yang unik yang bukan duplikat pribadi lain. Tidak ada manusia yang diharap mempunyai kepribadian yang sama sekalipun keterampilannya hampir serupa. Dengan adanya individu dan kelompok yang berbeda-beda diharapkan akan mendorong terjadinya perubahan masyarakat dengan kebudayaannya secara progresif. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subyek) yang masing-masing bernilai setara. Tidak ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena interaksi antar pribadi (interpersonal) itu merupakan perluasan dari interaksi internal dari seseorang dengan dirinya sebagai orang lain, atau antara saya sebagai orang kesatu (yaitu aku) dan saya sebagai orang kedua atau ketiga (yaitu daku atau-ku; harap bandingkan dengan pandangan orang Inggris antara I dan me).

Pada skala makro pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar seperti dalam masyarakat antar desa, antar sekolah, antar kecamatan, antar kota, masyarakat antar suku dan masyarakat antar bangsa. Dalam skala makro masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan masyarakat. Diharapkan dengan adanya pendidikan dalam arti luas dan skala makro maka perubahan sosial dan kestabilan masyarakat berangsung dengan baik dan bersama-sama. Pada skala makro ini pendidikan sebagai gejala sosial sering terwujud dalam bentuk komunikasi terutama komunikasi dua arah. Dilihat dari sisi makro, pendidikan meliputi kesamaan arah dalam pikiran dan perasaan yang berakhir dengan tercapainya kemandirian oleh peserta didik. Maka pendidikan dalam skala makro cenderung dinilai bersifat konservatif dan tradisional karena sering terbatas pada penyampaian bahan ajar kepada peserta didik dan bisa kehilangan ciri interaksi yang afektif.

3. Pendidikan Memadu Jalinan Antara Ilmu dan Seni
Adanya aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah seperti disebut tadi mengisyaratkan bahwa manusia dalam fenomena (situasi) pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai sebagai fakta dan manusia sebaai nilai. Tiap manusia bernilai tertentu yuang bersifat luhur sehingga situasi pendidikan memiliki bobot nilai individual, sosial dan bobot moral. Itu sebabnya pendidikn dalam praktek adalah fakta empiris yang syarat nilai berhubung interaksi manusia dalam pendidikan tidak hanya timbal balik dalam arti komunikasi dua arah melainkan harus lebih tinggi mencapai tingkat maniusiawi seperti saya atau siswa mendidik diri sendiri atas dasar hubungan pribadi dengan pribadi (higher order interactions) antar individu dan hubungan intrapersonal secara afektif antara saya (yaitu I) dan diriku (diri sendiri yaitu my self atau the self).

Adapun manusia sebagai fakta empriris tentu meliputi berbagai variabel dan hubungan variabel yang terbatas jumlahnya dalam telaah deskriptif ilmu-ilmu. Sedangkan jumlah variabelnya amat banyak dan hubungan-hubungan antara variabel amat kompleks sifatnya apabila pendidik memelihara kualitas interaksinya dengan peserta didik secra orang perorang (personal).

Sepeti dikatakan tentang siswa belajar aktif oleh Phenix (1958:40), yaitu :
“It possible to conceive of teacher and student as one and same person and the self taught person as one who direct his own development through an internal interaction between the self as I and the self as me on the other hand, it is usual for one teacher to teach many students simultaneously. In that even the quality oef the interaction may become generalized and impersonal, or it may, by appropriate means, retain its person to person character.

Artinya sift manusiawi dari pendidikan (manusia dalam pendidikan) harus terpelihara demi kualitas proses dan hasil pendidikan. Pemeliharaan itulah yang menuntut agar pendidik siap untuk bertindak sewaktu-waktu secara kreatif (berkiat menciptakan situasi yang pas, apabila perlu. Misalnya atas dasar diagnostik klinis) sekalipun tanpa prognosis yang lengkap namun utamanya berdasarkan sikap afektif bersahabat terhadap terdidik. Kreativitas itu didasarkan kecintaan pendidik terhadap tugas mendidik dan mengajar, itu sebabnya gejala atau fenomena pendidikan tidak dapat direduksi sebagai gejala sosial atau gejala komunikasi timbal balik belaka. Apabila ilmu-ilmu sosial atau behavioral mampu menerapkan pendekatan dan metode ilmiah (Pearson, 1900) secara termodifikasi dalam telaah manusia melalui gejala-gejala sosial, apakah ilmu pendidikan harus bertindak serupa untuk mengatasi ketertinggalan- nya khususnya ditanah air kita ?

Atau seperti dikatakan secara ilmiah oleh NL. Gage (1978:20),

“Scientific method can contribute relationships between variaboles, taken two at a time and even in the form of interactions, three or perhaps four or more at a time. Beyond say four, the usefulness of what science can give the teacher begins to weaken, because teacher cannot apply, at least not without help and not on the run, the more complex interactions. At this point, the teacher as an artist must step in and make clinical, or artistic, judgement about the best ways to teach.”

Pendidik memang harus bertindak pada latar mikro termasuk dalam kelas atau di sekolah kecil, mempengaruhi peserta didik dan itu diapresiasi oleh telaah pendidikan berskala mikro, yaitu oleh paedagogik (teoritis) dan andragogi (suatu pedagogic praktis). Itu sebabnya ilmu pendidikan harus lebih inklusif daripada pengajaran (yang makro) lebih utama daripada mengajar dan mendidik. Bahkan kegiatan pengajaran disekolah memerlukan perencanaan dalam arti penyusunan persiapan mengajar. Dalam pandangan ilmu pendidikan yang otonom, ruang lingkup pengajaran tidak dengan sendirinya mencakup kegiatan mendidik dan mengajar.

Atas dasar pokok-pokok pikiran tentang aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah dari manusia dalam fenomena pendidikan maka pendidikan dalam praktek haruslah secara lengkap mencakup bimbingan, mendidik, mengajar dan pengajaran. Dalam fenomena yang normal peserta didik dapat didorong aga belajar aktif melalui bimbingan dan mengajar. Tetapi adakalanya dalam situasi kritis siswa perlu meniru cara guru yang aktif belajar sendiri. Itu sebabnya perundang-undangan pendidikan kita sebenarnya perlu diluruskan, pada satu sisi agar upaya mendidik terjadi dalam keluarga secara wajar, disisi lain agar pengajaran disekolah meliputi dimensi mendidik dan mengajar. Lagi pula bahwa diferensisasi dan fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu ditentukan utamanya harus melakukan pengajaran dan mengelola kurikulum formal sebagai aspek spesialisasinya agar beroperasi efisien. Sedangkan konsep pendidikan yang juga mencakup program latihan (UU. No. 2/1989 Pasal 1 butir ke-1) adalah suatu konstruk yang amat luas dilihat dari perspektif sekolah sebagai lembaga pendidikan formal.

Maka konsep pendidikan yang memerlukan ilmu fdan seni ialah proses atau upaya sadar antar manusia dengan sesama secara beradab, dimana pihak kesatu secara terarah membimbing perkembangan kemampuan dan kepribadian pihak kedua secara manusiawi yaitu orang perorang. Atau bisa diperluas menjadi makro sebagai upaya sadar manusia dimana warga maysrakat yang lebih dewasa dan berbudaya membantu pihak-pihak yangkurang mampu dan kurang dewasa agar bersama-sama mencapai taraf kemampuan dan kedewasaan yang lebih baik (Phenix, 1958:13), Buller, 1968:10). Dalam arti ini juga sekolah laboratorium akan memerlukan jalinan praktek ilmu dan praktek seni. Sebaliknya butir 1 pasal 1, UU No. 2 /1989 kiranya kurang tepat sehingga tentu sulit menuntut siswa ber CBSA padahal guru belum tentu aktif belajar, mengingat definisi pendidikan yang makro, yaitu :

“Pendidikan ialah usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan dating”.

Kiranya konsep pendidikan yang demikian yang demikian kurang mampu memberi isi kepada tujuan dan semangat Bab XIII UUD 1945 yang merujuk bidang pendidikan sebagai amanah untuk mewujudkan keterkaitan erat antara sistem pengajaran nasional dengan kebudayaan kebangsaan. Karena itu dalam lingkup pendidikan menurut skala mikro dan abstark yang lebih makro, pendidik harus juga peduli dengan aspek etis (moral) dan estetis dari pengalamannya berinteraksi dengan peserta didik selain aspek pengetahuan, kebenaran dan perilaku yang disisyaratkan oleh konsep pendidikan menurut undang-undang tadi. Hal ini sesuai dengan pandangan Ki Hajar Dewantara (1950) sebagai berikut :
“Taman Siswa mengembangkan suatu cara pendidikan yang tersebut didalam Among dan bersemboyan ‘Tut Wuri Handayani’ (mengikuti sambil mempengaruhi). Arti Tut Wuri aialah mengikuti, namun maknanya ialah mengikuti perkembangan sang anak dengan penuh perhatian berdasarkan cinta kasih dan tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksa, dan makna Handayani ialah mempengaruhi dalam arti merangsang, memupuk, membimbing, memberi teladan gar sang anak mengembngkan pribadi masing-masing melalui disiplin pribadi”.

Demikian bagi Ki Hajar Dewantara pendidikan pada skala mikro tidak terlepas dari pendidikan dalam arti makro, bahkan disipilin pribadi adalah tujuan dan cara dalam mencapai disiplin yang lebih luas. Ini berarti bahwa landasan pendidikan terdapat dalam pendidikan itu sendiri, yaitu factor manusianya. Dengan demikian landasan-landasan pendidikan tidak mesti dicari diluar fenomena (gejala) pendidikan termasuk ilmu-ilmu lain dan atau filsafat tertentu dari budaya barat. Oleh karena itu data ilmu pendidikan tidak tergantung dari studi ilmu psikologi, fisiologi, sosiologi, antropologi ataupun filsafat. Lagi pula konsep pengajaran (yang makro) berdasarkan kurikulum formal tidak dengan sendirinya bersifat inklusif dan atau sama dengan mengajar. Bahkan dalam banyak hal pengajaran itu tergantung hasilnya dari kualitas guru mengajar dalam kelas masing-masing. Sudah barang tentu asas Tut Wuri Handayani tidak akan menjadikan pengajaran identik dengan sekedar upaya sadar menyampaikan bahan ajar dikelas kepada rombongan siswa mengingat guru harus berhamba kepada kepentingan siswanya.

B. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan
Uraian diatas mengisyaratkan terhadap dasar-dasar pendidikan bahwa praktek pendidikan sebagai ilmu yang sekedar rangkaian fakta empiris dan eksperimental akan tidak lengkap dan tidak memadai. Fakta pendidikan sebagai gejala sosial tentu sebatas sosialisasi dan itu sering beraspirasi daya serap kognitif dibawah 100 % (bahkan 60 %). Sedangkan pendidikan nilai-nilai akan menuntut siswa menyerap dan meresapi penghayatan 100 % melampaui tujuan-tujuan sosialisasi, mencapai internaliasasi (mikro) dan hendaknya juga enkulturasi (makro). Itulah perbedaan esensial antara pendidikan (yang menjalin aspek kognitif dengan aspek afektif) dan kegiatan mengajar yang paling-paling menjalin aspek kognitif dan psikomotor. Dalam praktek evaluasinya kegiatan pengajaran sering terbatas targetnya pada aspek kognitif. Itu sebabnya diperlukan perbedaan ruang lingkup dalam teori antara pengajaran dengan mengajar dan mendidik.

Adapun ketercapaian untuk daya serap internal mencapai 100 % diperlukn tolong menolong antara sesama manusia. Dalam hal ini tidak ada orang yang selalu sempurna melainkan bisa terjadi kemerosotan yang harus diimbangi dengan penyegaran dan kontrol sosial. Itulh segi interdependensi manusia dalam fenomena pendidikan yang memerlukan kontrol sosial apabila hendak mencegah penurunan pengamalan nlai dan norma dibawah 100%.

1. Pedagogik sebagai ilmu murni menelaah fenomena pendidikan
Jelaslah bahwa telaah lengkap atas tindakan manusia dalam fenomena pendidikan melampaui kawasan ilmiah dan memerlukan analisis yang mandiri atas data pedagogic (pendidikan anak) dan data andragogi (Pendidikan orang dewasa). Adapun data itu mencakup fakta (das sein) dan nilai (das sollen) serta jalinan antara keduanya. Data factual tidak berasal dari ilmu lain tetapi dari objek yang dihadapi (fenomena) yang ditelaah Ilmuwan itu (pedagogi dan andragogi) secara empiris. Begitu pula data nilai (yang normative) tidak berasal dari filsafat tertentu melainkan dari pengalaman atas manusia secara hakiki. Itu sebabnya pedagogi dan andragogi memerlukan jalinan antara telaah ilmiah dan telaah filsafah. Tetapi tidak berarti bahwa filsafat menjadi ilmu dasar karena ilmu pendidikan tidak menganut aliran atau suatu filsafat tertentu.

Sebaliknya ilmu pendidikan khususnya pedagogic (teoritis) adalah ilmu yang menyusun teori dan konsep yang praktis serta positif sebab setiap pendidik tidak boleh ragu-ragu atau menyerah kepada keragu-raguan prinsipil. Hal ini serupa dengan ilmu praktis lainnya yang mikro dan makro. Seperti kedokteran, ekonomi, politik dan hukum. Oleh karena itu pedagogic (dan telaah pendidikan mikro) serta pedagogic praktis dan andragogi (dan telaah pendidikan makro) bukanlah filsafat pendidikan yang terbatas menggunakan atau menerapkan telaah aliran filsafat normative yang bersumber dari filsafat tertentu. Yang lebih diperlukan ialah penerapan metode filsafah yang radikal dalam menelaah hakikat peserta didik sebagai manusia seutuhnya.

Implikasinya jelas bahwa batang tubuh (body of knowledge) ilmu pendidikan haruslah sekurang-kurangnya secara mikro mencakup :

Relasi sesama manusia sebagai pendidik dengan terdidik (person to person relationship)
Pentingnya ilmu pendidikan memepergunakan metode fenomenologi secara kualitatif.
Orang dewasa yang berpran sebagai pendidik (educator).
Keberadaan anak manusia sebagai terdidik (learner, student)
Tujuan pendidikan (educational aims and objectives)
Tindakan dan proses pendidikan (educative process), dan
Lingkungan dan lembaga pendidikan (educational institution)

Itulah lingkup pendidikan yang mikroskopis sebagai hasil telaah ilmu murni ilmu pendidikan dalam arti pedagogic (teoritis dan sistematis). Mengingat pendidikan juga dilakukan dalam arti luas dan makroskopis di berbagai lembaga pendidikan formal dan non-formal, tentu petugas tenaga pendidik di lapangan memerlukan masukan yang berlaku umum berupa rencana pelajaran atau konsep program kurikulum untuk lembaga yang sejenis. Oleh karena itu selain pedagogic praktis yang menelaah ragam pendidikan diberbagai lingkungan dan lembaga formal, informal dan non-formal (pendidikan luar sekolah dalam arti terbatas, dengan begitu, batang tubuh diatas tadi diperlukn lingkupnnya sehingga meliputi:

Konteks sosial budaya (socio cultural contexs and education)
Filsafat pendidikan (preskriptif) dan sejarah pendidikan (deskriptif).
Teori, pengembangan dan pembinaan kurikulum, serta cabang ilmu pendidikan lainnya yang bersifat preskriptif.
Berbagai studi empirik tentang fenomena pendidikan.
Berbagai studi pendidikan aplikatif (terapan) khususnya mengenai pengajaran termasuk pengembangan specific content pedagogy.

Sedangkan telaah lingkup yang makro dan meso dari pendidikan, merupakan bidang telaah utama yang memperbedakan antara objek formal dari pedagogic dari ilmu pendidikan lainnya. Karena pedagogic tidak langsung membicarakan perbedaan antara pendidikan informal dalam keluarga dan dalam kelompok kecil lainnya., dengan pendidikan formal (dan non formal) dalam masyarakt dan negara, maka hal itu menjadi tugas dari andragogi dan cabang-cabang lain yang relevan dari ilmu pendidikan. Itu sebabnya dalam pedagogic terdapat pembicaraan tentang factor pendidikan yang meliputi : (a) tujuan hidup, (b) landasan falsafah dan yuridis pendidikan, (c) pengelolaan pendidikan, (d) teori dan pengembangan kurikulum, (e) pengajaran dalam arti pembelajaran (instruction) yaitu pelaksanaan kurikulum dalam arti luas di lembaga formal dan non formal terkait.

2. Telaah ilmiah dan kontribusi ilmu bantu
Bidang masalah yang ditelaah oleh teori pendidikan sebagai ilmu ialah sekitarmanuasia dan sesamanya yang memiliki kesamaan dan keragaman di dalam fenomena pendidikan. Yang menjadi inti ilmu pendidikan teoritis ialah Pedagogik sebagai ilmu mendidik yaitu mengenai tealaah (atau studi) pendidikan anak oleh orang dewasa. Pedagogik teoritis selalu bersifat sistematis karena harus lengkap problematic dan pembahasannya. Tetapi pendidikan (atau pedagogi) diperlukan juga oleh semua orang termasuk orang dewasa danb lanjut usia. Karena itu selain cabang pedagogic teoritis sistematis juga terdapat cabvang-cabang pedagogic praktis, diantaranya pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal dalam keluarga, andragogi (pendidikan orang dewasa) dan gerogogi (pendidikan orang lansia), serta pendidikan non-formal sebagai pelengkap pendidikan jenjang sekolah dan pendidikan orang dewasa.
Di dalam menelaah manusia yang berinteraksi di dalam fenomena pendidikan, ilmu pendidikan khususnya pedagogic merupan satu-satunya bidang ilmu yang menelaah interaksi itu secara utuh yang bersifat antar dan inter-pribadi. Untunglah ada ilmu lain yang melakukan telaah atas perilaku manusia sebagai individu. Begitu juga halnya atas telaah interaksi sosial, telaah perilaku kelompok dalam masyarakat, telaah nilai dan norma sebagai isi kebudayaaan, dan seterusnya. Ilmu-ilmu yang melakukan telaah demikian dijadikan berfungsi sebagai ilmu bantu bagi ilmu pendidikan. Diantara ilmu bantu yang penting bagi pedagogic dan androgogi ialah : biologi, psikologi, sosiologi, antropologi budaya, sejarah dan fenomenologi (filsafah).

Pendekatan fenomenologi dalam menelaah gejala pendidikan
Pedagogik tidak menggunakan metode deduktif spekulatif dalam investigasinya berdasrkan penjabaran pendirian dasar-dasar filosofis. Pedagogik adalah ilmu pendidikan yang bersifat teoritis dan bukan pedagogic yang filosofis. Pedagogik melakukan telaah fenomenologis aatas fenomen yang bersifat empiris sekalipun bernuansa normative. Seperti dikatakan Langeveld (1955) Pedagogik mempergunakan pendekatan fenomenologis secara kualitatif dalam metode penelitiannya :

Pedagogik bersifat filosofis dan empiris. Berfikir filosofis pada satu siti dan di pihak lain pengalaman dan penyelidikan empiris berjalan bersama-sama. Hubungan-hubungan dan gejala yang menunjukkan cirri-ciri pokok dari objeknya ada yang memaksa menunjuk ke konsekunsi yang filosofis, adapula yang memaksakaan konsekunsi yang empiris karena data yang factual. Pedagogik mewujudkan teori tindakan yang didahului dan diikuti oleh berfikir filosofis. Dalam berfikir filosofis tentang data normative pedagogic didahului dan diikuti oleh oleh pengalaman dan penyelesaikan empiris atas fenomena pendidikan.

Itulah fenomena atau gejala pendidikan secraa mikro yang menurut Langevald mengandung keenam komponen yng menjadi inti daari batang tubuh pedagogic.

Kontribusi ilmu-ilmu bantu terhadap pedagogic
Ilmu pendidikan khususnya pedagogic dan androgogi tidak menggunakn metoda deskriptif-eksperimental karena manfaatnya terbtas pada pemahaman atas perubahan perilaku siswa. Sedangkan prediksi dan kontrol yang eksperimental diterapakan dan itupun manfaatnya terbatas sekali.

Seperti ditulis oleh Deese, 1963 :
“Prediction and control, then are excellent criteria of understnding aang they also provide us with some of the uses of understanding. They are not always easy to apply, however, and I think little is gained by pretending that they are. It is futile to issue promissory notes about the future applications of the scientific study of education.”

Jadi kurang bermanfaat apabila ilmu pendidikan mempergunakan metode deskriptif-eksperimental terhadap perubahan-perubahan didalam pendidikan secarakuntitatif. Sebaliknya pedagogic dan androgogi harus menjadi ilmu otonom yang menerapkan metode fenomenologi secara kualitatif. Maksudnya ialah agar dapat memperoleh data yang tidak normative (data factual) dalam jumlah seperlunya dari ilmu biologi, psikologi dan ilmu-ilmu sosial. Tetapi ilmu pendidikan harus sedapat mungkin melakukan pengumpulan datanya sendiri langsung dari fenomena pendidikan, baik oleh partisipan-pengamat (ilmuwan) ataupun oleh pendidik sendiri yang juga biasa melakukan analisis apabila situasi itu memaksanya harus bertindak kreatif. Tentu saja untuk itu diperlukan prasyarat penguasaan atas sekurang-kurangnya satu ilmu Bantu dan/atau filsafat umum.

C . Dasar-dasar Filsafat Ilmu Pendidikan

Baiklah sekarang kita lihat dasar-dasaar filsafah keilmuan terkait dalam arti dasar ontologis, dasar epistemologis, dan aksiologis, dan dasar antropolgis ilmu pendidikan.

Dasar ontologis ilmu pendidikan
Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu pendidikan. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan ilmu pendidikan melalui pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris. Objek materil ilmu pendidikan ialah manusia seutuhnya, manusia yang lengkap aspek-aspek kepribadiannya, yaitu manusia yang berakhlak mulia dalam situasi pendidikan atau diharapokan melampaui manusia sebagai makhluk sosial mengingat sebagai warga masyarakat ia mempunyai ciri warga yang baik (good citizenship atau kewarganegaraan yang sebaik-baiknya).

Agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situiasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapipada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang berskala mikro. Hal itu terjadi mengingat pihak pendidik yang berkepribadiaan sendiri secara utuh memperlakukan peserta didiknya secara terhormat sebagai pribai pula, terlpas dari factor umum, jenis kelamin ataupun pembawaanya. Jika pendidik tidak bersikap afektif utuh demikian makaa menurut Gordon (1975: Ch. I) akan terjadi mata rantai yang hilang (the missing link) atas factor hubungan serta didik-pendidik atau antara siswa-guru. Dengan egitu pendidikan hanya akan terjadi secar kuantitatif sekalipun bersifat optimal, misalnya hasil THB summatif, NEM atau pemerataan pendidikan yang kurang mengajarkan demokrasi jadi kurang berdemokrasi. Sedangkan kualitas manusianya belum tentu utuh.

Dasar epistemologis ilmu pendidikan
Dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalaipun pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula namuntelaah atas objek formil ilmu pendidikan memerlukaan pendekatan fenomenologis yang akan menjalin stui empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu bersifat kualitaatif, artinya melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen pengumpul data secara pasca positivisme. Karena itu penelaaah dan pengumpulan data diarahkan oleh pendidik atau ilmuwan sebagaai pakar yang jujur dan menyatu dengan objeknya. Karena penelitian tertuju tidak hnya pemahaman dan pengertian (verstehen, Bodgan & Biklen, 1982) melainkan unuk mencapai kearifan (kebijaksanaan atau wisdom) tentang fenomen pendidikan maka vaaliditas internal harus dijaga betul dalm berbagai bentuk penlitian dan penyelidikan seperti penelitian koasi eksperimental, penelitian tindakan, penelitian etnografis dan penelitian ex post facto. Inti dasar epistemologis ini adalah agar dapat ditentukan bahaawa dalam menjelaskaan objek formaalnya, telaah ilmu pendidikan tidaak hanya mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu pendidikan sebgaai ilmu otonom yang mempunyi objek formil sendiri atau problematika sendiri sekalipun tidak dapat hnya menggunkaan pendekatan kuantitatif atau pun eksperimental (Campbell & Stanley, 1963). Dengan demikian uji kebenaran pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren dan sekaligus secara praktis dan atau pragmatis (Randall &Buchler,1942).

Dasar aksiologis ilmu pendidikan
Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai ilmu pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktek mmelalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan ilmu pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu sebabnya pendidikan memerlukan teknologi pula tetapi pendidikan bukanlah bagian dari iptek. Namun harus diakui bahwa ilmu pendidikan belum jauh pertumbuhannya dibandingkan dengan kebanyakan ilmu sosial dan ilmu prilaku. Lebih-lebih di Indonesia.
Implikasinya ialah bahwa ilmupendidikan lebih dekat kepada ilmu prilaku kepada ilmu-ilmu sosial, dan harus menolak pendirian lain bahwa di dalam kesatuan ilmu-ilmu terdapat unifikasi satu-sayunyaa metode ilmiah (Kalr Perason,1990).

Dasar antropologis ilmu pendidikan
Pendidikan yang intinya mendidik dan mengajar ialah pertemuan antara pendidik sebagai subjek dan peserta didik sebagai subjek pula dimana terjadi pemberian bantuan kepada pihak yang belakangan dalaam upaayanya belajr mencapai kemandirian dalam batas-batas yang diberikan oleh dunia disekitarnya. Atas dasar pandangan filsafah yang bersifat dialogis ini maka 3 dasar antropologis berlaku universal tidak hanya (1) sosialitas dan (2) individualitas, melainkan juga (3) moralitas. Kiranya khusus untuk Indonesia apabila dunia pendidikan nasional didasarkan atas kebudayaan nasional yang menjadi konteks dari sistem pengajaran nasional disekolah, tentu akan diperlukan juga dasar antropologis pelengkap yaitu (4) religiusitas, yaaitu pendidik dalam situasi pendidikan sekurangkurangnya secara mikro berhamba kepada kepentingan terdidik sebagai bagian dari pengabdian lebih besar kepada Tuhan Yang Maha Esa.

D. Perangkat Asumsi Filosofis Pendidikan Guru

Program Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi (PGBK) dikembangakan bertolak dari perangkat kompetensi yang diperkirakan dipersyaratkan bagi pelaksanaan tugas-tugas keguruan dan kependidikan yang telah ditetapkan dan bermuara pada pendemonstrasian perangkat kompetensi tersebut oleh siswa calon guru setelah mengikuti sejumlah pengalaman belajar.

Perangkat kompetensi yang dimaksud, termasuk proses pencapaiannya, dilandasi oleh asumsi-asumsi filosofis, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang dianggap benar, baik atas dasar bukti-bukti empirik, dugaan-dugaan maupun nilai-nilai masyarakat berdasarkan Pancasila. Asumsi-asumsi tersebut merupakan batu ujian di dalam menilai perancangan dan implementasi program dari penyimpangan-penyimpangan pragmatis ataupun dari serangan-serangan konseptual.
Asumsi-asumsi yang dimaksud mencakup 7 bidang yaitu yang berkenaan dengan hakekat-hakekat manusia, masyarakat, pendidikan, subjek didik, guru, belajar-mengajar dan kelembagaan. Tentu saja hasil kerja tersebut diatas perlu dimantapkan dan diverifikasi lebih jauh melalui forum-forum yang sesuai seperti Komisi Kurikulum, Konsorsium Ilmu Kependidikan, LPTK bahkan kalangan yang lebih luas lagi. Hasil rumusan tim pembaharuan pendidikan (1984) dapat disimpulkan sebagai berikut :

Hakekat Manusia
a. Manusia sebagai makhluk Tuhan mempunyai kebutuhan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Manusia membutuhkan lingkungan hidup berkelompok untuk mengembangkan dirinya.
c. Manusia mempunyai potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan kebutuhan-kebutuhan materi serta spiritual yangharus dipenuhi.
d. Manusia itu pada dasarnya dapat dan harus dididik serta dapat mendidik diri sendiri.

Hakekat Masyarakat
e. Kehidupan masyarakat berlandaskan sistem nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya yang dianut warga masyarakat ; sebagian daripada nilai-nilai tersebut bersifat lestari dan sebagian lagi terus berubah sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
f. Masyarakat merupakan sumber nilai-nilai yang memberikan arah normative kepada pendidikan.
g. Kehidupan bermasyarakat ditingkatkan kualitasnya oleh insane-insan yang berhasil mengembangkan dirinya melalui pendidikan.

Hakekat Pendidikan
h. Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
i. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
j. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupoan pribadi dan masyarakat.
k. Pendidikan berlangsung seumur hidup.
l. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.

Hakekat Subjek Didik
m. Subjek didik betanggungjawab atas pendidikannya sendiri sesuai dengan wawasan pendidikan seumur hidup.
n. Subjek didik memiliki potensi, baik fisik maupun psikologis yang berbeda-beda sehingga masing-masing subjek didik merupakan insane yang unik.
o. Subjek didik merupakan pembinaan individual serta perlakuan yang manusiawi.
p. Subjek didik pada dasarnya merupakan insane yang aktif menghadapi lingkungan hidupnya.

Hakekat Guru dan Tenadga Kependidikan
q. Guru dan tenaga kependidikan merupakan agen pembaharuan.
r. Guru dan tenaga kependidikan berperan sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat.
s. Guru dan tenaga kependidikan sebagai fasilitator memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi subjek didik untuk belajar.
t. Guru dan tenga kependidikan bertanggungjawab atas tercapainya hasil belajar subjek didik.
u. Guru dan tenaga kependidikan dituntut untuk menjadi conoh dalam pengelolaan proses belajar-mengajar bagi calon guru yang menjadi subjek didiknya.
v. Guru dan tenaga kependidikan bertanggungjawab secara professional untuk terus-menerus meningkatkatkan kemampuannya.
w. Guru dan tenaga kependidikan menjunjung tinggi kode etik profesional.

Hakekat Belajar Mengajar
x. Peristiwa belajar mengajar terjadi apabila subjek didik secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru.
y. Proses belajar mengajar yang efektif memerlukan strategi dan media/teknologi pendidikan yang tepat.
z. Program belajar mengajar dirancang dan diimplikasikan sebagai suatu sistem.
aa. Proses dan produk belajar perlu memperoleh perhatian seimbang didalam pelaksanaan kegiata belajar-mengajar.
bb. Pembentukan kompetensi profesional memerlukan pengintegrasian fungsional antara teori dan praktek serta materi dan metodelogi penyampaian.
cc. Pembentukan kompetensi professional memerlukan pengalaman lapangan yang bertahap, mulai dari pengenalan medan, latihan keterampilan terbatas sampai dengan pelaksanaan penghayatan tugas-tugas kependidikan secara lengkap aktual.
dd. Kriteria keberhasilan yang utama dalam pendidikan profesional adalah pendemonstrasian penguasaan kompetensi.
ee. Materi pengajaran dan sistem penyampaiannya selalu berkembang.

Hakekat Kelembagaan
ff. LPTK merupakan lembaga pendidikan profesional yang melaksanakan pendidikan tenaga kependidikan dan pengembangan ilmu teknologi kependidikan bagi peningkatan kualitas kehidupan.
gg. LPTK menyelenggarakan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat baik kualitatif maupun kuantitatif.
hh. LPTK dikelola dalam suatu sistem pembinaan yang terpadu dalam rangka pengadaan tenaga kependidikan.
ii. LPTK memiliki mekanisme balikan yang efektif untuk meningkatkan kualitas layanannya kepada masyarakat secara terus-menerus.
jj. Pendidikan pra-jabatan guru merupakan tanggungjawab bersamaantara LPTK dan sekolah-sekolah pemakai (calon) lulusan.

Catatan : Pendidikan berdasarkan kompetensi bagi tenaga kependidikan lainnya memerlukan perangkat asumsi yang berbeda.
Secara visual beberapa asumsi tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut :

E. Implikasi Landasan Filsafat Pendidikan

1. Implikasi Bagi Guru
Apabila kita konsekuen terhadap upaya memprofesionalkan pekerjaan guru maka filsafat pendidikan merupakan landasan berpijak yang mutlak. Artinya, sebagai pekerja professional, tidaklah cukup bila seorang guru hanya menguasai apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Kedua penguasaan ini baru tercermin kompetensi seorang tukang.

Disamping penguasaan terhadap apa dan bagaimana tentang tugasnya, seorang guru juga harus menguasai mengapa ia melakukan setiap bagian serta tahap tugasnya itu dengan cara tertentu dan bukan dengan cara yang lain. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa itu menunjuk kepada setiap tindakan seorang guru didalam menunaikan tugasnya, yang pada gilirannya harus dapat dipulangkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang mau dicapai, baik tujuan-tujuan yang lebih operasional maupun tujuan-tujuan yang lebih abstrak. Oleh karena itu maka semua keputusan serta perbuatan instruksional serta non-instruksional dalam rangka penunaian tugas-tugas seorang guru dan tenaga kependidikan harus selalu dapat dipertanggungjawabkan secara pendidikan (tugas professional, pemanusiaan dan civic) yang dengan sendirinya melihatnya dalm perspektif yang lebih luas dari pada sekedar pencapaian tujuan-tujuan instruksional khusus, lebih-lebih yang dicekik dengan batasan-batasan behavioral secara berlebihan.

Dimuka juga telah dikemukakan bahwa pendidik dan subjek didik melakukan pemanusiaan diri ketika mereka terlihat di dalam masyarakat profesional yang dinamakan pendidikan itu; hanyalah tahap proses pemanusiaan itu yang berbeda, apabila diantara keduanya, yaitu pendidik dan subjek didik, dilakukan perbandingan. Ini berarti kelebihan pengalaman, keterampilan dan wawasan yang dimiliki guru semata-mata bersifat kebetulan dan sementara, bukan hakiki. Oleh karena itu maka kedua belah pihak terutama harus melihat transaksi personal itu sebagai kesempatan belajar dan khusus untuk guru dan tenaga kependidikan, tertumpang juga tanggungjawab tambahan menyediakan serta mengatur kondisi untuk membelajarkan subjek didik, mengoptimalkan kesempatamn bagi subjek didik untuk menemukan dirinya sendiri, untuk menjadi dirinya sendiri (Learning to Be, Faure dkk, 1982). Hanya individu-individu yang demikianlah yang mampu membentuk masyarakat belajar, yaitu masyarakat yang siap menghadapi perubahan-perubahan yang semakin lama semakin laju tanpa kehilangan dirinya.

Apabila demikianlah keadaannya maka sekolah sebagai lembaga pendidikan formal hanya akan mampu menunaikan fungsinya serta tidak kehilangan hak hidupnya didalam masyarakat, kalau ia dapat menjadikan dirinya sebagai pusat pembudayaan, yaitu sebagai tempat bagi manusia untuk meningkatkan martabatnya. Dengan perkataan lain, sekolah harus menjadi pusat pendidikan. Menghasilkan tenaga kerja, melaksanakan sosialisasi, membentuk penguasaan ilmu dan teknologi, mengasah otak dan mengerjakan tugas-tugas persekolahan, tetapi yang paling hakiki adalah pembentukan kemampuan dan kemauan untuk meningkatkan martabat kemanusiaan seperti telah diutarakan di muka dengan menggunakan cipta, rasa, karsa dan karya yang dikembangkan dan dibina.

Perlu digarisbawahi di sini adalah tidak dikacaukannya antara bentu dan hakekat. Segala ketentuan prasarana dan sarana sekolah pada hakekatnya adalah bentuk yang diharapkan mewadahi hakekat proses pembudayaan subjek didik. Oleh karena itu maka gerakan ini hanya berhenti pada “penerbitan” prasarana dan sarana sedangkan transaksi personal antara subjek didik dan pendidik, antara subjek didik yang satu dengan subjek didik yang lain dan antara warga sekolah dengan masyarakat di luarnya masih belum dilandasinya, maka tentu saja proses pembudayaan tidak terjadi. Seperti telah diisyaratkan dimuka, pemberian bobot yang berlebihan kepada kedaulatan subjek didikakan melahirkan anarki sedangkan pemberian bobot yang berlebihan kepada otoritas pendidik akan melahirkan penjajahan dan penjinakan. Kedua orientasi yang ekstrim itu tidak akan menghasilkan pembudayaan manusia.

2. Implikasi bagi Pendidikan Guru dan Tenaga Kependidikan

Tidaklah berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa di Indonesia kita belum punya teori tentang pendidikan guru dan tenaga kependidikan. Hal ini tidak mengherankan karena kita masih belum saja menyempatkan diri untuk menyusunnya. Bahkan salahsatu prasaratnya yaitu teori tentang pendidikan sebagimaana diisyaratkan pada bagian-bagian sebelumnya, kita masih belum berhasil memantapkannya. Kalau kita terlibat dalam berbagi kegiatan pembaharuan pendidikan selama ini maka yang diperbaharui adalah pearalatan luarnya bukan bangunan dasarnya.
Hal diatas itu dikemukakan tanpa samasekali didasari oleh anggapan bahwa belum ada diantara kita yang memikirkan masalah pendidikan guru itu. Pikiran-pikiran yang dimaksud memang ada diketengahkan orang tetapi praktis tanpa kecuali dapat dinyatakan sebagi bersifat fragmentaris, tidak menyeluruh. Misalnya, ada yang menyarankan masa belajar yang panjang (atau, lebih cepat, menolak program-program pendidikan guru yang lebih pendek terutama yang diperkenalkan didalam beberapa tahun terakhir ini) ; ada yang menyarankan perlunya ditingkatkan mekanisme seleksi calon guru dan tenaga kependidikan; ada yang menyoroti pentingnya prasarana dan sarana pendidikan guru; dan ada pula yang memusatkan perhatian kepada perbaikan sistem imbalan bagi guru sehingga bisa bersaing dengan jabtan-jabatan lain dimasyarakat. Tentu saja semua saran-saran tersebut diatas memiliki kesahihan, sekurang-kurangnya secara partial, akan tetapi apabila di implementasikan, sebagian atau seluruhnya, belum tentu dapat dihasilkan sistem pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang efektif.

Sebaiknya teori pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang produktif adalah yang memberi rambu-rambu yang memadai didalam merancang serta mengimplementasikan program pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang lulusannya mampu melaksanakan tugas-tugas keguruan didalam konteks pendidikan (tugas professional, kemanusiaan dan civic). Rambu-rambu yang dimaksud disusun dengan mempergunakan bahan-bahan yang diperoleh dari tiga sumber yaitu: pendapat ahli, termasuk yang disangga oleh hasil penelitian ilmiah, analisis tugas kelulusan serta pilihan nilai yang dianut masyarakat. Rambu-rambu yang dimaksud yang mencerminkan hasil telaahan interpretif, normative dan kritis itu, seperti telah diutarakan didalam bagian uraian dimuka, dirumuskan kedalam perangkat asumsi filosofis yaitu asumsi-asumsi yang memberi rambu-rambu bagi perancang serta implementasi program yang dimaksud. Dengan demikian, perangkat rambu-rambu yang dimaksud merupakan batu ujian didalam menilai perancang dan implementasi program, maupun didalam “mempertahankan” program dari penyimpngan-penyimpangan pelaksanaan ataupun dari serangan-serangan konseptual.

Penutup
Landasan filsafat pendidikan memberi perspektif filosofis yang seyogyanya merupakan “kacamata” yang dikenakan dalam memandang menyikapi serta melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu maka ia harus dibentuk bukan hanya mempelajari tentang filsafat, sejarah dan teori pendidikan, psikologi, sosiologi, antropologi atau disiplin ilmu lainnya, akan tetapi dengan memadukan konsep-konsep, prinsip-prinsip serta pendekatan-pendekatannya kepada kerangka konseptual kependidikan.

Dengan demikian maka landasan filsafat pendidikan harus tercermin didalam semua, keputusan serta perbuatan pelaksanaan tugas- tugas keguruan, baik instruksional maupun non-instruksional, atau dengan pendekatan lain, semua keputusan serta perbuatan guru yang dimaksud harus bersifat pendidikan.

Akhirnya, sebagai pekerja professional guru dfan tenaga kependidikan harus memperoleh persiapan pra-jabatan guru dfan tenaga kependidikan harus dilandasi oleh seperangkat asumsi filosofis yang pada hakekatnya merupakan penjabaran dari konsep yang lebih tepat daripada landasan ilmiah pendidikan dan ilmu pendidikan.

DAFTAR REFERENSI

Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn Bacon
Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research. Chicago : Rand McNelly
Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia University-Teachers College Press
Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub
Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of Chicago Press
Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997
Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan
Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press
Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur
Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila, Jakarta:Depdikbud
Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ.
Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars
Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP IKIP Bandung
RakaJoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud

Oleh Nunu Heryanto

Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia. :mrgreen:

Salam …

Filsafat Pendidikan Islam

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam dalam agama penyempurna dari agama-agama yang telah diturunkan oleh Allah kepada Ummat terdahulu, artinya Islam adalah agama terakhir. Oleh sebab itu pula sebagai agama yang sempurna tentunya Islam harus bersifat universal dan konfrehensif, dapat sesuai dengan setiap zaman dan setiap tempat dimana penganutnya berada.

Selain itupula Islam sebagai agama yang diridhai oleh Allah Swt. mestinya tidak bertentangan dengan fitrah (akal) manusia yang juga dikaruniakan oleh Allah kepada manusia sebagaimana yang dikemukakan oleh Quraish Shihab : Tidak ada pemisahan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum, karena semuanya bersumber dari satu sumber yaitu Allah Swt.[1] Namun pada kenyataannya tidak jarang kita temukan antara akal dan wahyu dipertentangkan oleh masing-masing. Oleh sebab itu, maka dalam makalah kami ini diantara hal-ihwal yang akan kami sajikan yaitu “Bagaimana Pandangan Islam tentang Filsafat” sebagai bahan masukan untuk kita semua dan sekurang kurangnya menjadi bahan diskusi.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan kami ketengahkan dalam makalah kami ini :

1. Apakah pengertian Islam ?
2. Apakah Islam sebagai gejala alami yang universal ?
3. Apakah Islam agama universal dan eternal?
4. Apakah Islam dapat menjadi sumber pengetahuan?
5. Bagaimanakah pandangan Islam tentang filsafat?


BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Islam

Secara etimologis kata Islam yang berasal dari bahasa Arab memiliki beberapa pengertian antara lain : (????) aslama (????) yuslimu dengan pengertian menyerahkan diri, menyelamatkan diri, taat, patuh dan tunduk. Kalau kita melihat dari kata dasar (???)salima maka mengandung pengertian. Selamat, sejahtera, sentosa, bersih dan bebas dari cacat. Sedang kalau kita melihat dari kata dasar (???) salam maka akan berarti “damai, aman dan tentram”[2]

Dari beberapa pengertian di atas dapatlah kiranya kita memahami bahwasanya Islam adalah agama yang menuntut kesadaran bagi pemeluknya untuk tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah swt. untuk dapat hidup bahagia, damai dan tentram. Dan hal ini sejalan dengan apa yang didambakan oleh setiap individu.

Kata Islam menurut pandangan umum yang berlaku mempunyai konotasi bahkan kadang diartikan sebagai agama allah[3] berarti Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah sebagai jalan diberikan kembali kepadanya. Murtadhu Muthahhari mengatakan bahwa “agama menentukan arah yang dituju”.[4] Dengan ini dapat kita pahami bahwasanya agama Islam sebagai jalan atau pedoman dalam hidup mengarahkan kita dengan rambu-rambu dan batasan-batasan yang jelas dalam menempuh perjalanan hidup menuju kepada kehidupan yang lebih kekal dan abadi sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah swt.

Selanjutnya para ulama merumuskan unsur-unsur agama yaitu iman, Islam dan ikhsan.[5] Ketiga unsur ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan iman berarti membenarkan dalam hati, Islam berarti kita mengaplikasikan dalam bentuk perbuatan sedangkan ihsan berarti kita melakukan segala sesuatunya semata-mata mengharapkan ridha dari Allah.

2. Islam Sebagai Gejala Alami yang Universal

Alam semesta dimana kita hidup di dalamnya ini, susunannya tertib dan teratur rapih. Di dalamnya terdapat aturan-aturan kaidah, tatatertib yang mengatur setiap komponen. Mereka semua mengikuti hukum yang telah ditetapkan dan sedikitpun tidak menyimpang dari hukum tersebut.[6]

Peristiwa–peristiwa yang terjadi di alam raya ini dari sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu dan itulah yang disebut takdir. Segala sesuatunya terjadi dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhannya. Yang sementara dapat di simpulkan oleh ulama sebagai sunnahtullah.[7]

Pada dasarnya segala yang ada dilangit dan dibumi yang kita tempati ini semuanya telah diberikan batasan-batasannya dalam artian bahwa alam tersusun dengan rapi yang penuh dengan keseimbangan dan keserasian ini karena masing-masing komponen berjalan sesuai dengan orbitnya, apa yang telah digariskan atau ditetapkan baginya sehingga antara satu dengan yang lainnya tidak terjadi kekacauan.

Karena seluruh makhluk dan alam semesta ini tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum tuhan, maka secara harfiah alam beserta segala isinya ini adalah muslim mengikuti dan melaksanakan Islam sebagaimana arti Islam yaitu tunduk dan patuh.[8] Tidak terkecuali bagi manusia sebagai mahluk maka manusiapun memiliki keterbatasan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan padanya namun dalam keterikatan manusia dengan hukum-hukum manusia diberikan keistimewaan oleh Allah dalam menentukan arah dan tujuan kehidupannya sendiri.

3. Islam sebagai Agama Universal dan Eternal

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama agama Islam diturunkan oleh Allah swt. sebagai rahmatan lil alamin. Selanjutnya kesempurnaan ajaran Islam terlihat pada keselarasan nilai-nilai dengan fitrah manusia.[9]

Karena agama Islam ini diturunkan sebagai agama untuk seluruh manusia tanpa terkecuali, maka agama Islam hendaknya bisa diterapkan disetiap tempat di muka bumi ini dan dapat relefan terhadap semua zaman. Selanjutnya agama Islam yang diturunkan oleh Allah swt sebagai pencipta segala yang ada di langit dan bumi tanpa terkecuali manusia. Firman Allah yang artinya : … Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Q.S. Al-Baqarah : 38)

Secara garis besarnya dasar-dasar ajaran Islam itu meliputi aqidah, syari’ah dan akhlaq. Untuk lebih jelasnya berikut akan kami uraikan secara singkat penjabaran masing-masing yang menunjukkan sifat universalitas dan eternalitas Islam;

a. Aqidah

Manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama, sebab agama adalah menjadi kebutuhan manusia dalam hidupnya, memang manusia dapat menangguhkannya boleh jadi sampai dengan menjelang kematiannya namun pada akhirnya sebelum ruh meninggalkan jasad ia akan merasakan kebutuhan itu.[10]

Dalam sejarah umat manusia akan selalu dijumpai berbagai bentuk kepercayaan. Pencarian kepercayaan oleh manusia tidak akan pernah berhenti selama manusia ada.[11]

Dengan ini maka jelaslah kiranya bagi kita bahwasanya manusia sesuai dengan fitrah yang dimilikinya memerlukan agama, sebab manusia dengan segala keterbatasannya sangat menyadari akan perlunya sandaran pertikal kepada tuhan sebagai dzat yang Maha Sempurna untuk mengembalikan segala permasalahan yang berada diluar jangkauannya.

b. Syariah

Kata syari’at jika diartikan dari segi bahasa maka mengandung dua pengertian yang pertama adalah berarti “mata air” yang mengalir dengan tujuan untuk diminum airnya, yang kedua jalan terang dan lempang dimana harus berjalan diatasnya, hal ini sejalan dengan firman Allah :

?? ?????? ??? ????? …

Artniya : kemudian kami tempatkan engkau pada jalan yang terang lagi benar (syari’at).[12]

Syari’at secara istilah sebagaimana yang dipakai oleh para ahli hukum Islam adalah : hukum-hukum yang diciptakan oleh Allah swt. untuk segala hambanya agar mereka mengamalkannya untuk kebahagiaan dunia akhirat baik hukum-hukum itu bertalian dengan perbuatan aqidah dan akhlaq.[13]

Syari’at sebagi jalan yang telah diberikan oleh Allah swt kepada kita manusia bertujuan untuk mengatur dan menata seluruh aspek kehidupan sehingga kita dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

c. Akhlak

Kata akhlak merupakan bentuk majemuk dari kata “khulukan” yang berarti perangai atau budi pekerti, gambaran batin atau tabiat karakter.[14] Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.[15]

Selanjutnya akhlak dalam agama Islam ialah ilmu yang di dalamnya dipelajari tingkah laku manusia, atau sikap hidup manusia dalam pergaulan.[16] Manusia sebagai mahluk sosial tentunya tidak dapat hidup tanpa dengan adanya orang lain karena itu maka akhlak dalam Islam mengatur bagaimana seharusnya manusia dalam pergaulannya sesama manusia sehingga tercipta kerukunan dan keharmonisan dalam kehidupannya.

4. Islam sebagai Sumber Pengetahuan

­Imam Al-Gazali berpendapat Al-Qur’an adalah (bagaikan) samudra dan bahwa dari Al-Qur’an timbullah ilmu-ilmu awal dan akhir.[17]

Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian dan objek pengetahuan.[18] Selanjutnya menurut Quraish Shihab dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan (pendidikan) bukan dinilai dari segi banyaknya teori-teori ilmiah yang tersimpul didalamnya melainkan yang lebih penting adalah melihat adakah jiwa dari setiap ayat-ayatnya yang menghalangi kemajuan atau bertentangan dengan penemuan ilmiah.[19]

Kalau kita cermati diantara kandungan ayat-ayat al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam maka kita tidak akan menjumpai satupun diantara ayatnya yang bertentangan dengan penemuan-penemuan ilmiah. Bahkan terkadang sesuatu yang belum dapat ditemukan oleh para ilmuan, Al-Qur’an telah jauh-jauh hari sebelumnya telah memberikan informasi tentangnya meskipun dalam bentuk yang sangat singkat.

5. Pandangan Islam tentang Filsafat

H.E Saifuddin Anshari telah menyimpulkan pengertian filsafat dari pengertian yang diberikan oleh para filosof bahwa :

1. Filsafat adalah ilmu yang istimewa, yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak mampu dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena berada diluar jangkauannya.

2. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa kekalian yang ada.[20]

Ahmad Fuad Al Ahwawi menyatakan dalam kitabnya bahwa filsafat itu adalah sesuatu yang terletak diantara ilmu pengetahuan dan agama, karena disatu sisi ia mengandung permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diketahui dan difahami sebelum orang beroleh keyakinan dan ia menyerupai ilmu pengetahuabb disisi lain karena ia ia merupakan hasil akal pikiran manusia.[21]

Selanjutnya dalam hubungan antara akal (filsafat) dan syari’at (agama) Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hubungan antara akal dan syari’at adalah hubungan pengetahuan, bisa jadi akal mengetahui syari’at dan bisa jadi tidak bukan untuk menetapkan adanya syari’at atau tidak adanya.[22]

Dari uraian singkat di atas dapat difahami bahwasanya filsafat dibutuhkan untuk memahami isi kandungan Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam dan pada dasarnya keduanya akan mengantarkan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah hanya saja kalau agama menuntun manusia melalui wahyu yang diturunkan oleh Allah secara langsung maka filsafat adalah usaha frogresif manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Permata Al-Qur’an, Jakarta : Rajawali Pers, 1987

Haddade Hasyim, Pendidikan Qur’ani. Makassar : YAPMA, 2003

Muh. Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Al-Islam. Semarang: Pustaka Rizki Putra 1998

Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Qur’an. Bandug Mizan Media Utama, 2005.

Taimiyah Ibnu, Menghindari Pertentangan Akal dan Wahyu. Malang: Pustakan Zamzami, 2004

Zuhairini, et.al. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 2004.

[1]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung, 2005), h. 302.

[2]Zuhairini et.al, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta 2004) h. 35

[3]Ibid

[4]Quraish Shihab, op.cit, h. 376

[5]Tengku Muh. Hasbi Ash Shiddieqy, Al-Islam (Semarang 1998) h. 7

[6]Zuhairini op.cit., h. 36

[7]Quraish Shihab, op.cit., h. 61

[8]Zuhairini op.cit., h. 37

[9]Ibid, h. 41

[10]Quraish Shihab, op.cit., h. 376.

[11]Zuhairini, op.cit., h. 42

[12]Ibid, h. 43

[13]Ibid, h. 44

[14]Ibid, h. 50

[15]Quraish Shihab, op.cit., h. 253

[16]Zuhairini, op.cit., h. 51

[17]Al-Ghazali, Permata Al-Qur’an (Jakarta, 1987),h. 4

[18]Quraish Shihab op.cit., h. 434

[19]Hasyim Haddade, Pendidikan Qur’ani (Makassar, 2003), h. 13.

[20]Zuhairini, op.cit., h. 64

[21]Ibid

[22]Ibnu Taimiyah, Menghindari Pertentangan Akal dan Wahyu (Malang, 2004) h. 53.

Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia. :mrgreen:

Salam …

http://www.masbied.com/ 

Stress, Penyebab Wanita Sulit Hamil


Stres adalah musuh terbesar bagi perempuan untuk bisa hamil. Berbagai hal bisa menjadi penyebab stres seperti kesibukan kerja, masalah rumah tangga dan hal-hal lain yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi pasangan yang ingin segera hamil dan memiliki anak, maka sebaiknya mulailah menemukan cara untuk menghilangkan stres sehingga meningkatkan kemungkinannya untuk hamil, seperti dikutip dari Lifemojo, yaitu:

1. Rileks
Salah satu tips terpenting untuk bisa hamil adalah tubuh harus santai dan rileks serta menurunkan tingkat stres. Buang segala pikiran negatif yang bisa merugikan, membaca buku yang bagus dan memotivasi diri untuk menghilangkan stress

2. Mengambil waktu istirahat
Cobalah untuk istirahat sejenak dari rutinitas sehari-hari seperti mengambil cuti, melupakan segala masalah dan pekerjaan sehingga tubuh bisa beristirahat dengan tenang.

3. Melakukan pijat
Melakukan pijat secara teratur oleh tenaga terlatih bisa sesekali anda lakukan bisa mengurangi segala ketegangan di tubuh, membuat tubuh rileks, nyaman, kembali segar dan mengurangi stres.

4. Melakukan hobi
Pilihlah salah satu hobi yang benar-benar dinikmati, santai dan membuat tubuh rileks sehingga bisa melepaskan pikiran negatif atau segala hal yang berhubungan dengan kehamilan.

5. Belajar olahraga baru
Olahraga merupakan cara terbaik untuk membantu menghilangkan stres. Mempelajari olahraga baru dengan bergabung di salah satu klub akan membuat seseorang bertemu teman dan suasana baru. Tapi jangan pilih olahraga yang tidak disukai karena akan membuat tubuh semakin tertekan.

6. Belajarlah untuk tertawa bahagia
Tertawa merupakan salah satu terapi baru untuk mengurangi stres, cobalah untuk membaca buku lelucon, dan bercerita lucu kepada pasangan anda

7. Cobalah melakukan perubahan dalam rumah
Cobalah untuk mendekor ulang kamar tidur atau ruang tamu dengan mengganti model gorden atau seprai. Hal ini akan membantu melepaskan pikiran tentang hamil selama beberapa waktu dan membuat seseorang lebih santai.

(Sydh/dtc)

Kurang Minum Picu Depresi


Berdiet sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern, terutama wanita. Tak jarang, selama diet mereka mengurangi asupan air agar cepat memperoleh tubuh langsing.

Sebuah riset terbaru menemukan, kecenderungan depresi berhubungan dengan kekurangan air. Ini terutama ditemukan dalam diet yang dilakukan wanita. Para peneliti dari Universitas Tufts melakukan eksperimen dengan membatasi asupan air pada sekelompok responden. Sedangkan kelompok lainnya diberi asupan air sesuai yang direkomendasikan.

Dari situ diketahui, kelompok yang kekurangan cairan memiliki perubahan suasana hati yang cepat, cenderung depresi dan kelelahan. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda amarah berlebih serta lebih sering gugup dan bingung. Kendati penyebab utamanya belum jelas, peneliti menduga hal tersebut akibat penurunan kemampuan berpikir.

Menurut para ahli, air merupakan komponen utama aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak. Jumlah air yang diperlukan masing-masing individu berbeda tergantung pada jenis aktivitas, berat fisik seseorang dan cuaca. Umumnya, tiap orang rata-rata membutuhkan 8-9 gelas air putih sehari.

Pada studi yang lain, Badan Kesehatan Dunia memprediksi, pada 2020 depresi akan menjadi penyakit nomor satu di dunia. Depresi akan menggantikan pembunuh saat ini, yakni penyakit menular dan kardiovaskular

(sydh/vn)

Berbagai Khasiat Daun Sirih Untuk Kesehatan


Piper betle lynn atau biasa kita kenal dengan daun sirih merupakan tumbuhan obat yang sangat besar manfaatnya. Ia mengandung zat antiseptik pada seluruh bagiannya. Di India, Sri Lanka, dan Malaysia tanaman ini dipakai untuk mengatasi bau badan dan mulut, sariawan, mimisan, gatal-gatal dan koreng, serta mengobati keputihan pada wanita. Ini karena tanaman obat yang sudah dikenal sejak tahun 600 SM ini mengandung zat antiseptik yang mampu membunuh kuman.

Dalam farmakologi Cina, sirih juga dikenal sebagai tanaman yang memiliki sifat hangat dan pedas. Secara tradisional mereka menggunakan daun sirih untuk meluruhkan kentut, menghentikan batuk, mengurangi peradangan, dan menghilangkan gatal. Pada pengobatan tradisional India, daun sirih dikenal sebagai zat aromatik yang menghangatkan, bersifat antiseptik, dan bahkan meningkatkan gairah seks.

Khasiat daun sirih juga sudah banyak dikenal dan telah teruji secara klinis. Hingga kini, penelitian tentang tanaman ini masih terus dikembangkan.

Dari hasil penelitian sebagaimana dikutip oleh buku tanaman obat terbitan Kebun Tanaman Obat Karyasari diungkapkan bahwa sirih juga mengandung arecoline di seluruh bagian tanaman. Zat ini bermanfaat untuk merangsang saraf pusat dan daya pikir, meningkatkan gerakan peristaltik, meredakan dengkuran. Pada daunnya terkandung eugenol yang mampu mencegah ejakulasi dini, membasmi jamur Candida albicans, dan bersifat analgesik (meredakan rasa nyeri). Ada juga kandungan tannin pada daunnya yang bermanfaat mengurangi sekresi cairan pada vagina, melindungi fungsi hati, dan mencegah diare.

Dengan sifat antiseptiknya, sirih sering digunakan untuk menyembuhkan kaki yang luka karena mengandung styptic buat menahan pendarahan dan vulnerary, yang menyembuhkan luka pada kulit. Juga bisa dikunyah untuk memperbaiki kualitas suara.

Selain itu, sirih juga menyimpan manfaat lain bagi para wanita. Seperti diungkapkan oleh Amir Syarif dari Bagian Farmakologi Universitas Indonesia, Ia mengatakan bahwa daun sirih punya khasiat yang sangat banyak. Pengujian melibatkan 40 pasien penderita keputihan yang tidak sedang hamil, menderita diabetes melitus, ataupun penyakit hati dan ginjal. Dua puluh di antaranya mendapatkan daun sirih, sedang sisanya diberi plasebo. Baik daun sirih maupun plasebo itu diberikan pada vagina sebelum pasien tidur selama tujuh hari. Dari 40 pasien tersebut, 22 orang mendapat pemeriksaan ulang, masing-masing 11 mendapat plasebo dan daun sirih. Hasil pengujian ini membuktikan sekitar 90,9 persen pasien yang mendapat daun sirih dinyatakan sembuh, sedangkan pada kelompok yang diberi plasebo hanya 54,5 persen saja.

Penelitian lain tentang manfaat sirih dilakukan di IPB Bogor. Ir. Nuri Andarwulan, Msi dan kawan-kawan dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB melakukan penelitian untuk memanfaatkan limbah minyak dari daun sirih untuk memproduksi zat antioksidan. Ekstrak antioksidan tersebut selama ini masih diimpor. Penelitian ini berpotensi menurunkan nilai impor bahan antioksidan. Di samping itu, produk emulsi yang dihasilkan dalam penelitian itu juga dapat dimanfaatkan untuk industri kecantikan.

Di India, daun ini sudah diteliti untuk mengobati penyakit asma, bronkitis, rematik, lepra, dan sakit gigi, bahkan juga untuk disfungsi ereksi.

(Syahidah/dbs)

:: Ebook Islami ::

~ Daftar Download ~
 
1. Al Qur`an, Tafsir dan Hadist

1. The Quran and Modern Science
2. Akhlak Salaf, Cerminan Al-Quran dan As-Sunnah.doc
3. Yusuf Al Qaradhawy - Sistem masyarakat Islam dlm Quran dan sunnah
4. Tajwid
5. Tafsir Surah an nazi'at
6. Tafsir Surah Yaasin dari Perspektif Sains dan Sejarah
7. SejarahTeksAlQuran_Prof.Dr. M.MAlA'zami.chm
8. Sayyid Quthb - Tafsir Fi Zilal Surah 60-66.pdf
9. Sayyid Quthb - Tafsir Fi Zilalil Quran - Ayat-ayat Pilihan.pdf
10. Ringkasan_Shahih_Bukhari
11. Pembumian Alqur’an.Odt
12. Pengaruh Qur'an Terhadap Organ Tubuh.doc
13. Muhammad Nashiruddin Al Albani - Silsilah hadits shahih - I-bag 1.pdf
14. Muhammad Nashiruddin Al Albani - Silsilah hadits shahih - I-bag 2.pdf
15. MenghapalAl-QuranYusuf Qardhawi.zip
16. Kumpulan_hadist_sahih.zip
17. Keutamaan_Membaca_dan_Mengkaji_Al-Quran.pdf
18. Imam Nawawi - Riyadhus Salihin 1.pdf
19. Imam Nawawi - Riyadhus Salihin 2.pdf
20. Hadits_untuk_pegangan_sehari_hari.zip
21. HaditsArba'inAn-Nawawi 1.CHM
23. Dr. T. Djamaluddin - Kajian_Ayat_Kauniyah-1.ppt
24. Dr. T. Djamaluddin - Kajian_Ayat_Kauniyah-2.ppt
25. Dr. T. Djamaluddin - Kajian_Ayat_Kauniyah-3.ppt
26. Dr. T. Djamaluddin - Kajian_Ayat_Kauniyah-4.ppt
27. Ayat-Ayat Tentang Sedekah.Doc
28. Ayat-Ayat Tentang Kebersihan.Doc
29. Al-Quran_Mujizat Nabi saw.pdf
30. Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur'an & As-Sunnah.pdf
32. Quraish Shihab - Ayat Ayat Fitna.pdf
33. Adab Belajar, Mengajar, Membaca & Menghafal Al-Qur'an.doc
34. Abdul Muhsin Al Qasim - Cara Praktis Menghafal Quran.pdf
35. Doa Memohon Anak Shaleh (dari al quran).pdf
36. Ilmu_Tafsir.Pdf
37. Keajaiban Al-Qur'an.chm
38. Al Ahkam - 100 Hadis Palsu.pdf
39. Menghafal-NamaNama-Surah-AlQuran.pdf
40. 76 Karakter Yahudi dalam Quran.pdf
41. Tafsir-Ibn-Katsir-Surat-ArRad.txt
42. Al Quran & Rahasia Angka2.chm
43. Langkah-langkah atau Metoda Menghafal Al-Quran.doc
44. Wahfiudin - Al Qur'an.ppt
45. Syarah Arbain Nawawiyah Ibnu DaqiqiIeq.zip
46. Bukhari Vol1.jar
47. 4 Istilah Dalam Al Qur'an
48. Ibnu hajar_fathul bari_1_indonesian
49. Ibnu hajar_fathul bari_2_indonesian
50. Ibnu hajar_fathul bari_3_indonesian
51. Ibnu qayyim al jauziyah - bekal perjalanan ke akherat - zadul maad 1
52. Ibnu qayyim al jauziyah - bekal perjalanan ke akherat - zadul maad 2
53. Ibnu qayyim al jauziyah - bekal perjalanan ke akherat - zadul maad 3
54. Ibnu qayyim al jauziyah - bekal perjalanan ke akherat - zadul maad 4
55. Ibnu qayyim al jauziyah - bekal perjalanan ke akherat - zadul maad 5
56. Studi kritis pemahaman islam
57. Hamka-tafsir al azhar juz 30
58. Ilusi-negara-islam
59. Dajal dan simbol setan_tototasmara
60. Al-itisham_imam asy-syatibi
61. Dosa dosa besar
62. Qadha dan qadar_ibn qayyim

2. Aqidah dan Tauhid

1. Tauhid  asmaul husna
2. Syarah_aqidah_al_wasthiyah.chm
3. Dasar-dasar aqidah menurut ulama salaf.pdf
4. Rahasia dibalik kalimat tauhid.zip
5. Muhammad At-Tamimi - Dasar Memahami Tauhid
6. Aqidah_ahlus_sunnah.chm

3. Bahasa Arab

1. Pengantar Mudah Belajar Bahasa Arab.pdf

4. Bulughul Marom

1. Bulughul maram .PDF
2. Bulughul_Maram.Chm

5. Dinul Islam

1. Tentang keabadian neraka
2. Sistem masyarakat islam yusuf qardhawi
3. Studi kritis pemahaman islam
4. Soal Jawab Agama
5. Meluruskan kerancuan istilah syariat
6. Nama bayi islam.pdf
7. Mengenal_islam.zip
8. Agama islam.pdf
9. Agama_demokrasi.doc
10. Fktn-ui ad diinul islam.pdf
11. Beberapa studi tentang islam
12. Salah Faham Terhadap Islam - Syed Qutb...pdf
13. Pengertian agama islam

6. Doa & Dzikir

1. Kumpulan_doa_sehari_hari.zip
2. Hakikat Doa.zip
3. Dzikrullah - Abu Sangkan.Pdf
4. Doa_Cara_Adab_Waktu.doc

7. Fatwa

1. Kumpulan Fatwa Al Qardhawi
2. Fatwa Kontemporer
3. Hukum Berdamai Dengan Yahudi

8. Fiqh

1. Fiqh Aqalliyat (Minoriti)
2. Fiqih Zakat
3. Pengaruh Aktivitas Seksual Terhadap Ibadah.pdf
4. Fiqh Al-Sirah 1
5. Fiqh Zakat
6. Fiqh Prioritas
7. Fiqh Sunnah
8. Fiqih_Quran_Hadist.Zip
9. Kajian Fiqih Zakat Fitri.pdf
10. Prinsip Ilmu Ushul Fikih

9. Haji & Umrah

1. Petunjuk Haji dan Umroh.pdf
2. Manasik Haji dan Umrah.zip
3. Haji & Umrah Seperti Rasulullah.pdf
4. Haji Ifrad.doc
5. Yakhyallah Mansur.pdf

10. Ramadhan

1. Marhaban Ramadhan
2. Nasehat Rasulullah menyambut Bulan Ramadhan
3. Bekal Ramadhan
4. Risalah Ramadhan.pdf
5. Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitri dengan Uang.doc
6. Risalah Ramadhan.pdf
7. Pendidikan Ramadhan.pdf
8. Panduan Ibadah Ramadhan.pdf
9. Pendidikan Ramadhan.pdf
10. Panduan Ibadah Ramadhan.pdf

11. Rasulullah SAW

1. Sifat-Sifat Rasulullah SAW
2. Rumah_Nabi saw_Sejarah.pdf
3. Dibalik kehidupan Rasulullah.pps
4. Sehari di Kediaman Rasulullah saw.zip
5. Menguak Misteri Muhammad.pdf
6. RahmanAl-Mubarakfury

12. Rumah Tangga Islami

1. Tata cara pernikahan dalam islam
2. Tatanan rumah islami
3. Bekal pernikahan.pdf
4. Adab pengantin dan pergaulan suami-isteri.rtf
5. [kado pernikahan] menjadi pasangan paling berbahagia.doc
6. Pinangan - adab pernikahan islami.pdf
7. Do'a memasuki kamar pengantin untuk pertama kali.doc
8. Keluarga samara.ppt

13. Sejarah Islam

1. Sejarah Islam sesudah Rasulullah
2. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

14. Sholat

1. Tips Bangun Malam Shalat Tahajjud
2. Sholat Khusyu
3. Shalat & kesehatan.doc
4. Shalat Khusyu_AbuSangkan.pdf
4. Shalat-tasbih.pdf
5. Koreksi kekeliruan praktek ibadah sholat
6. Potret_Sholat_Jamaah_dlm_Khdpn_Salaf
7. Mukjizat Gerakan Sholat
8. Filsafat Sholat.ppt
9. Ketika Engkau bersembahyang
10. Doa_Shalat_Taubat
11. Tahajjud dan kesehatan

15. Sunnah dan Bid`ah

1. Sunnah & Bid'ah
2. Ushulus Sunnah
3. Rifqon_Ahli_sunnah_bi_Ahli_sunnah

16. Syahid dan Jihad

1. Yang Tegar Di Jalan Jihad
2. Cara Tepat Mati Syahid.pdf
3. Jawaban Seputar Masalah-masalah Jihad.pdf
4. Tiada Khilafah Tanpa Tauhid & Jihad
5. Panduan Fikih Jihad
6. Kedudukan Tauhid & Jihad
7. Kepada Mereka Yang Buron dan Tertawan
8. Syahid_Jumpa Rasulullah saw_dll

17. Tasawuf

1. Tasawuf Belitan Iblis Karya Hartono Ahmad Jaiz
2. Tasawuf pluralisme dan pemurtadan karya Hatono Ahmadi Jaiz
3. Ashaari Muhammad - Sajak Tasawuf.pdf
4. Imam Suhadi - Tasawuf for Beginner.pdf
5. Mahkota sufi.pdf

18. Zakat

1. Syarat wajib dan cara mengeluarkan zakat mal
2. Hukum dan zakat yusuf qardhawi.zip
3. Membangun kesadaran berzakat.doc
4. Yusuf al qaradhawy - hukum-hukum zakat
5. Bagaimana kita berzakat.doc

19. Biografi

1. (Wafat 340 H) Abu Ishaq Al-Marwazi.pdf
2. (Wafat 345 H) Ibnu Abi Hurairah.pdf
3. (Wafat 1004 H) Imam Ar-Ramli.pdf
4. (Wafat 1132 H) Habib 'Abdullah ibn 'Alwi Al-Haddad.pdf
5. (Wafat 1227 H) Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.pdf
6. (Wafat 1265 H) Sheikh Daud Abdullah Fathani.pdf
7. (Wafat 1304 H) Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.pdf
8. (Wafat 1331 H) SYEIKH WAN ALI KUTAN.pdf
9. (Wafat 1314 H) Syeikh Nawawi Banten.pdf
10.(Wafat 1345 H) Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi .pd
11. (Wafat 264 H) Al-Muzani .pdf
12. (Wafat 270 H) Ar-Rabi'i bin Sulaiman Al-Muradi .pdf
13. (Wafat 1413 H) Mufti Haji Ismail Omar.pdf
14. (Wafat 1400H) K.H Sirajuddin 'Abbas.pdf
15. (Wafat 1333 H) Saiyid Utsman Betawi.pdf
16. (Wafat 1350 H) Yusuf bin Isma`il al-Nabhani.pdf
17. (Wafat 277 H) Abu Hatim Ar-Razi.pdf
18. (Wafat 238 H) Ishaq bin Rahuyah.pdf
19. (Wafat 240 H) Muhammad bin Syafi'i.pdf
20. (Wafat 243 H) Harmalah At-Tujibi.pdf
21. (Wafat 245 H) Al-Karabisi.pdf
22. (Wafat 250 H) At-Tujibi.pdf
23. (Wafat 256 H) Imam Bukhari.pdf
24. (wafat 260 H) Az-Za'farani.pdf
25. (Wafat 268 H) Ahmad bin Syayyar Al-Marwazi.pdf
26. (Wafat 275 H) Abu Daud.pdf
27. (Wafat 280 H) Ad-Darimi.pdf
28. (Wafat 295 H) Imam Abu Ja'far At-Tirmizi.pdf
29. (Wafat 303 H) An-Nasa'i.pdf
30. (Wafat 305 H) At-Tobari.pdf
31. (Wafat 306 H) Ibnu Surej.pdf
32. (Wafat 324 H) 'Abdullah bin Muhammad Ziyad An-Nisaburi.pdf
33. (Wafat 335 H) Ibnu Qasi.pdf
34. (Wafat 337 H) As-Su'luki.pdf
35. (Wafat 362 H) Abu Sa'ib Al-Marwazi.pdf
36. (Wafat 363 H) As-Sijistani.pdf
37. (Wafat 365 H) Al-Qaffal Al-Kabiir.pdf
38. (Wafat 375 H) Ad-Dariki.pdf
39. (Wafat 381 H) Ibnu Abi Hatim.pdf
40. (Wafat 458 H) Al-Baihaqi.pdf
41. (Wafat 548 H) Syahrastani.pdf
42. (Wafat 606 H) 'Izzuddin bin 'Abdissalam.pdf
43. (Wafat 794 H) Zarkasyi.pdf
44. (Wafat 974 H) Ibnu Hajar Al-Haitami.pdf
45. (Wafat 1418 H)Dato' Kiyai Shamsuddin.pdf
46. (Wafat 1427 H) K.H.M. Syafi`i Hadzami.pdf
47. (Wafat 973 H) Imam Syarani , Pemadu Ilmu Kasbi dan Laduni.pdf
48. (Wafat 1409 H) Syeikh Muhammad Idris Al-Marbawi
49. (Wafat 675 H) Syeikh Ahmad Badawi
50. (Wafat 219 H) Al Humaidi